Citatah Siapkan Belanja Modal Rp 17 Miliar

Bangun Tambang Emas

Senin, 17/11/2014

NERACA

Jakarta – Guna mendukung ekspansi bisnisnya kedepan lebih agresif lagi, tahun depan produsen marmer PT Citatah Tbk (CTTH) menganggarkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 17 miliar.

Direktur Keuangan PT Citatah Tbk, Tiffany Johannes mengatakan, dana capex untuk tahun 2015 ini lebih besar dibandingkan dengan capex perseroan pada tahun 2014 ini yang sebesar Rp 5 miliar,”Tahun depan kami menganggarkan capex Rp 17 miliar. Dana capex akan kami gunakan untuk pengembangan bisnis kami di tahun mendatang," katanya di Jakarta, kemarin.

Peningkatan anggaran capex perseroan pada tahun depan karena perseroan akan membuka satu lahan tambang baru yang terletak di wilayah Sulawesi Selatan.Disebutkan, perseroan mengalokasikan dana sebesar Rp 12 miliar dalam rangka penambangan baru tersebut. Sisanya sebesar Rp 5 miliar akan digunakan untuk pemeliharaan mesin-mesin di pabrik milik CTTH,”Capex tahun 2015 itu Rp 17 miliar, sebesar Rp 12 miliar untuk tambang baru seperti untuk pembelian alat berat. Sisanya Rp 5 miliar untuk keperluan di pabrik," jelasnya.

Tiffany menambahkan, dana capex akan dikombinasikan dari dana kas internal dan leasing, seperti pinjaman alat-alat berat."Dananya sebesar 30-40% dari kas internal, sisanya 60-70% dari leasing," terangnya.

Sementara itu, untuk dana capex pada tahun 2014 ini, perseroan menganggarkan dana sebesar Rp 5 miliar. Dana tersebut sepenuhnya digunakan untuk melakukan peremajaan mesin-mesin di pabrik miliknya. "Tahun ini capex kami Rp 5 miliar. Seluruhnya untuk perbaikan mesin. Dana seluruhnya dari kas," tukasnya.

Pada kuartal tiga tahun ini, perseroan mencatatkan penurunan penjualan bersih 12% menjadi Rp161,76 miliar dibandingkan perolehan pada priode yang sama tahun lalu sebesar Rp180,67 miliar,”Penurunan penjualan akibat dari turunnya penjualan domestik hingga 15%. Turunnya penjualan domestik diakibatkan oleh sektor properti yang melambat. Sehingga permintaan marmer kami pun berkurang. Faktor lain dari keadaan politik di Indonesia yang kurang stabil," kata Tiffany Johannes.

Dia menjelaskan, penjualan sendiri masih didorong oleh penjualan domestik sebesar 82% atau setara Rp132 miliar, sedangkan sisanya sebesar Rp29 miliar atau setara 18% diperoleh dari penjualan yang dikirimkan ke luar negeri (ekspor).

Posisi laba bersih selama sembilan bulan tahun ini meningkat 202,89 persen menjadi Rp13,69 miliar, dari posisi sebesar Rp4,52 miliar di kuartal III-2013. "Laba kotor kami mencapai Rp57,64 miliar dengan posisi laba usaha sebesar Rp12,43 miliar," ungkapnya.

Lanjut dia, perseroan juga mengalami kerugian nilai tukar hingga Rp1,9 miliar, hal itu diakibatkan dari pinjaman jangka panjang konversi. Kedua pinjaman itu menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (bani)