Akhir Pekan, IHSG Berpeluang Balik Arah

Jumat, 14/11/2014

NERACA

Jakarta – Seharian pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tertekan seiring belum adanya sentiment positif yang mampu merubah haluan. Keputusan Bank Indonesia (BI) mengumumkan tingkat suku bunga acuan alias BI Rate ditahan di 7,5% atau posisi ini sama dengan posisi BI rate dalam setahun terakhir, rupanya belum mampu mendongkrak IHSG dari zona merah. Alhasil, mengakhiri perdagangan Kamis, IHSG atau indeks BEI ditutup melemah tipis 0,173 poin (0,01%) ke level 5.048,668. Sementara Indeks LQ45 ditutup naik tipis 1,354 poin (0,16%) ke level 864,552.

Analis Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya mengatakan bahwa pelaku pasar saham asing yang kembali mengambil posisi beli menahan tekanan indeks BEI di tengah mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang melemah,”Disepanjang perdagangan IHSG BEI bergerak di area negatif, namun menjelang penutupan perdagangan sesi sore mulai membaik sehingga hanya tertekan tipis Pelaku pasar asing yang masih masuk ke pasar saham domestik menjadi salah satu penahan koreksi indeks BEI lebih dalam," katanya di Jakarta, Kamis (13/11).

William Suryawijaya menambahkan, masih terjadinya aksi beli investor asing di dalam negeri, menunjukkan bahwa kepercayaan investor masih cukup tinggi terhadap pasar modal Indonesia. Oleh karena itu, dirinya memproyeksikan bahwa potensi indeks BEI untuk kembali menguat akhir pekan masih cukup terbuka untuk menuju level 5.094 poin sebagai target batas atas.

Perdagangan kemarin, dana asing masih mengalir masuk lantai bursa. Transaksi investor asing hingga sore melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 149,661 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 180.405 kali dengan volume 3,843 miliar lembar saham senilai Rp 3,539 triliun. Sebanyak 130 saham naik, 145 turun, dan 102 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia rata-rata mengakhiri perdagangan di zona hijau, hanya pasar saham Tiongkok yang melemah. Sentimen negatif sempat datang dari Eropa setelah regulator setempat menjatuhkan penalti atas skandal manipulasi pasar valuta asing.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah United Tractor (UNTR) naik Rp 500 ke Rp 19.000, Indocement (INTP) naik Rp 500 ke Rp 23.925, Matahari (LPPF) naik Rp 325 ke Rp 15.225, dan Asahimas (AMFG) naik Rp 225 ke Rp 7.250. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Tembaga Mulia (TBMS) turun Rp 1.225 ke Rp 9.800, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.225 ke Rp 18.200, Adira Finance (ADMF) turun Rp 1.075 ke Rp 8.100, dan Lippo Insurance (LPGI) turun Rp 1.020 ke Rp 4.180.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI terkoreksi 12,417 poin (0,25%) ke level 5.036,424. Sementara Indeks LQ45 mundur 2,198 poin (0,25%) ke level 861,000. Indeks hanya sempat naik sampai titik tertingginya di level 5.050. Selebihnya pergerakan Indeks lebih banyak dihabiskan di zona merah.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 97.344 kali dengan volume 1,896 miliar lembar saham senilai Rp 1,604 triliun. Sebanyak 107 saham naik, 136 turun, dan 84 saham stagnan. Volume dan nilai perdagangan setengah hari jauh di bawah rata-rata harian sebesar volume 5 miliar lembar saham dan Rp 6 triliun. Bahkan mencapai setengah dari rata-rata harian saja tidak sampai.

Bursa-bursa regional masih bergerak mix hingga siang. Sentimen negatif datang dari Eropa setelah regulator setempat menjatuhkan penalti atas skandal manipulasi pasar valuta asing. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Matahari (LPPF) naik Rp 275 ke Rp 15.175, Mayora (MYOR) naik Rp 250 ke Rp 26.000, United Tractor (UNTR) naik Rp 250 ke Rp 18.750, dan Asahimas (AMFG) naik Rp 225 ke Rp 7.250.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Tembaga Mulia (TBMS) turun Rp 1.225 ke Rp 9.800, Adira Finance (ADMF) turun Rp 1.100 ke Rp 8.075, Lippo Insurance (LPGI) turun Rp 1.040 ke Rp 4.160, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 975. Diawal perdagangan indeks BEI dibuka melemah sebesar 2,34 poin atau 0,05% ke posisi 5.046,49. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) turun 0,58 poin atau 0,07% ke posisi 862,60.

Kata analis Samuel Sekuritas, Tiesha Narandha, mengikuti bursa saham AS, bursa Asia pagi dan termasuk IHSG BEI bergerak mendatar,”Pelaku pasar sedang menantikan data penjualan ritel dan produksi industri Tiongkok yang akan diumumkan,”ujarnya.

Tiesha Narandha menambahkan bahwa sentimen dari pidato Presiden Joko Widodo dihadapan CEO negara peserta APEC terkait kebijakan alokasikan subsidi BBM ke hal yang produktif diharapkan menjadi katalis positif bagi pasar saham domestik.

Selain itu, lanjut dia, Jokowi juga ikut mengundang calon investor untuk melakukan Investasi terutama infrastruktur pelabuhan, kereta api, perkapalan, dan pembangkit listrik. Indonesia meyakinkan untuk masalah ijin bisnis akan jauh lebih baik. Sementara itu, tim analis teknikal Mandiri Sekuritas dalam kajiannya mengatakan bahwa pelaku pasar di dalam negeri sedang menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) terkait suku bunga acuan (BI rate).

Di sisi lain, lanjut dia, pemerintah juga sedang mengkalkulasi ulang kisaran harga kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seiring dengan turunnya harga minyak dunia. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka menguat 24,31 poin (0,10%) ke 23.962,49, indeks Nikkei naik 45,66 poin (0,27%) ke 17.243,94, dan Straits Times menguat 9,57 poin (0,29%) ke posisi 3.292,13. (bani)