Sosok Terpilih Harus Kuasai Pemasaran dan Keuangan

Calon Direktur Utama PT Pertamina (Persero)

Selasa, 18/11/2014
NERACA Jakarta - Jabatan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) hingga kini belum terisi. Tenggat waktu penentuan pun semakin dekat, yaitu 30 November 2014. Saat ini muncul tujuh kandidat nama yang sedang dilakukan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) oleh pemerintah yang tentunya bakal mengkerucut kembali.Pendiri Forum Legislasi Nasional,Juliaman F Saragih, tidak menampik bahwa dari tujuh orang kandidat tersebut, tentu ada yang pro dan kontra. Namun begitu, kata dia, ujung tombak Pertamina sejatinya harus sosok yang konsisten dan fokus dalam menstabilkan ritme seluruh lini perusahaan pelat merah itu. Mulai dari pemasaran, perniagaan, pengolahan dan keuangan. Pasalnya, hal tersebut merupakan satu-kesatuan yang harus dimiliki direktur utama Pertamina. “Saya ingin menekankan kalau kita jangan hanya bicara jabatan direktur utama saja. Karena di sisi lain, posisi direktur pemasaran dan niaga serta pengolahan harus masuk dalam kriteria dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sosok direktur utama yang baru,” jelas Juliaman di Jakarta, Sabtu (15/11), pekan lalu. Lebih jauh dirinya memaparkan, seorang direktur utama Pertamina, apabila tidak ditopang oleh sosok yang mengerti betul sektor pemasaran, niaga, dan pengolahan yang cakap dan handal, tentu Pertamina ke depan akan semakin tertinggal jauh. “Kita ini mau mendirikan kilang minyak sesuai dengan janji Presiden Joko Widodo dan akan membenahi tata kelola pengolahan, hulu dan pemasaran serta pendistribusian,ya, pemerintah harus mampu memilih sosok-sosok yang mampu dan memiliki latar belakang bidang tersebut,” tegasnya. Dalam kesempatan terpisah, dua dari tujuh calon ‘Pertamina-1’ yakni Jaya Martapa dan Hanung Budya, berhasil di wawancara dan berikut rangkumannya. Konsp P2D Mantan petinggi Shell, CEO Fortune Energy Singapore Trading, dan Konsultan Lepas Migas Singapura, Jaya Martapa, mengaku siap apabila terpilih dan berusaha mengembalikan pertamina menjalankan fungsi aslinya lebih baik lagi, yaitu perusahaan yang bertekad untuk pemenuhan minyak dan gas di Indonesia. Pertamina harus lebih berkonsentrasi mencari sumber minyak dan gas yang baru sehingga pemenuhan kebutuhan masyarakat atas bahan bakar minyak akan terpenuhi."Pertamina harus eksplorasi atau pencarian sumber-sumber minyak baru di Indonesia. Dengan konsumsi minyak dan gas yang tinggi maka perlu adanya terobosan dengan mengeksplorasi pencarian ladang minyak non-konvensional seperti laut dalam," kata Jaya di Jakarta.

Dia pun mengutarakan Pertamina harus memperhatikan sektor hulu migas untuk menaikkan produksi minyak dan gas. Dibutuhkan penemuan lapangan migas baru sehingga tidak ingin selalu bergantung pada sumur-sumur migas yang telah berusia lanjut.

"Pertamina harus mulai eksploitasi Sumur Migas Baru. Melalui eksploitasi sumur migas yang baru maka diharapkan kita produksi minyak bisa meningkat dengan dioperasikannya sumur migas baru tersebut," ujarnya.

