ADHI Bukukan Kontrak Baru Rp 5,3 Triliun

Jumat, 14/11/2014

NERACA

Jakarta – Hingga Oktober tahun ini, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) berhasil meraih kontrak baru sebesar Rp5,3 triliun. Kata Sekretaris Perusahaan Adhi Karya Ki Syahgolang Permata, kontrak tersebut didominasi proyek-proyek gedung sebesar 51,1%, jalan dan jembatan 17,3%, dan sisanya proyek infrastruktur lainnya,”Dari segi pemilik proyek, swasta masih mendominasi sebanyak 47,6%, sedangkan pemerintah pusat sebesar 22,4% dan pemerintah daerah 14,7%, sedangkan BUMN sebesar 15,3%,”ujarnya dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Sementara pendapatan usaha persereoan hingga September 2014 tercatat menurun menjadi Rp5,2 triliun dibandingkan akhir September tahun lalu sebesar Rp5,6 triliun. Dia menuturkan, hal itu disebabkan lambatnya perolehan kontrak baru di paruh pertama tahun ini dibandingkan dengan perolehan kontrak baru tahun lalu.

Turunnya pendapatan usaha perusahaan selama sembilan bulan pertama tahun ini mendorong menurunnya laba bersih sekitar 43,8% menjadi sebesar Rp101,0 miliar dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp179,7 miliar. Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp879 miliar. Belanja modal tersebut akan dialokasikan untuk mendukung investasi bisnis hotel, properti dan retail serta infrstruktur dan transportasi.

Asal tahu saja, Adhi Karya saat ini tidak hanya bertumpu target pendapatan dari sektor konstruksi, tetapi juga didukung lima lini bisnis lainya, termasuk transportasi untuk monorel. Bahkan untuk mendongkrak bisnis baru lebih melesat lagi, perseroan mengitengrasikan proyek bisnis monorel dengan bisnis properti Adhi Karya dengan rute-rute yang akan dilalui monorel.

Maka melihat begitu prospeknya bisnis baru ini, PT Adhi Karya Tbk mengincar laba bersih sebesar Rp113 miliar dari pengoperasian monorel. Perseroan tidak hanya bertindak sebagai pengelola, tapi juga pembangun dan perawatan.

Kepala Divisi Transportasi Adhi Karya, Pundjung Setya Brata pernah bilang, perolehan laba bersih untuk induk usaha tersebut, berasal dari penjualan tiket monorel sebesar Rp15 ribu perorang. Dia memperkirakan, angkutan massal yang menghubungkan wilayah Jabodetabek ini bisa melayani 120 ribu penumpang perhari,”Ini salah satu upaya perseroan untuk memperoleh recurring income (pendapatan berulang), setelah beroperasi kami menargetkan laba bersih Rp113 miliar pertahunnya," katanya.

Untuk diketahui, jalur monorel yang akan dibangun yaitu jalur Bekasi Timur-Cawang, Cibubur-Cawang, dan Cawang-Kuningan. Masa pengerjaan diperkirakan selama tiga tahun dan total panjang monorel mencapai 39 kilometer (km).

Perseroan telah membentuk konsorsium Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk pembangunan kereta jalur layang dengan investasi mencapai Rp8,119 triliun tersebut. BUMN yang tergabung dalam konsorsium ini yaitu PT Industri Kereta Api (INKA), PT Lembaga Elektronika Negara (LEN), PT Jasa Marga dan PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom),”Kami juga akan bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sehingga diharapkan bisa menggandeng Badan Usaha Milik Daerah. Kami harapkan bisa mengajak BUMN lain seperti Semen Indonesia," tambahnya.

Selain proyek monorel, Adhi juga melakukaan optimalisasi dengan properti komersial berupa hotel. Nantinya hotelnya akan bersinergi dengan jalur monorel. Beberapa hotel yang dimaksud adalah Hotel 16 lantai berbintang empat dengan 222 kamar yang terletak di Jl. Iskandarsyah Raya, jakarta yang rencanakanya akan diselesaikan pada Desember 2014. (bani)