Isu Kenaikan BBM Turunkan Penjualan Otomotif

Sabtu, 15/11/2014

Isu Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang direncanakan presiden Joko Widodo pada akhir tahun ini, sudah berdampak pada melorotnya penjualan roda empat menjelang penutupan akhir tahun.

NERACA

Direktur Pemasaran dan Purna Jual PT Honda Prospect Motor Jonfis Fandy membenarkan isu kenaikan BBM akan berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat dan diperkirakan angka penjulan akan turun menjelang akhir tahun ini.

Salah satu faktor yang bisa menghambat laju penjualan mobil adalah kenaikan pajak progresif pada Oktober. Faktor lain adalah melemahnya kurs rupiah dan turunnya tren pertumbuhan ekonomi di negara berkembang akibat rencana kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Jonfis juga menyebutkan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjelang akhir tahun dikhawatirkan bisa mempengaruhi daya beli masyarakat.

Sedangkan data Gabungan Industri Kendaraan Indonesia (Gaikindo) menyebutkan, penjualan mobil pada Januari-Agustus tahun ini mencapai 830.398 unit. Angka ini bertumbuh 4,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Tren pertumbuhan ini menurun jika dibandingkan dengan periode Januari-Agustus 2012-2013, yang mencapai 10,9 persen.

Sekretaris Umum Gaikindo Noegardjito mengatakan target penjualan akhir tahun ini dipatok 1,25 juta unit atau hanya tumbuh 2,4 persen dibanding 2013 yang sebanyak 1,22 juta unit. Padahal, pada 2012-2013, pasar kendaraan roda empat mampu tumbuh 10,1 persen, dari 1,11 juta menjadi 1,22 juta unit.

Sedangkan Gaikindo tahun ini menargetkan penjualan mencapai 1,25 juta unit atau naik tipis dibandingkan tahun lalu yang mencapai 1.208.165 unit. Namun, industri yang sudah berorientasi ekspor ini akan sedikit terbantu. Tahun ini ekspor produk setengah jadi (completely knocked down/CKD) meningkat dari 105 ribu unit pada 2013 menjadi sekitar 120 ribu pada 2014.

Untuk ekspor mobil secara utuh ataucompletely built-up(CBU) pada 2013 sebesar 170 ribu. Tahun ini diproyeksikan kenaikan mencapai 200 ribu unit sehingga akan membantu industri dalam melawati masa-masa kurang bersahabat.

Berdampak Penjualan Motor

Isu kenaikan BBM tidak hanya berdampak daya beli mobil saja, namun kendaraan roda dua pun ikut merasakan, seperti yang dikatakan oleh Bobi dari CV Putra Tunggal Motor, penurunan motor yang ada dishowroommencapai 30 persen. Hal itu dikatakan terjadi sejak bulan September lalu.

”Untuk penjualan motor bekas, sejak dua bulan ke belakang mengalami penurunan mencapai 30 persen. Dan biasanya menjelang akhir tahun baru ada kenaikan kembali,” kata Bobi.

Dia juga mengungkapkan salah satu faktor yang mengakibatkan penurunan penjualan motor bekas. ”Faktor penurunannya penjualan motor bekas ini, mungkin saja dikarenakan beberapa waktu lalu ada isu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Sehingga, membuat konsumen enggan membeli motor, baik yang baru maupun seken,” tambahnya.

Mengenai tipe motor yang banyak dicari oleh konsumen, Bobi menerangkan tipe motormaticdan bebek masih menjadi favorit masyarakat. Hal itu dikarenakan, harga jualnya dan cicilannya jauh lebih ringan daripada motor berkapasitas besar.

”Konsumen lebih banyak membeli motor tipe bebek danmatic, Mas. Dari segi persentase sendiri penjualan motormaticlebih besar daripada bebek. Perbandingannya bisa mencapai 70 persen berbanding 30 persen,” pungkasnya.