Pengembangan IKM Tidak Boleh Sepotong-Potong

Industri Kecil dan Menengah

Senin, 17/11/2014

NERACA

Rote Ndao – Pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) tidak boleh dilakukan dengan program yang sepotong-potong. Hal itu dikemukakan oleh Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Euis Saedah di sela-sela mendampingi Menteri Perindustrian Saleh Husin pada kunjungan kerja ke workshop industri tenun ikat di Dekranasda Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Jumat (14/11).

“Saya ingin program yang ada di wilayah timur khususnya di Rote Ndao itu tidak sepotong-potong. Tidak hanya pelatihan lalu dilepas. Kita akan mulai dari awal. Orangnya dipilih yang memang punya semangat (passion), punya kebisaan, pada pembuatan sesuatu, apakah tenun, apakah makanan, apakah garam. Setelah masuk di situ, kita akan coba dikelompokkan menjadi lembaga yang lebih kuat sehingga nanti bisa bisnisnya mengelompok, jadi komunitas kecil (micro community) sehingga mereka ada kebanggan,” ujar Dirjen Euis.

Dia mengatakan, pihaknya selalu mengajak duduk bersama dalam meningkatkan daya saing industri kecil di daerah. “Ayo duduk sama-sama. Jadi memang sejak awal kita bekerja dengan focus group discussion (FGD). Semua pihak duduk, semua pihak sepakat dengan sesuatu. Jangan sampai, kalau pusat membuat program, tidak merasa dimiliki oleh daerah. Kalau sudah sepakat antara pusat, daerah, akademisi, perusahaan, kita susun, nggarannya berapa, rentetannya apa,” urai Euis.

Hal penting lainnya, lanjut Euis, adalah soal kemampuan produksi IKM bersangkutan. “Kemudian kuantitas produksi. Harus cukup untuk kesejahteraan. Kita akan dampingi, kita akan dukung terus. Lalu kualitas harus bagus dan meningkat. Dan kontinuitas, tidak berhenti. Ini tidak sulit, asal ada keinginan semua pihak untuk mengerjakannya dengan serius,” jelasnya.

Apalagi, untuk pengembangan IKM, menurut Euis, pihaknya sudah menyiapkan aturan, perangkat dan sumber daya manusia yang kompeten. “Aturan permainan sudah ada. Prosedur, segala sesuatunya sudah ada. Dan perangkat pasukan saya sudah siap. Sebetulnya tidak ada yang sulit. Yang ada adalah semua serba terbuka, semua serba dengan hati bekerjanya,” lanjut Dirjen.

Dia pun menjamin bahwa pasar produk IKM sangat besar. “Penduduk kita 250 juta orang. Saya juga bangga melihat anak-anak SD, mereka memakai rompi dari tenun. Ini tahap awal pemasaran, kalau ada pameran, kita ajak Rote. Selama ini Rote belum pernah ikut. Setelah kita ajak, ternyata banyak yang mengagumi. Ternyata Rote punya keunikan tersendiri. Pasti ada pasarnya. Kalau tidak, tidak akan tumbuh terus dong. Itu pasti ada pasarnya,” paparnya.

Khusus dalam rangka menghadapi pasar bebas dalam ajang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015, Dirjen Euis yakin produk dengan kearifan lokal seperti tenun ikat justru akan mampu bersaing. “Karena MEA itu yang kita takutkan yang produksinya massal (mass production) atau bisa diproduksi oleh orang lain yang mereka bisa lebih murah biayanya, kualitasnya, pelayanannya. Tetapi kalau hal-hal yang kita bisa punya kekhasan sendiri, yang tidak dimiliki oleh orang lain, ya kita tidak usah takut, tidak ada yang sama, seperti di Rote ini. Itulah daya saing kita, keunikannya, icon dari masing-masing daerah. Ada yang tidak bisa disamai atau ditiru. Kita selalu kerjasama dengan desainer. Kain tenun Rote sekarang ini dibawa ke Berlin, Jerman, untuk diperkenalkan kepada dunia. Bahwa di Indonesia ada kearifan lokal,” tegasnya.