Cinta Politik, Karena Buku Sang Kakek

Dadang Rusdiana, Seketaris Fraksi Partai Hanura

Sabtu, 15/11/2014

Sering dikenalkan dengan buku-buku tentang sang proklamator, Ir. Soekarno oleh sang Kakek, membuat Seketaris fraksi partai Hanura Dadang Rusdiana mulai jatuh cinta pada diplomat dan dunia politisi.

NERACA

“Sudah dari kecil saya di kasih asupan buku-kuku diplomat dan politisi, membuat saya ingin menjadi seorang diplomat atau politisi dengan kemampuan retorika tinggi adalah impian yang selalu diidam-idamkan, tentunya karena pengaruh asuhan kakek yang sangat Soekarnois, disamping darah aktivis yang diwariskan ayahanda, yang aktivis GMNI di publisistik UNPAD,” cetus Dadang saat di sambangin ruang fraksi Hanura.

Sebelumnya Dadang Rusdiana mengaku pernah mencalonkan diri sebagai calon wakil bupati Bandung berhasil lolos sebagai anggota DPR dari dapil II Kab. Bandung dan Bandung Barat untuk priode 2014-2019. Yang bertujuan masuk ke DPR untuk memperjuangan kesejahteraan rakyat.

Dadang Rusdiana, biasa disapa akrab dengan panggilan kang Darus ini, sangat di kenal figur yang sangat tegas dalam dunia politik, terutama bagi daerah kelahirannya di Kota Bandung.

Berkuliah tanpa minat sungguh-sungguh pada bidang perkoperasian tersebut,dan tetap “jatuh cinta” pada politik, "Membuat saya lebih banyak aktif pada kegiatan-kegiatan organisasi kemasyarakatan seperti : Angkatan Muda Siliwangi (AMS) dan Karang Taruna, serta kemudian aktif sebagai kader Golkar, dan menjadi Bakomcam Golkar Kecamatan Arjasari, pada usia yang masih muda," cetus Dadang.

Ditempatkan dikomisi X yang berbasis pendidikan, bukan hal yang baru dalam hidupnya. Ketika masih kuliah saya ditugaskan oleh ayahanda untuk mengajar di SMP Pelita dan SMP PGRI Arjasari dari tahun 1988 sampai tahun 1998. Sekarangpun saya aktif pula mengajar di STIE Tridharma Bandung.

“Bukan hal baru dunia pindidikan bagi saya, maka itu saya memilih komisi X untuk memperjuangkan dunia pendidikan di Indonesia lebih maju, dan dapat melahirkan bibit anak bangsa yang bermutu,” kata Dadang putra asli Bandung ini.

Peran Orang Tua

Dadang menceritakan orang tua saya berprofesi sebagai guru SDN Arjasari sangat telaten dalam membimbing saya menyelesaikan seluruh kegiatan persekolahan. Setelah naik ke kelas V, saya hanya sempat duduk sekitar 1 minggu di bangku kelas, kemudian tanpa diduga saya dipindahkan ke kelas VI untuk mempercepat proses belajar di tingkat Sekolah Dasar. Dan setelah lulus saya melanjutkan ke SMP PGRI Arjasari, sekolah yang didirikan sendiri oleh ayahanda, yang sangat peduli terhadap perkembangan pendidikan di pedesaan.

Tiga tahun kemudian saya diterima di SMPPN 37 Baleendah (Sekarang SMAN Baleendah), tentunya dengan usia paling muda dan postur badan relative kecil dibandingkan dengan teman-teman sekelas lainnya seringkali membawa saya pada pengalaman-pengalaman lucu, seperti : kaos olahraga yang kedodoran, atau seloroh Bapa guru yang sering menyapa dengan nada gurau,“ nggak salah masuk sekolah, kecil-kecil sudah SMA?”

Ayah berpendapat lain, ia menginginkan saya merintis diri menjadi seorang birokrat dengan membujuk saya untuk masuk APDN, mengikuti jejak kakaknya ibu yang lulusan APDN. Namun apa daya, tahun itu APDN hanya menerima mahasiswa ikatan Dinas, tidak dari umum, sedangkan Sipenmaru UNPAD sudah ditutup. Saya hanya bisa gigit jari dengan resiko tidak melanjutkan kuliah, karena tidak ada perguruan tinggi yang diminati.

