Regulator Perlu Berikan Sanksi Lebih Keras

Buruknya Kinerja BUMI

Senin, 17/11/2014

NERACA

Jakarta – Pada prinsipnya dalam berinvestasi saham, menjaga kepercayaan investor menjadi hal penting yang harus diperhatikan agar minat investor berinvestasi tetap besar dengan menunjukkan kinerja keuangan yang positif. Namun lain halnya yang dialami manajemen PT Bumi Resources Tbk, justru mulai ditinggalkan para investor karena kepercayaan pemegang saham terkikis akibat beban utang yang besar, penundaan bayar obligasi dan kinerja keuangan yang merugi.

Akhir pekan kemarin saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena terjadi penurunan harga yang signifikan. Saham perseroan juga mengalami peningkatan aktivitas transaks di luar kebiasaan dibandingkan periode sebelumnya (unusual market activity),”BEI telah meminta konfirmasi kepada perusahaan tercatat pada 12 November 2014. Sampai dengan saat ini, bursa masih menunggu jawaban dari perseroan," jelas Ka. Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Irvan Susandy kemarin.

Informasi terakhir yang dipublikasikan oleh bursa melalui pengumuman di IDX Net mengenai penjelasan atas penundaan pembayaran bunga obligasi hingga akhir 2014. Maka sehubungan dengan terjadinya UMA atas saham BUMI tersebut, pihak bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham grup Bakrie ini.

Tentunya kondisi ini menjadi tantangan dan kerja keras bagi perseroan untuk memulihkan kepercayaan investor dengan membuktikan kinerja keuangan yang bersih dan positif. Bagi analis PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, menyayangkan BEI yang memutuskan langkah pengawasan terhadap saham BUMI. Pasalnya nilai sudah mengalami penurunan di luar kewajaran”Ini kan kalau dilihat price BUMI dari harga Rp8.000, sekarang tinggal 100 artinya ada something wrong terhadap BUMI," tuturnya.

Investor akan merespons positif pada saham emiten mempertimbangkan kemampuan perusahaan yang dinilai likuid. Dirinya menegaskan, BEI harus mengambil langkah tegas, seperti teguran ataupun peringatan kepada manajemen BUMI. Bahkan meminta bantuan OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Hal itu disebabkan langkah manajemen belum memperbaiki nilai saham. Sehingga menimbulkan kerugian bagi individu yang menempatkan dananya di BUMI. Investor tentunya ingin mendapatkan keuntungan dari penempatan dana di pasar modal. Baik itu melalui dividen ataupun 'capital gain'.

Reza meminta BEI, menempatkan posisinya sebagai investor. Alhasil mampu mengambil kebijakan yang menjadi solusi dari permasalahan. Permasalahan BUMI, tambahnya, akan menjadi citra buruk bagi pasar modal. Kondisi itu berdampak pada minat masyarakat menempatkan dananya di pasar modal dalam negeri. "Maka target penambah investor enggak akan tercapai," jelasnya.

Saat ini total utang Bumi Resources di semester pertama 2014 sebesar US$ 4,165 miliar atau setara Rp50,717 triliun. Pinjaman itu berasal dari sejumlah kreditur internasional. Upaya manajemen BUMI menerbitkan saham baru (right issue) untuk menyusutkan beban utang yang diperkirakan Rp50,717 triliun tidak terwujud, sebab para kreditur enggan membeli saham baru dari perusahaan tambang milik Group Bakrie itu.

Sepi Peminat

Perusahaan yang bergerak di sektor penambangan batu bara itu melakukan penawaran umum terbatas (PUT) IV sebanyak 32,198 miliar lembar saham dengan harga Rp250 per lembar. Itu berarti perseroan dapat menghimpun dana segar senilai Rp8,049 triliun. Oleh karena sepi peminat, jumlah saham yang dijual dikurangi perseroan menjadi 15,85 miliar lembar saham. Dengan porsi baru itu, BUMI hanya dapat menghimpun dana sekitar Rp3,61 triliun.

Menurut analis pasar modal dari PT Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe pernah bilang, kepercayaan investor terhadap perusahaan BUMI sudah hilang. Hal tersebut tercermin dari minimnya dukungan pemegang saham atas rencana perseroan yang bakal menerbitan saham baru atau rights issue,”Banyak faktor yang bikin saham BUMI tidak laku. Investor mulai kehilangan kepercayaan sama BUMI, kinerjanya masih belum membaik, laporan keuangannya selalu bermasalah,"ujarnya.

Lebih lanjut, Kiswoyo menilai buruknya kinerja BUMI ini juga dikarenakan manajemen perseroan yang tidak dapat mengelola perusahaan dengan baik. Dirinya menilai sangat kecil kemungkinan perombakan manajemen BUMI, meski para petinggi BUMI tersebut tidak menciptakan kinerja yang positif.

Rencananya dana hasil rights issue, sebesar Rp552 miliar atau setara 2,196 miliar lembar saham akan dibayarkan kepada Profex Energy Private Ltd, kontraktor proyek Gallo, untuk konsesi hidrokarbon Blok 13 dan Blok R2, Gallo. Kemudian, sebanyak Rp374,67 miliar atau 1,498 miliar lembar saham digunakan untuk melaksanakan feasibility study konsesi tembaga dan emas pada proyek Gorontalo Minerals.

Sementara itu, sisanya akan digunakan untuk pembayaran utang kepada sejumlah kreditur internasional di antaranya Long Haul Limited melalui PT Damar Reka Energi dan standby buyers. Sayangnya, publik hanya tertarik membeli 11,53 juta atau setara Rp2,882 miliar. "Karena tidak diperolehnya dana tunai dari pelaksanaan penawaran umum terbatas (PUT), perseroan membatalkan rencana pengeluaran saham," papar Ary.

Hingga semester I-2014, sesuai laporan keuangan yang dipublikasikan dalam Bursa Efek Indonesia, total utang BUMI mencapai US$ 4,165 miliar atau Rp50,717 triliun. Pinjaman itu didapat dari Axis Bank Limited, Credit Suisse, Deutsche Bank, UBS AG, dan CDB. Seperti diketahui BEI mengawasi dan mencermati perkembangan pergerakan transaksi saham perseroan lantaran telah terjadi penurunan harga dan peningkatan aktivitas transaksi saham BUMI atau di luar kewajaran. (bani)