Uni Eropa Tawarkan Pasar Ekspor ke Indonesia

Senin, 17/11/2014

NERACA

Jakarta - Uni Eropa berencana mengajak Indonesia untuk memperkuat kerja sama perdagangan dengan menyebutkan bahwa negara-negara yang tergabung dalam persatuan tersebut akan menjadi pasar ekspor yang potensial bagi Indonesia. "Kami melihat secara ekonomi makro, neraca perdagangan Indonesia sedang defisit karena impor yang lebih besar daripada ekspor. Oleh karena itu, kami menawarkan pasar ekspor untuk Indonesia," kata Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam dan ASEAN Olof Skoog di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam konferensi pers mengenai pelaksanaan Dialog Bisnis Uni Eropa-Indonesia (European Union-Indonesia Business Dialogue/EIBD) kelima pada 19 November 2014 di Jakarta. Olof mengatakan bahwa penguatan hubungan perdagangan antara Indonesia dan Uni Eropa merupakan suatu langkah yang menguntungkan bagi kedua pihak.

Hal itu, menurut dia, karena jumlah negara-negara anggota Uni Eropa yang relatif tidak sedikit dapat menjadi pasar tujuan ekspor terbesar bagi Indonesia. "Indonesia akan memperoleh pasar yang lebih luas di Eropa, di mana pasar itu jauh lebih besar dari pasar di Tiongkok dan India. Kami (Eropa) adalah pasar ekspor terbesar untuk Indonesia. Sebagai contoh, Eropa merupakan pasar terbesar untuk minyak sawit asal Indonesia," tambahnya.

Selain itu, kata Olof, dengan rencana Presiden Joko Widodo yang menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar tujuh persen, maka Indonesia memerlukan impor untuk mendongkrak produk domestik bruto. "Kami melihat Presiden Widodo mengincar pertumbuhan ekonomi sebesar tujuh persen. Indonesia akan butuh banyak impor untuk mendongkrak produk domestik bruto, padahal Indonesia sedang mengalami defisit neraca perdagangan," tuturnya.

Ia mengatakan bahwa Uni Eropa menawarkan pasar ekspor bagi Indonesia agar neraca perdagangan bisa membaik dan target pertumbuhan ekonomi tujuh persen itu bisa tercapai. Duta Besar Uni Eropa itu juga berpendapat bahwa Indonesia tetap memerlukan impor untuk meningkatkan kualitas produksi dan pembangunan, karena Indonesia masih banyak tergantung pada bahan baku impor dan perkembangan teknologi dari luar.

"Indonesia tetap memerlukan impor, misalnya untuk mendapatkan teknologi terbaik untuk meningkatkan infrastruktur dan berbagai hal lainnya. Dengan peningkatan kualitas, Indonesia bisa mendapatkan pertumbuhan (ekonomi) yang berkelanjutan," jelasnya. Olof menyebutkan, dalam Dialog Bisnis Uni Eropa-Indonesia pada 19 November nanti, komunitas bisnis Uni Eropa akan membahas rencana penguatan kerja sama perdagangan dan rencana investasi dengan pemerintah Indonesia.

Konferensi EIBD 2014 ini diselenggarakan oleh Uni Eropa-Indonesia Business Network (EIBN) dan komunitas bisnis Indonesia, seperti Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Pelaksanaan EIBD 2014 juga didukung oleh lima kamar dagang Eropa di Indonesia, yaitu BritCham, EKONID, EuroCham, IFCCI, dan INA.

Olof menyampaikan bahwa dialog EIBD akan difokuskan untuk membahas lima sektor strategis, yaitu Otomotif; Pertanian, makanan dan minuman; Infrastruktur, kelautan dan logistik; Farmasi dan kosmetik; serta Energi dan energi terbarukan. "Seperti kita ketahui bersama, sebagian dari titik fokus EIBD ini juga merupakan agenda penting program Kabinet Kerja pemerintah Indonesia periode 2014-2019," ujar dia.

Beberapa waktu lalu, Duta Besar Portugal untuk Indonesia, H.E. Mr. Carlos Frota sempat menyatakan bahwa Uni Eropa merupakan pasar potensial bagi pengembangan bisnis di hampir segala bidang karena di dalamnya terdapat negara-negara maju yang bisa menjadi mitra bisnis dan sumber investasi. Saat ini globalisasi menjadi media penghubung antara negara seperti Indonesia untuk bisa memasuki Uni Eropa.

Portugal sebagai salah satu negara Uni Eropa telah menjelajah dan bersiap menjalin kerja sama dengan Indonesia. "Ketika berbicara tentang globalisasi, kita tidak hanya akan berbicara tentang ekonomi tapi lebih dari itu, " ujar Carlos.

Carlos menjelaskan pentingnya menjaga hubungan baik untuk menjamin keberlanjutan kerjasama bisnis antar negara. Dalam kesempatan tersebut pun Carlos mencoba untuk memberikan pemahaman kepada para peserta kuliah umum bahwa Indonesia harus berusaha membuka diri kepada dunia luar sehingga bisa ikut andil dalam globalisasi.

Ia menambahkan keramahtamahan yang selama ini menjadi ciri khas Indonesia harus dapat dibawa ke ranah internasional karena dalam dunia bisnis yang bersifat global, perdamaian dengan dilandasi saling percaya dan jaminan keamanan adalah dua yang utama. Dalam hal ini Portugal ingin mulai membangun kerja sama dengan Indonesia di segala bidang yang potensial.

Dalam paparannya, Dubes Portugal untuk Indonesia ini mengatakan hubungan Indonesia – Portugal telah ada sejak abad 15 silam. Walaupun pada masa lalu terjadi sesuatu yang dirasa merugikan bangsa Indonesia, tapi itu jangan dijadikan suatu penghalang bagi kedua negara untuk menjalin kerja sama. "Negara Portugal dengan orang-orang di dalamnya selalu terbuka dengan negara mana pun termasuk Indonesia, karena persahabatan yang terjalin erat akan menjadikan segala hal menjadi lebih mudah," tambahnya.