Minat Masyarakat Masih Kurang di Bursa

Imbas Bunga Bank Tinggi

Rabu, 12/11/2014

NERACA

Jakarta – Mengejar ketertinggalan dengan industri pasar modal di kawasan regional, baik itu dari tingkat kapitalisasi, produk investasi, jumlah emiten hingga jumlah investor lokal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama lembaga SRO lainnya dan menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar program Gerakan Nasional Cinta (Genta) Pasar Modal yang dimaksudkan untuk pendalaman pasar modal dan termasuk meningkatkan jumlah investor lokal.

Namun tahukah, rendahnya peran partisipasi investor lokal di pasar modal bukan hanya karena minimnya sosialisasi dan edukasi, tetapi juga karena tawaran bunga bank yang tinggi menjadi alasan masyarakat lebih memilih menyimpan dananya di bank ketimbang di pasar modal, “Indonesia memang agak beda dengan negara lain. Bunga bank rata-rata 7% dan banyak juga yang menawarkan lebih dari itu sehingga masyarakat lebih memilih menaruh dananya di bank karena masih menguntungkan,”kata Direktur Pengembangan BEI, Frederica Widyasari Dewi di Jakarta, kemarin.

Diakuinya, industri perbankan di Indonesia masih menawarkan bunga yang sangat tinggi jika dibanding degan negara lain. Alhasil kondisi ini membuat dampak pada pengetatan likuiditas dana di masyarakat,” Situasi di Indonesia tersebut berbeda jika dibanding dengan Jepang. Dimana di negara tersebut, jika masyarakat menaruh dana di bank justru akan rugi karena biaya administrasi terhitung besar. Selain itu, pajak yang diberikan juga cukup tinggi,”ungkapnya.

Menurut Frederica, seharusnya masyarakat Indonesia menghitung matang untung rugi menaruh dana di bank. Sebenarnya, menaruh dana di bank tidak sepenuhnya bisa memperoleh imbal hasil besar. Tidak hanya itu, masyarakat Indonesia seharusnya sudah tidak hanya memperhitungkan bunga yang diberikan saja namun juga memperhitungkan angka inflasi. "Ada inflasi yang cukup tinggi, tapi masyarakat tidak tahu itu," tuturnya.

Oleh sebab itu, dia menerangkan, BEI dan juga beberapa pihak lain akan mendorong masyarakat di Tanah Air untuk berinvestasi di pasar modal dengan mengenalkan program Gerakan Nasional Cinta (Genta) Pasar Modal. Gerakan ini, diharapkan menyerupai program yang dulu telah ada yakni gerakan nasional 'Ayo Menabung'.

Dalam jangka panjang, dia menargetkan 1% penduduk Indonesia memiliki rekening di pasar modal,”Kita masih melihat jangka panjang, 1% dari jumlah penduduk kita yang saat ini 230 juta juwa. Sekarang kalo dilihat jumlah sub rekening (subrek) sekitar 450 ribu. Reksadana, ORI sekitar 1 juta. Memang masih jauh. Kita mesti ke sana," ujarnya.

Kata Frederica, untuk meningkatkan jumlah investor lokal di pasar modal, pihaknya terus berupaya menggenjot kalangan akademisi khususnya pelajar dan mahasiswa untuk terjun sebagai pemain di pasar modal,” "Kayaknya mereka beli saham yang dikenali sehari-hari. Mereka, misal produk makanan, mereka pragmatis,”tuturnya.

Pihaknya mengaku selama ini masih meluncurkan program yang masih bersifat investasi bukan sebagai trader. Namun, ke depan dia mengatakan tak menutup kemungkinan mengadakan program bagi pelajar jadi trader pasar modal. (bani)