MEA, Ajang UKM Go Regional

NERACA

Jakarta - Implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 memberi kesempatan kepada pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia untuk go regional. "Bila sejumlah pelaku usaha kecil menengah (UKM) khawatir dengan MEA, saya justru melihat MEA dapat memberi kesempatan UKM Indonesia untuk go regional'. Namun, harus didahului dengan persiapan yang matang," kata Head of Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia untuk Bisnis UKM, Denny Setiawan Hanubrata, di Jakarta, Senin (17/11).

Menurut dia, sebuah bisnis boleh saja dimulai dari UKM di tingkat lokal maupun nasional. Namun dalam pengembangannya, melangkah ke persaingan di kawasan regional ASEAN bahkan Asia, bukanlah mimpi yang tidak bisa diraih. Denny juga menyebutkan, setidaknya ada tiga langkah strategis yang harus dipertimbangkan UKM untuk dapat go regional, yaitu efisiensi bisnis, pengembangan bisnis berdasarkan karakteristik pasar dan dukungan teknologi perbankan.

Berbisnis di sejumlah negara di Asia menuntut pemain untuk mengatur cashflow, pemasokan barang dan rantai distribusi yang jauh lebih baik. Bila tidak, maka hal tersebut dapat memangkas modal kerja perusahaan. Berdasarkan riset Atradius Payment Practices Barometer yang diadakan DBS pada November 2013, lebih dari separuh responden di masing-masing negara yang di survei (Singapura, Hong Kong, Cina, India, Taiwan dan Indonesia) setuju bahwa cashflow adalah permasalahan terbesar untuk meningkatkan profit dan memperbaiki produktivitas.

Pebisnis harus selalu jeli dan terbuka untuk mencoba berbagai metode pendekatan yang baru dalam mengukur efisiensi bisnis. Perusahaan perlu menganalisa rantai pemasokan barang dan keuangan, lalu melakukan analisa perbandingan (benchmarking) dengan dengan industri.

Langkah ini dapat membantu pebisnis UKM mengurangi biaya perbankan dan membuat cashflow lebih lancar sehingga produktivitas dapat tumbuh secara signifikan. Terkait pengembangan bisnis berdasar karakterisktik pasar, menurut Denny, pasar Asia, meski memiliki berbagai kesamaan, namun juga memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Mulai dari minat pasar atas barang tertentu, berbagai regulasi yang berlaku, hingga ke kebutuhan operasional yang berbeda. Oleh karena itu, jaringan bisnis yang baik haruslah disusun untuk dapat membantu memahami intrik dan minat pada masing-masing pasar. Misalnya, salah satu klien kami yang bergerak di bidang consumer goods.

“Mereka melihat bahwa pasar di Singapura sangat berbeda dengan pasar di Malaysia dan Indonesia. Di setiap pasar tersebut, klien kami memiliki produk unggulan yang berbeda,” kata Denny.

Digital mobile

Sementara mengenai teknologi perbankan, Denny mengatakan di era yang serba digital, kecepatan bertransaksi sudah menjadi kebutuhan utama. Bila sebelumnya berbagai transaksi perbankan harus dilakukan di cabang, maka kini bisa dilakukan melalui berbagai perangkat mobile.

”Fungsinya pun sudah semakin lengkap. Misalnya, kini melakukan tukar mata uang asing dapat dilakukan tanpa melalui bantuan Relationship Manager (RM). Pengajuan Letter of Credit dan penempatan deposito juga tidak lagi perlu dilakukan di cabang,” ujar Denny.

Dengan teknologi perbankan ini, klien pun akan lebih mudah melakukan transaksi bisnis di mana pun mereka berada. Sehingga walaupun pebisnis sedang sibuk menjalankan bisnis di negara lain, kegiatan bisnis di Indonesia tetap dapat dikendalikan. Menurut Denny, ketiga pertimbangan di atas dapat membantu UKM dalam menentukan dan merencanakan langkah bisnisnya untuk maju ke arena kompetisi di tingkat regional. [ardi]

Related posts