Indonesia Gandeng 60 Pengusaha dari Aljazair

Perkuat Ekspor Non Migas

Kamis, 13/11/2014

NERACA

Jakarta - Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) Kementerian Perdagangan menggandeng sekitar 60 pelaku usaha Aljazair untuk meningkatkan kerja sama perdagangan Indonesia dan Aljazair dalam sebuah pertemuan bisnis. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat surplus ekspor nonmigas Indonesia ke Aljazair yang saat ini berada di kisaran US$ 104,79 juta.

Tren perdagangan Indonesia-Aljazair selama periode 2009-2013 memperlihatkan peningkatan yang positif sebesar 25,91%. Pada 2013, nilai total perdagangan Indonesia-Aljazair mencapai US$ 619,77 juta. Nilai total perdagangan nonmigas mencapai US$ 242 juta. Sedangkan nilai ekspor produk nonmigas Indonesia ke Aljazair tercatat sebesar US$ 240,53 juta dan nilai impor produk nonmigas Indonesia sebesar US$ 1,4 juta. Indonesia sempat mengalami surplus sebesar US$ 239,05 juta.

Namun, periode Januari-Agustus 2014 neraca perdagangan defisit akibat impor migas. Nilai total perdagangan Indonesia-Aljazair mencapai US$ 405,09 juta, dengan perincian nilai ekspor Indonesia sebesar US$ 105,73 juta dan nilai impor sebesar US$ 299,36 juta, sehingga Indonesia defisit sebesar US$ 193,63 juta. Defisit tersebut disebabkan tingginya impor migas Indonesia dari Aljazair.

Kendati demikian, kinerja ekspor nonmigas Indonesia masih mengalami surplus sebesar US$ 104,79 juta, dengan nilai ekspor nonmigas sebesar US$ 105,73 juta dan impor sebesar US$ 0,94 juta.

Delegasi Aljazair terdiri atas perwakilan Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Biskra, perwakilan National Agency for Foreign Trade Promotion (ALGEX), perwakilan Yayasan Persahabatan Indonesia-Aljazair, dan pelaku usaha Aljazair.

“Para pelaku usaha Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan pertemuan bisnis ini dengan maksimal untuk mempromosikan produk-produk yang berkualitas ekspor kepada para pelaku usaha Aljazair,” ungkap Direktur Jenderal PEN Nus Nuzulia Ishak di Jakarta, Rabu (12/11).

Kunjungan delegasi Aljazair ini juga merupakan implementasi joint statement antara Ditjen PEN dan ALGEX yang ditandatangani pada 29 Mei 2014 di Alger, Aljazair. Joint statement tersebut mencakup kesediaan kedua negara untuk lebih meningkatkan hubungan antara komunitas bisnis kedua negara dan mendorong mereka untuk menjajaki berbagai prospek guna memperkuat hubungan bisnis.

Kedua belah pihak juga bersepakat mengenai pentingnya pengembangan program kerja antara komunitas bisnis yang berminat mencapai keuntungan bersama di antara kedua negara. “Juga disepakati peningkatan kerja sama bilateral ke tingkat yang lebih tinggi melalui upaya promosi dan saling tukar informasi dalam bidang ekonomi yang berdasarkan pada kesetaraan, timbal balik, dan saling menguntungkan bagi kedua negara,” imbuh Nus.

Kunjungan delegasi Aljazair ke Indonesia sekaligus dalam rangka berpartisipasi pada pameran makanan internasional Interfood Indonesia Expo pada 12-15 November 2014 di Kemayoran, Jakarta. Sejumlah produk Indonesia yang diburu pelaku usaha Aljazair diantaranya building material, furnitur, sarung tangan, alat kesehatan, kayu dan produk kayu, kopi dan teh, serta jasa konstruksi.

Selama ini, produk ekspor nonmigas utama Indonesia ke Aljazair antara lain palm oil and its fractions, but not chemically modified (HS 151190); edible mixtures or preparations of animal or vegetable fats or oils or of fractions of different fats and oils covered by headings 1501 through 1515 (HS 151790); milk and cream, concentrated, not sweetened, in powder, granules or other solid forms, of a fat content by weight, exceeding 1,5% (HS 040221); combined refrigerator- freezers fitted with separated external doors (HS 841810); dan coffee, not roasted, not decaffeinated (HS 090111).

Sementara produk impor nonmigas Indonesia dari Aljazair terdiri dari waste and scrap of unbleached kraft paper or paperboard or of corrugated paper or paperboard (HS 470710), dan dates, fresh, or dried (HS 080410).