Diuji, Efektivitas Program "Genta Pasar Modal"

Rabu, 12/11/2014

NERACA

Jakarta – Terinspirasi dari gerakan Ayo Menabung dari Bank Indonesia, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama lembaga SRO lainnya dan didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar Gerakan Nasional Cinta (Genta) Pasar Modal pada hari ini (12/11). Adapun tujuan program ini adalah, untuk mendekatkan lebih dekat industri pasar modal kepada masyarakat luas dan meningkatkan peran serta masyarakat lokal berinvestasi di pasar modal.

Direktur Pengembangan BEI, Frederica Widyasari Dewi mengatakan, Gerakan Nasional Cinta Pasar Modal bertujuan untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan cara berinvestasi yang benar di pasar modal, melalui program sosialisasi dan edukasi,”Lalu, tujuan dari Genta juga mendorong investor tradisional bergeser menjadi investor pasar modal dengan memberikan gambaran kelebihan investasi di pasar modal dibandingkan investasi lain. Dan, memberi gambaran bagaimana investasi di pasar modal menjadi alternatif investasi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,”ujarnya, kemarin.

Keseriusan BEI meningkatkan peran investor lokal, bukan kali pertama dengan gerakan tersebut. Namun juga melalui Investor Summit. Ambisi BEI mengejar ketertinggalan industri pasar modal dengan negara lain dari segi jumlah investor sangat beralasan. Pasalnya, minimnya jumlah investor (dilihat dari pemilik subrekening di pasar modal) yang saat ini sangat minim, dan sebaliknya belum berkurangnya dominasi pemodal asing di bursa saham.

Dengan jumlah penduduk sekitar 20 juta jiwa, investor lokal yang berkiprah di pasar modal nasional dinilai masih sangat minim, yakni 400 ribu orang, atau kurang dari 0,2% total penduduk. Dibandingkan Malaysia dan Singapura, negara kita masih jauh tertinggal. Jumlah investor di Malaysia sudah 20% dan Singapura 60% dari total penduduk.

Dalam setahun, jumlah pemodal lokal hanya bertambah rata-rata 10 ribu orang. Dibandingkan dengan pasar modal Tiongkok, yang mulai aktif sekitar 1993, yang kini memiliki investor lokal sebanyak 110 juta, Indonesia sangat jauh tertinggal. Selain jumlah investor lokal, persoalan klasik pasar modal nasional selama ini adalah dominasi investor asing dalam transaksi saham. Pemodal mancanegara umumnya menguasai lebih dari 50% transaksi di bursa, bahkan pernah mencapai 80%–90%. Itu berarti, manfaat bursa saham nasional justru lebih banyak dinikmati untuk kepentingan penduduk bangsa lain.

Hal ini pulalah yang menyebabkan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia tidak bisa menjadi indikator perekonomian nasional karena pergerakan indeks lebih banyak ditentukan investor mancanegara. Oleh karena itu, menjawab tantangan tersebut, "Genta Pasar Modal" bisa menjadi kuncinya lantaran program ini akan menjadi agenda yang bersifat jangka panjang dan berkelanjutan serta terpadu dengan melibatkan beberapa pihak seperti dari akademisi, anggota bursa, manajer investasi, dan emiten. Diharapkan masyarakat domestik dapat menikmati keuntungan yang dihasilkan oleh pasar modal Indonesia.

Menurut Frederica, program "Genta Pasar Modal" setidaknya dapat membuat investasi saham tidak dianggap eksklusif oleh masyarakat Indonesia, “Selama ini masyarakat masih menilai investasi di pasar modal itu eksklusif. Padahal masyarakat bisa berinvestasi hanya dengan nilai yang relatif tidak terlalu besar,” ujarnya.

Terkait dengan program tersebut, BEI akan meluncurkan produk "Sahamku" dan "Reksadanaku" bernilai Rp100.000. Artinya, hanya dengan uang Rp100.000 masyarakat sekarang sudah bisa menjadi investor di pasar modal, baik untuk transaksi saham secara langsung maupun melalui reksa dana.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan, sosialisasi pasar modal kini tidak lagi harus fokus di kota-kota besar, tetapi juga ke daerah-daerah pedalaman seperti di Kalimantan dan Sumatera. Pasalnya, masyarakat berkantong tebal tidak sedikit di wilayah tersebut. Itu merupakan pasar yang sangat potensial, ”Kami saat ini masih menganggap pasar perkotaan jadi target utama, padahal orang kaya saat ini banyak di daerah,”ujarnya.

Menurut dia, saat ini sosialisasi pasar modal belum terpadu dengan baik. Artinya, sosialisasi masih terpusat di perkotaan. Berdasarkan data di salah satu bank swasta yang mulai menyasar ke daerah-daerah, dalam satu kepala keluarga banyak yang memiliki uang Rp10 miliar-Rp20 miliar, dan mereka suka belanja lewat online. Melihat hal ini, semua stakeholders harus bergerak cepat. Apalagi sebentar lagi Indonesia masuk dalam komunitas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). bani

Topik Terkait

sahamku dan reksadanaku