OJK Cibir Peran Industri Pasar Modal

Rendah Kontribusi Ekonomi

Senin, 17/11/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun industri pasar modal mampu meningkatkan kapitalisasi pasar yang cukup signifikan dan bahkan diklaim mengungguli nilai dari kapitalisasi pasar saham di kawasan regional, namun tidak berbanding lurus kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi.

Oleh karena itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mencibir dan mengkritik bahwa kontribusi industri pasar modal Indonesia masih rendah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,”Perkembangan ekonomi suatu negara tidak lepas dari peran pasar modal. Di negara-negara berkembang, peran pasar modal sejajar dengan sektor keuangan lainnya seperti perbankan maupun industri keuangan non bank (IKNB), namun pasar modal kita masih rendah kontribusinya," ujar Nurhaida di Jakarta, kemarin.

Untuk mendorong peran pasar modal terhadap perekonomian Indonesia, lanjut dia, OJK bersama dengan pihak terkait akan memaksimalkan elemen-elemen yang dapat mendukung industri pasar modal salah satunya dengan peningkatan jumlah investor.

Menurutnya, dengan adanya sinergi infrastruktur pasar modal dengan perbankan diharapkan bisa meningkatkan minat masyarakat berinvestasi di pasar modal yang saat ini relatif rendah. Pasalnya, dengan sinegis tersebut bisa memudahkan akses masyarakay berinvestasi menjadi lebih mudah.

Dalam memperkenalkan pasar modal, Nurhaida mengatakan pihaknya gencar melakukan sosialisasi dan edukasi diantaranya melalui program "goes to campus", program Sekolah Pasar Modal (SPM), dan Gerakan Nasional Cinta (Genta) Pasar Modal,”OJK terus-menerus melakukan sosialisasi ke masyarakat, akademisi, Ibu Rumah Tangga, bahkan ke Pesantren,”ungkapnya.

Tercatat, dalam data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) jumlah sub rekening efek di C-BEST (Central Depository and Book Entry Settlement System) sebanyak 458.870 nasabah per Oktober 2014. Nurhaida juga mengatakan bahwa untuk mempertahankan investor yang sudah ada agar tetap berada di pasar modal, terdapat beberapa langkah diantaranya terus memberikan pemahaman tentang industri pasar modal, dan kemudahan akses yang dbarengi dengan kenyamanan dan keamanan dalam berinvestasi."Hal itu akan kita dorong terus secara berkelanjutan," ujar Nurhaida.

Direktur Pengembangan BEI, Friderica Widyasari Dewi pernah bilang, dalam 10 tahun terakhir, kapitalisasi pasar BEI mengalami peningkatan signifikan sebesar 652,44% dari Rp 679,94 triliun di akhir 2004 menjadi Rp 5.116,20 triliun di akhir September 2014. Peningkatan tersebut sejalan dengan pertumbuhan jumlah emiten yang naik 331 emiten di akhir 2004 menjadi 502 emiten sampai dengan 7 September 2014.

Selain itu, level IHSG pun ikut menguat sebesar 413,63% dari 1.000,233 poin di akhir 2004 menjadi 5.137,579 poin di akhir September 2014,”Penguatan indikator pasar modal tersebut tidak terlepas dari peran regulator pasar modal yang terus berupaya memperkuat basis investor domestik agar pasar modal Indonesia punya daya tahan ketika menghadapi krisis,”kata Friderica. (bani)