Memasyarakatkan Pasar Modal

Jumat, 14/11/2014

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Tak kenal maka tak sayang, adalah pepatah bijak yang coba direfleksikan dalam "Gerakan Nasional Cinta" (Genta) Pasar Modal yang tengah dikembangkan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama lembaga SRO lainnya dan asosiasi yang terhimpun dalam industri pasar modal. Langkah mulia ini dimaksudkan untuk mendekatkan industri pasar modal lebih dekat kepada masyarakat beserta produknya. Perlu diakui, saat ini belum banyak masyarakat lokal berpartisipasi berinvestasi di pasar modal dengan berbagai alasan, baik itu minimnya edukasi dan sosialisasi atau mahalnya investasi di pasar modal, masih terbatasnya akses layanan hingga tudingan investasi saham sama dengan judi.

Maka tidak heran, bila saat ini dominasi asing di pasar modal masih besar ketimbang investor lokal. Tentunya kondisi ini sangat memprihatinkan bila dibandingkan dengan negara tetangga yang sudah maju dan besarnya minat masyarakat berinvestasi saham. Ya persoalan minimnya investor lokal menjadi masalah klasik dan kambing hitam dibalik gagalnya pihak BEI dan bersama OJK dalam memberikan edukasi dan sosialisasi tentang pasar modal.

Tahukah Anda? dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, investor lokal yang berkiprah di pasar modal nasional baru mencapai 400 ribu orang, atau kurang dari 0,2% total penduduk. Dibandingkan Malaysia dan Singapura, negara kita masih jauh tertinggal. Jumlah investor di Malaysia sudah 20% dan Singapura 60% dari total penduduk.

Dalam setahun, jumlah pemodal lokal hanya bertambah rata-rata 10 ribu orang. Dibandingkan dengan pasar modal Tiongkok, yang mulai aktif sekitar 1993, yang kini memiliki investor lokal sebanyak 110 juta, Indonesia sangat jauh tertinggal. Selain jumlah investor lokal, persoalan klasik pasar modal nasional selama ini adalah dominasi investor asing dalam transaksi saham. Pemodal mancanegara umumnya menguasai lebih dari 50% transaksi di bursa, bahkan pernah mencapai 80–90%. Itu berarti, manfaat bursa saham nasional justru lebih banyak dinikmati untuk kepentingan penduduk bangsa lain.

Hal ini pulalah yang menyebabkan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia tidak bisa menjadi indikator perekonomian nasional karena pergerakan indeks lebih banyak ditentukan investor mancanegara. Maka atas dasar pertimbangan itulah, Genta Pasar Modal digulirkan sebagai upaya semangat memasyarakatkan masyarakat terhadap industri pasar modal atau meminjam istilah OJK adalah pendalaman pasar modal agar tidak dangkal.

Diharapkan melalui Genta Pasar Modal bila menurut istilah Prabowo terstruktur, sistematis dan masif bisa menjangkau masyarakat di daerah dan tidak lagi menganggap investasi pasar modal sebagai barang yang eksklusif. Belajar dari kesuksesan "Gerakan Ayo Menabung", Genta Pasar Modal kembali ingin membuat cerita yang sama dengan menggandeng para pelaku pasar modal dengan pendekatan yang berbeda.

Kemudian persoalan kemudahan akses investasi, dalam hal ini pelayanan juga menjadi perhatian khusus BEI. Pasalnya, hal ini sudah menjadi tuntutan masyarakat luas akan kemudahan dan efisiensi dalam berinvestasi dan bukan lagi menjadi hal yang sulit. Tentunya, dengan begitu cita-cita memperkuat peran investor lokal bisa direalisasikan dan bukan lagi mimpi. Karena bagaimanapun juga, apalah artinya kapitalisasi pasar yang besar bila yang menikmati orang lain.