Faham Radikalisme Berevolusi

Oleh : Herni Susanti, Pemerhati Masalah Bangsa

Jumat, 14/11/2014

Terorisme adalah ancaman nyata bagi keamanan dan keutuhan bangsa. Masyarakat Indonesia telah menjadi saksi bagaimana bahaya dan ancaman mereka telah mampu meluluh-lantakkan sendi-sendi kehidupan bangsa dalam sekejap yang hanya meninggalkan kesedihan dan ketakutan. Kelemahan negara dalam memberikan keamanan serta ketidakpedulian masyarakat adalah bibit bagi berkembangnya radikalisme dan terorisme. Karena itulah mencegah dan mewaspadai ancaman terorisme tidak hanya peran bagi aparat keamanan tetapi membutuhkan peran serta dan partisipasi seluruh pihak. Dengan kebersamaan dan sinergitas yang kuat antara negara dan masyarakat, terorisme akan sulit berkembang.

Saat ini faham radikalisme yang ada di Indonesia sedang berevolusi menjadi suatu gerakan terorisme (ISIS) yang dapat mengganggu stabilitas keamanan yang ada di Indonesia. Gerakan radikal ISIS berpotensi membuat penguatan sekat dimasyarakat dan hal tersebut akan membuat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah menjadi berkurang. Penyebab dari timbulnya faham radikalisme adalah penegakan aturan hukum yang belum maksimal, kurangnya keadilan yang ada dimasyarakat, kurangnya pemberdayaan ekonomi masyarakat, pendidikan yang tidak diutamakan lagi dan pemimpin yang belum siap untuk menjadi model/contoh/panutan rakyat. Gerakan radikal belakangan ini kerap muncul dibeberapa tempat. Disisi lain, munculnya isu ISIS (Islamic State Of Iraq and Syam) yang sudah mengglobal dan merupakan ancaman dan wacana mencekam bagi dunia. Langkah antisipasi gerakaan radikal perlu dilakukan secara rutin dan menyeluruh di seluruh NKRI, selain itu peran pemuda, toga, tomas, menjadi sangat penting sebagai garda/pagar paling depan untuk menangkal hal tersebut, sehingga pembangunan dapat berjalan dengan lancar. Kepada generasi muda kami menghimbau untuk tidak mudah terprovokasi terkait dengan ajaran - ajaran tertentu yang bertujuan menyesatkan. Untuk itu, peran generasi muda sangat penting untuk mengawal permasalahan ini, karena hal ini merupakan tanggung jawab semua pihak dalam mengawal, menjaga, dan melaporkan jika mengetahui adanya hal - hal yang dapat mengganggu stabilitas keamanan khususnya yang berkaitan dengan faham radikalisme (ISIS).

Kerawanan Faham ISIS

Faham ISIS dapat memprovokasi NKRI terpecah belah serta berpotensi merusak persatuan dan kedaulatan bangsa, karena faham ISIS bertentangan dengan ideologi Pancasila dan NKRI. Salah satunya adalah munculnya polarisasi antara pihak yang pro dan kontra terhadap faham ISIS di tengah umat Islam dengan alasan dan argumentasi masing-masing deklarasi dukungan terhadap ISIS rawan terjadinya perpecahan sesama umat Islam di Indonesia. Kampanye dan propaganda ISIS dalam mengembangkan pengaruh dan jaringannya serta melakukan perekrutan Indonesia melalui media sosial, youtube, twitter dilakukan oleh petinggi ISIS di Iraq dengan gunakan bahasa dan mujahid asal Indonesia. Sementara itu, tujuan ISIS adalah mendirikan negara Islam dengan cara non Islami dan kekerasan, ISIS dapat berkembang di wilayah yang tidak ada kesetaraan sosial, dan teknik penyebaran ISIS tersebut dengan cara melakukan ceramah-ceramah di masjid-masjid, ajakan melalui media sosial, elektronik dan cetak, sehingga untuk itu diperlukan pertisipasi masyarakat untuk melakukan pengawasan terhadap keberadaan ISIS di wilayah masing-masing.

Saat ini pola aksi gerakan terorisme di Indonesia sudah mengalami perubahan, dimana sasaran awal adalah Amerika, Barat dan Sekutunya, berubah menjadi sasaran dalam negeri. Pergerakan teroris menggunakan kelompok besar saat ini sudah beralih menjadi kelompok kecil. Penyebaran teror yang biasanya menggunakan bahan peledak dengan skala besar saat ini bergeser dengan bahan peledak skala kecil, dengan cara tradisional, racun kimia, maupun dengan pembunuhan. Dalam melakukan pelatihan biasa dilakukan dengan jaringan internasional saat ini sudah berubah menjadi pelatihan dengan jaringan didalam negeri dan secara otodidak. Dalam menyebarkan pahamnya dahulu menggunakan cara konvensional saat ini melalui dunia maya, buku, dan radio komunikasi. Sasaran yang dituju dahulu adalah sasaran fisik namun saat ini sasarannya merupakan pola pikir masif.***