Pengusaha Desak Pemerintah Tertibkan Bisnis Online

Jumat, 14/11/2014

NERACA

Jakarta – Ketua umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi meminta kepada pemerintah dalam hal ini Kemeneterian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) untuk menertibkan dan membuat aturan yang jelas untuk bisnis perdagangan online di Indonesia. Menurut Sofjan, aturan baru tersebut dirasa perlu untuk mengendalikan bisnis online, termasuk yang skalanya sudah global.

Ia menjelaskan salah satu aturan yang perlu dikeluarkan yaitu terkait dengan pajak perdagangannya. Sofjan berharap agar pemerintah ikut adil dalam menerapkan pajak, tidak hanya bisnis real namun juga bisnis yang melalui dunia maya. “Itu saya pikir Kemenkominfo bagaimana harusnya peraturannya untuk semuanya fair lah. Kalau bayar ya semua bayar. Tapi bagaimana mengontrolnya kayak apa juga,” ujar Sofjan di Jakarta, Rabu (12/11).

Sofjan menegaskan, semua bentuk perdagangan termasuk transaksi melalui online harus dikenakan pajak. “Kalau perdagangan dalam arti fisiknya itu bisa kita pajakin mereka, karena itu mereka harus kirim barang mereka. Itu bisa yang trading barang-barang melalui IT. Yang e-trading, itu semua bisa kita lakukan,” jelasnya.

Sofjan menyayangkan aturan pengawasan bisnis perdagangan online di Indonesia yang belum jelas. “Cuma yang saya belum jelas, dan you harus tanya sama Menkominfo itu, yang melakukan misalnya bagaimana perusahaan seperti google dan lain-lain mereka bayar tax atau nggak. Itu saya belum tahu bagaimana kontrolnya,” tandasnya.

Chief Executive Officer Cyber Park Indonesia Dedi Yudiant mengungkapkan bisnis online telah merugikan Indonesia miliaran dolar AS karena pengawasan pajak dari transaksi online belum tersentuh sama sekali. “Jika Kementerian Perdagangan menyatakan transaksi perdagangan melalui online mencapai ratusan miliar dolar, bisa dihitung berapa pajak atau Ppn transaksi sebesar 10% yang hilang sebagai pendapatan negara,” katanya.

Diungkapkannya, pebisnis online sebagaian besar berbasis di Jepang, Tiongkok, Malaysia, Singgapura, Thailand dan negara lainnya. “Selama ini, pengawasan dan pajak dari transaksi secara fisik sudah berjalan baik, namun pajak dari ruko maya atau online ini belum tersentuh. Kita harus pikirkan mendapatkan pajak dari transaksi online yang diperkirakan kedepannya akan semakin marak dengan tingkatan transaksi yang tinggi,” ujarnya.

Dalam catatan, pangsa pasar e-commerce di dalam negeri sendiri diperkirakan akan terus tumbuh. Tahun 2015 mendatang pangsa pasar e-commerce diprediksi akan mencapai US$ 10 miliar, dan dalam pertumbuhan dalam tiga hingga empat tahun ke depan akan mendekati 40%.

Bisnis e-commerce dunia pada tahun 2013 lalu tercatat sebesar US$ 1,25 triliun. Tahun ini bisnis e-commerce diramal masih akan tumbuh hingga mencapai US$ 1,5 triliun. Di Indonesia sendiri, bisnis e-commerce pada tahun lalu tercatat mencapai US$ 7,2 miliar.

Para pemain e-commerce lokal pun banyak bersolek untuk mencuil pendapatan. Blibli.com menargetkan pertumbuhan penjualan tiga kali lipat pada tahun depan dan tak segan merogoh kocek untuk membangun gudang dengan luas sekitar 3.000 meter persegi.

Pendiri situs penjualan Lazada.com, Fung Fuk mengungkapkan bisnis online juga tengah menggeliat di seluruh dunia. Hanya saja diakuinya banyak aturan yang belum pasti dalam berdagang di dunia maya. "Di seluruh dunia masih mencari edukasi bagi online," kata Fung.

Meski ramai, Fung menegaskan bahwa skala pelaku bisnis online masih kecil di Indonesia. Menurutnya, masih di bawah 30 persen. "Bisnis (secara) online itu masih bayi kalau di Indonesia walaupun ramai," ungkapnya. Dia menerangkan peran pemerintah dan perusahaan telekomunikasi dianggapnya masih kurang dalam kontribusi mendorong bisnis online. "(Targetnya) nantinya akan 80 persen secara nasional," jelasnya.

Di sisi lain, Fung menegaskan meski marak toko online, para pedagang fisik tak perlu khawatir bakal ditinggal pembelinya. Pasalnya, dalam beberapa aspek, penjualan langsung tak tergantikan. “Menggantikan secara keseluruhan toko-toko fisik, itu tidak. Soalnya tak bisa digantikan. Soalnya (dagangannya) bisa disentuh atau dicoba,” terangnya.

Fung Fuk Lestario mengatakan bisnis perdagangan online atau e-commrce di Indonesia masih sangat menggiurkan. Fung memprediksi omset e-commerce bisa meningkat setiap tahun, dari Rp 200 juta menjadi Rp 1 miliar atau lima kali lipat. "Pangsa pasar di Indonesia masih terbuka luas," katanya.

Saat ini, masih ada 70 juta penduduk yang belum bisa mengakses internet. Fung menilai hal tersebut sebagai pasar yang masih harus dikejar. Apalagi, menurut dia bisnis online di Indonesia masih minim pesaing. Jumlah pemain besar hanya lima, sementara pasar yang ingin digapai masih cukup luas.