Sistem Elektronik IPO Siap Dioperasikan

Dimulai Semester Pertama 2015

Kamis, 13/11/2014

NERACA

Jakarta – Guna mensukseskan pendalaman pasar modal tidak hanya melulu bicara soal edukasi dan sosialisasi dalam rangka meningkat literasi keuangan masyarakat, tetapi juga peningkatan pelayanan dalam hal ini kemudahan masyarakat mengakses industri pasar modal, khususnya dalam memiliki saham perdana suatu perusahaan.

Maka menjawab tuntutan tersebut, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengembangkan sistem bookbuilding elektronik dan rencananya sistem ini akan dapat di operasikan BEI pada semester pertama tahun 2015 mendatang,”Kami ingin mempemudah investor-investor di daerah, khususnya untuk masuk ke pasar modal. Kami harap semester I tahun depan bisa direalisasikan,”kata Direktur Penilaian PT Bursa Efek Indonesia, Hoesen di Jakarta, Rabu (12/11).

Dia menjelaskan, sistem ini adalah jawaban dalam mempermudah masyarakat atau investor di daerah untuk memperoleh saham perdana dari calon emiten. Dimana BEI akan memberi akses lewat semua broker yang ada di bursa tanpa harus lewat underwriter si calon emiten tersebut.

Saat ini, lanjut Hoesen, para calon emiten di bursa lewat mekanisme initial public offering (IPO) biasanya hanya menawarkan sahamnya kepada nasabah-nasabah si penjamin emisi atau underwriter. Oleh sebab itu, peminat saham emiten tersebut harus langsung datang ke kantor pusat underwriter yang hampir seluruhnya berada di Jabodetabek,”Jadi, nantinya dengan adanya sistem baru ini mekanismenya tidak akan seperti itu lagi dan bisa langsung secara online layaknya beli saham biasa tanpa isi data di selembaran kertas,"ujar Hoesen.

Asal tahu saja, saat ini investor yang ingin membeli saham IPO harus mendaftar ke perusahaan sekuritas yang ditunjuk sebagai penjamin emisi, sayangnya mayoritas penjamin emisi hanya beroperasi di Jakarta, sehingga investor di kota-kota lain seperti Surabaya, Kalimantan, Sulewesi, Papua dan lainnya hampir mustahil memesan saham IPO.

Contoh lainnya, jika ada investor yang berdomisili di Papua yang menjadi nasabah dari perusahaan sekuritas X, namun perusahaan penjamin emisi IPO-nya merupakan dari perusahaan sekuritas A yang berada di Jakarta. Normalnya saat ini, pemesanan saham IPO itu harus dari perusahaan sekuritas A, tentunya investor yang di Papua itu akan kesulitan mendapatkan saham IPO. Bayangkan ongkos dari Papua ke Jakarta untuk memesan saham IPO, dan untuk mengisi dokumen pemesanannya, tentunya sangat besar dan tidak efisien.

Tentunya, diharapkan dengan sistem elektronik yang akan dikembangkan ini, investor di berbagai kota bisa memesan saham IPO secara elektronik. Direktur Utama BEI, Ito Warsito pernah bilang, sistem pemesanan saham IPO secara elektronik tidak hanya membantu investor tetapi juga bisa membantu perusahaan sekuritas yang ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi mengumpulkan pernyataan minat beli dari semua calon investor.

Kendati demikian, Ito Warsito menjelaskan bahwa ada beberapa syarat untuk mendapatkan saham IPO, diantaranya invstor harus sudah memiliki identitas tunggal nasabah atau "single investor identification number" (SID),”Harus menjadi nasabah terlebih dahulu untuk melakukakan pemesanan saham IPO," ucapnya. (bani)