Tahun Depan, PNM Jaga NPL Sebesar 3,5%

Dampak Kenaikan BBM

Selasa, 18/11/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun belum ada kepastian pemerintah kapan rencana bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bakal naik, namun kondisi ini sudah membuat dampak bagi kenaikan harga sembakon di pasar. Namun yang pasti, dibalik kenaikan harga BBM nanti akan berpotensi memicu peningkatan kredit macet atau non performing loan (NPL) bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Namun kondisi tersebut, kata Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Parman Nataatmadja, sudah diantisipasi perseroan dengan manajemen risiko yang handal, penguatan divisi operasional, SDM dan koleksi lebih diaktifkan. Oleh karena itu, perseroan menyakini target NPL tahun depan sebesar 3,5% bisa terjaga, “Target NPL tahun depan 3,5% bisa terjaga dan ini dibawah dari NPL industri UMKM,”katanya di Jakarta, Senin (17/11).

Menurutnya, kenaikan BBM dinilai tidak menjadi masalah bagi pelaku usaha UMKM. Pasalnya, sebelum BBM naik harga sudah dinaikkan dua kali lipat. Bahkan dirinya menyakini, kenaikan BBM ini tidak akan mempengaruhi daya saing yang cukup tinggi terhadap pelaku usaha UMKM.

Sementara Komisaris Utama PT PNM, Prasetijono Widjojo mengakui, kenaikan BBM akan memberikan pengaruh. Namun tidak secara signifikan dengan alasan pengalaman krisis tahun 1998 membuktikan pelaku usaha UMKM menjadi bantalan terhadap krisis ekonomi, “Kenaikan BBM akan memberikan shock dua sampai tiga bulan dan bukan jangka lama,”ungkapnya.

Tahun depan, PNM menargetkan pembiayaan sebesar Rp 3,7 triliun dengan terus agresif menambah Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) sebanyak 30 unit kantor ULaMM. Sampai dengan Oktober, pembiayaan PNM tercatat sebesar Rp 2,6 triliun dan diyakini target akhir tahun sebesar Rp 2,8 triliun bisa terealisasi.

Kemudian Parman menambahkan, pihaknya masih konsisten menagih janji pemerintah untuk penyertaan modal kepada PNM yang saat ini belum ada kelanjutannya, “Kita masih konsisten menagih pemerintah untuk menyertakan modalnya kepada PNM untuk memperkuat likuiditas,”tandasnya.

Sebagai informasi, sejak 14 tahun berdirinya PNM, pemerintah berencana memberikan penyertaan modal atau suntikan modal sebesar Rp 1,2 triliun. Namun hingga saat ini, baru terealisasi sebesar Rp 300 miliar. Oleh karena itu, menyiasati tingginya permintaan modal dari pelaku UMKM, PNM memilih mencari pendanaan di pasar modal dengan menerbitkan Obligasi berkelanjutan.

Disebutkan, perseroan menerbitkan total obligasi berkelanjutan sebesar Rp 2 triliun dan tahap pertama yang diterbitkan sebesar Rp 500 miliar. Dimana hasil dana penerbitan obligasi, sekitar 80% akan digunakan untuk modal kerja berupa pembiayaan usaha mikro dan kecil dan sisanya sekitar 20% akan digunakan untuk bayar utang komersial atau refinancing bank.

Bertindak sebagai penjamin emisi, PT Indo Premier Securities dan PT Bahana Securities. Perseroan menawarkan kupon bunga obligasi dari 9,25% hingga maksimal 10,75%. Disebutkan pula, guna meningkatkan modal kerja, PNM berencana menawarkan saham perdananya atau initial public offering (IPO) pada tahun 2017 dan 2018. Rencananya, saham yang bakal dilepas perseroan sebanyak 30% dengan tunjuan untuk pembiayaan UMKM yang memiliki outstanding sebesar Rp 9 triliun. (bani)