Ayah adalah sosok yang tidak pernah menyerah dengan keinginannya untuk membuat anaknya kuliah. Melihat tayangan TVRI dimana Presiden Soeharto membuka perguruan tinggi baru di Jatinangor, yaitu IKOPIN, maka ayahpun membujuk saya untuk mau berkuliah di perguruan tinggi yang dikhususkan mencetak kader-kader koperasi nasional tersebut.

Karena aktif dalam kegiatan kemasyarakatan itulah,saya bertemu dengan seorang perempuan Cangkuang Banjaran pada Upacara 17 Agustus 1986, yang kemudian menjadi istri saya sampai sekarang, Hj.Noneng Karnengsih. Darinya saya dikaruniai 3 (tiga) orang anak, Mega Mahardika, Gilang Haikal Hikmatyar, dan Sani Firas (meninggal ketika dilahirkan).

Aktivitas dalam berpolitik benar-benar berurat akar dalam hidup saya. Tahun 1992 saya menghadiri Musda KNPI Kabupaten Bandung sebagai delegasi dari Depicab Wirakarya Kabupaten Bandung, dan kemudian terpilih sebagai pengurus DPD KNPI Kab.Bandung periode 1992-1995, dengan Ketua Bung Edi Sartono.

Pada Tahun 1995-1998, dan Tahun 1998-2001, saya terpilih sebagai sekretaris KNPI Kabupaten Bandung mendampingi Bung Dadang M Naser (Sekarang Bupati Bandung)sebagai Ketua.

Jabatan Ketua KNPI pun saya dapatkan di pemilihan Ketua KNPI tahun 2001. Saya didampingi sekretaris Bung Sugianto (sekarang wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung). KNPI bagi saya merupakan organisasi yang memberikan pergaulan yang baik untuk menghargai keragaman politik dan makna dari kehidupanyang penuh toleransi.

Karier di Dunia Politik

Karir saya di Parlemen (DPRD) dimulai ketika era reformasi Tahun 1998 saya dipercaya menjadi wakil sekretaris DPD Golkar Kabupaten Bandung. Pada Pemilu 1999 saya terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Bandung. Mengabdi kepada bangsa melalui kiprah di DPRD adalah profesi yang sejalan dengan minat saya sejak kecil.

Saya begitu antusias, serius mempelajari apapun yang menjadi tugas pokok, dan Alhamdulillah tidak memiliki kesulitan yang berarti untuk menjalankan fungsi legislasi, budgeting dan pengawasan.

Pada pemilu Tahun 2004, saya terpilih kembali sebagai anggota DPRD dengan raihan suara tertinggi di Daerah pemilihan VI (Baleendah,Arjasari,Pameungpeuk, Cimaung, Cangkuang dan Pangalengan) yaitu 40.400 suara. Kalau di periode pertama (1999-2004) saya sempat menjabat Sekretaris Panitia Anggaran, maka pada periode ke dua (2004-2009) saya dikukuhkan menjadi Ketua Badan Anggaran, sampai adanya penggantian pada tahun 2006 karena konflik internal di partai Golkar.

Di sela-sela kesibukan di DPRD, saya sempat menyelesaian kuliah Pascasarjana, ilmu Administrasi Negara di Universitas Nurtanio. Lulus sebagai wisudawan terbaik, Alhamdulillah saya ditarik menjadi Dosen Fisipol Universitas Nurtanio, sampai sekarang. Pengabdian melalui dunia pendidikan tentunya bukan hal yang baru dalam perjalanan hidup saya. Ketika masih kuliah saya ditugaskan oleh ayahanda untuk mengajar di SMP Pelita dan SMP PGRI Arjasari dari tahun 1988 sampai tahun 1998. Sekarangpun saya aktif pula mengajar di STIE Tridharma Bandung.

Melatih komunikasi melalui pengajaran di kelas memang efektif untuk memperfasih komunikasi politik maupun kemasyarakatan. Adalah sebuah tuntutan yang memiliki kenikmatan tersendiri untuk menjadi sesepuh dalam acara “seren sumeren panganten”, atau berbicara di mimbar-mimbar dakwah.

“Kesantunan dan keterampilan berbicara menjadi “hadiah langsung” yang dapat dijadikan modal perjuangan dalam mengartikulasikan kepentingan rakyat dalam dunia politik,ketika sebelumnya kita melatih diri di kelas pengajaran dan mimbar-mimbar masjid,” kata Dadang.

Topik Terkait

dadang rusdiana gmni