Pertamina, sambung Jaya, juga harus meningkatkan investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi guna mendukung upaya pemerintah meningkatkan ketahanan energi. Peningkatan investasi ini sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan bisnis hulu. Dia pun mengutarakan Pertamina harus memperhatikan sektor Pemasaran dengan memperhatikan konsep P2D atau "People - Product - Distribution" yang merupakan kunci dari effektivitas sektor pemasaran. People, imbuh Jaya, harus dilakukan kompetensi asesmen secara menyeluruh untuk mendapatkan sumber daya manusia pemasaran yang benar-benar mumpuni. Product, harus dilakukan kerja sama yang baik dengan sektor pengolahan untuk bisa memberikan input tentang kekurangan produk yang terjadi di pasar, sektor pemasaran akan melakukan penyempurnaan terhadap kelemahan-kelemahan tersebut. Distribution, dilakukan revitalisasi tempat-tempat penyimpanan BBM dan gas dan juga alat trasportasi sehingga bisa didapakan distribusi yang paling efektif. Meski begitu, Jaya mengaku bahwa dirinya pernah berpartner sekaligus juga pernah menjadi pesaing dari Pertamina sehingga mengetahui kinerja dari Pertamina tersebut di mana perusahaan ini dianggap mempunyai kinerja yang bagus. Melihat kinerja Pertamina yang bagus ini maka perusahaan ini dianggap akan bisa bersaing dengan negara-negara asia tenggara, bahkan di Asia. "Hal itu bisa dicapai dengan meningkatkan produksi minyak dan gas dengan menemukan sumur atau ladang minyak dan gas yang baru, sedangkan ladang minyak yang lama bisa dilakukan efisiensi," tutur dia. Pengekspor minyak

Jaya pun menjelaskan Pertamina diharapkan menjadikan Indonesia negara pengekspor minyak sehingga konsumsi dalam negeri dapat terpenuhi. Indonesia harus dijadikan negara pengekspor minyak dan bukanlah menjadi negara importir.

"Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara stakeholder terkait dan masyarakat untuk menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor minyak seperti yang pernah kita lakukan pada masa lalu," ungkap dia.

Dia pun mengatakan ketika Indonesia yang semula tergabung dalam negara pengekspor minyak (OPEC) berbalik menjadi negara pengimpor minyak lebih dikarenakan konsumsi BBM yang lebih besar dari produksi. Namun, hal ini tidak dapat disalahkan dan Indonesia harus meningkatkan produksi minyak lebih banyak lagi sehingga mempunyai pasokan yang cukup bagi kebutuhan konsumsi BBM masyarakat dan lebih mengefektifkan program konversi dari BBM ke gas. Terkait dengan mafia migas, Jaya menuturkan bahwa dirinya tidak berkompetensi untuk menjawab hal tersebut. “Asian Energy Champion Asia” Sementara Hanung Budya, merupakan satu nama yang paling santer disebut-sebut sebagai calon kuat direktur utama Pertamina. Saat ini dia menjabat sebagai Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina. Ketika ditanya perihal menjadi orang nomor satu di perusahaan migas pelat merah ini, dirinya enggan menjawab banyak. "Mengenai itu (Direktur Utama Pertamina) sayano comment,” ungkapnya. Namun, mantan Direktur Utama Petral ini berujar bahwa berlandaskan kinerja perusahaan selama ini, Pertamina menyatakan siap menjadi Asian Energy Champion Asia pada 2025 mendatang. Menurut Hanung, peranan National Oil Company dalam penguasaan energi memainkan peranan penting dan sangat strategis. "Kondisi ini menjadi peluang bagi Pertamina, sebagai National Energy Company Indonesia untuk terus meningkatkan peran dan kiprahnya, tidak hanya sebagai ujung tombak ketahanan energi nasional, tetapi juga sebagai pelaku utama bisnis energi di tataran regional dan global," ungkapnya.

Menurut dia, Pertamina telah menunjukkan komitmen yang tinggi untuk mencapai cita-cita sebagai World Class Energy Company dan dapat berdiri sejajar dengan perusahaan global. "Untuk itu, Pertamina akan lebih ekspansif menjalankan bisnis di masa mendatang, tidak hanya di dalam negeri, melainkan juga luar negeri,” tuturnya.

Hanung juga menjelaskan Pertamina juga bertekad untuk terus menjadi pemain utama dalam penyediaan gas bumi di Indonesia melalui penyelesaian berbagai proyek infrastruktur gas bumi. Sementara itu, di bisnis hilir, Pertamina terus memperkokohkan posisinya sebagai tulang punggung bagi penyediaan energi di Tanah Air. “Saat ini ada sekitar 1.600 kilometer pipa transmisi BBM yang tertanam di bawah tanah. Demi menjamin seluruh penduduk Indonesia berhasil terjamah tangan Pertamina,” tandas dia. [ardi]