Menuju Cashless Society

NERACA

Penggunaan uang nontunai (e-money) di Indonesia masih rendah. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN, jumlah penggunaan uang non tunai di Indonesia masih di bawah 1%. Hal ini disebabkan lantaran masyarakat masih belum memahami keberadaan instrument non tunai. Selain itu, infrastruktur yang belum merata sebarannya dan belum terstandarisasi, serta interkoneksi yang masih terbatas juga menjadi penyebab minimnya penggunaan uang non tunai.

Perlu diketahui, jika dibandingkan dengan uang tunai, transaksi dengan penggunaan uang non tunai relatif lebih aman dan nyaman. Selain itu, pemanfaatan melalui penggunaan uang non tunai dalam kecepatan transaksi, berdampak pada transaksi bisnis secara keseluruhan yaitu proses menjadi lebih transparan dan akuntabel.

Bandingkan dengan transaksi yang menggunakan uang tunai dimana resiko pencurian dan perampokan terjadi kala melakukan transaksi dalam jumlah besar. Ketidakefisienannya juga terlihat pada saat akan meakukan pembayaran di loket-loket pembayaran yang antriannya cukup panjang sehingga memakan waktu lama.

Demi membangun budaya masyarakat agar mengurangi transaksi dengan uang tunai, Bank Indonesia (BI) pusat beserta Pemerintah sudah meluncurkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) pada tanggal 14 Agustus 2014 lalu di Jakarta. Pelaksanaan program ini bisa mengurangi beban bank sentral dalam pencetakan uang. Selain itu, peredaran uang tunai di masyarakat juga lebih terkendali.

Dalam mensosialisasikan electronic-Money (e-Money), setiap bank memiliki strategi tersendiri. Seperti BNI yang mengeluarkan Tapcash untuk produk e-Money. Untuk penjualan Tapcash, BNI bekerjasama dengan pihak penyelenggara event seperti Javajazz ataupun instansi tertentu. Berbeda dengan BNI, Bank Mandiri menawarkan produk e-Money untuk uang elektroniknya. Hingga kini, secara nasional jumlah penggunae-Money Mandiri sebanyak empat juta orang.

Tak hanya perbankan, operator seluler XL juga mendukung program pemerintah dalam melakukan kampanye GNNT yang dicanangkan oleh BI dengan memperkenalkan produk uang elektronik XL Tunai yang dapat digunakan di beberapa merchant termasuk di tempat pelaksanaan acara pencanangan GNNT di area Mangga Dua serta memberikan potongan harga hingga 50%.

Sedangkan oleh pemerintah sendiri, penggunaan uang nontunai sudah diadopsi melalui peluncuran tiga kartu sakti, yaitu Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, dan Kartu Keluarga Sejahtera. Keunggulan bantuan non-tunai ini ada pada sistem layanan perbankan yang sudah digunakan, yakni Layanan Keuangan Digital (LKD). Upaya tersebut diharapkan bisa membangun budaya masyarakat agar mengurangi transaksi dengan uang fisik.

BERITA TERKAIT

Langkah Menuju “100 Smart City”

Di Indonesia terdapat 514 kabupaten/kota. Dengan jumlah sebanyak itu, maka pengembangan smart city di daerah tidak bisa dikerjakan asal-asalan. Perlu…

Ambon Menuju Kota Musik Dunia

Pemulihan Kota Ambon terus dilakukan pasca konflik silam. Kini Ambon terus berlari untuk menobatkan diri sebagai "Kota Musik" dunia."Ambon manise",…

Menuju Ekonomi Tak Berbiaya Tinggi ala Presiden Jokowi

Oleh: Hanni Sofia Soepardi Ekonomi berbiaya tinggi menjadi sesuatu yang menjadi semacam ambisi bagi Joko Widodo (Jokowi) untuk meruntuhkannya bahkan…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Mengajari Anak Menabung, Berbelanja, dan Berbagi

Oleh: Yulius Ardi Head, Managed Investment Product Standard Chartered Bank   Akhir musim sekolah telah diambang pintu dan anak-anak akan…

Sukuk Bisa Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk bisa…

Keuangan Syariah: - Akan Stagnan Atau Butuh Terobosan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad meminta inovasi dan terobosan pelaku industri untuk mengembangkan keuangan syariah, karena tanpa…