Modal Asing Pengaruhi Defisit Transaksi Berjalan

Senin, 17/11/2014

NERACA

Jakarta - Arus modal asing berpengaruh pada membaiknya defisit transaksi berjalan di triwulan III 2014. Surplus transaksi modal dan finansial mencapai 13,7 miliar dolar AS. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan dengan surplus triwulan II 2014 sebesar 14,3 miliar dolar AS.

“Kepercayaan investor yang masih positif terhadap prospek ekonomi Indonesia mendorong aliran masuk modal asing yang tetap kuat,” kata Gubernur BI, Agus Martowardjojo, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Surplus transaksi modal dan finansial terutama didukung aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi langsung dan penarikan pinjaman luar negeri korporasi. Di sisi lain, aliran masuk investasi portofolio tercatat lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Penurunan tersebut dipengaruhi oleh faktor sentimen, baik yang bersumber dari eksternal maupun domestik. Selain itu, penempatan simpanan swasta domestik di luar negeri juga meningkat. Secara keseluruhan, surplus transaksi modal dan finansial triwulan III 2014 dinilai masih cukup besar dan dapat membiayai sepenuhnya defisit transaksi berjalan.

Berdasarkan data Bank Indonesia, defisit transaksi berjalan pada triwulan III 2014 tercatat sebesar 6,8 miliar dolar AS atau 3,07 persen dari PDB. Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada triwulan II 2014 yang mencapai 8,7 miliar dolar AS atau 4,06 persen dari PDB dan defisit pada periode yang sama tahun 2013 sebesar 8,6 miliar dolar AS atau 3,89 persen dari PDB.

Pada kesempatan berbeda, . Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), Darmin Nasution, mengatakan defisit transaksi berjalan mencapai lebih dari tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara tingginya defisit tersebut menyebabkan pemerintah harus melakukan beragam solusi untuk mengatasinya.

"Persoalan transaksi berjalan tidak bisa ditangani dengan solusi tunggal dan sederhana. Karena dia (persoalan transaksi berjalan) merupakan konfigurasi yang kompleks dan memelukan solusi yang sifatnya jangka panjang dan opsional," katanya.

Untuk mengatasinya, Darmin menyarankan lima solusi yang bisa ditempuh pemerintahan baru yaitu pertama adalah menaikkan harga BBM bersubsidi 85 persen dalam lima tahun. "Menaikkan harga BBM sekarang sebenarnya momen tidak tepat, tetapi tidak dapat dihindari lagi. Sekali naik, dinaikkan 20-25 persen. Lalu subsidinya dialihkan ke BPJS kesehatan, pembangunan infrastruktur, dan pembangunan infrastruktur ekonomi," paparnya.

Langkah kedua adalah melakukan reformasi birokrasi di mana perlu revitalisasi disemua sektor terutama disektor pajak. Darmin melanjutkan, opsi ketiga dapat ditempuh dengan memperbanyak jumlah tabungan sehingga bank bisa dengan mudah menggunakannya.

"Penting sekali kita kampanyekan kembali gemar menabung ke masyarakat. Agar meningkatkan dana pihak ke tiga bagi bank sehingga bank mendapat dana untuk menjalankan kegiatannya," jelas dia.

Solusi keempat yakni memperbaiki dan meningkatkan sektor pertanian. "Sebelum diperbaiki, kita identifikasi dulu bagaimana sistem irigasinya, petanya lalu lakukan diversifikasi. Baru perbaiki industri pangannya seperti pendalaman bahan baku barang modal," beber pria jebolan Universitas Indonesia itu.

Cara terakhir adalah perbaikan mutu sumber daya manusia, terutama di sektor jasa agar bisa menggenjot pendapatan negara. [agus]