Perangi Investasi Bodong Lewat Edukasi - OJK Merilis 262 Investasi Bodong

NERACA

Jakarta –Ditengah minimnya literasi keuangan masyarakat, menjadi ladang empuk bagi pelaku kejahatan menawarkan produk investasi bodong dengan keuntungan yang berlipat dan cepat instan. Oleh karena itu, agar tidak banyak korban kedepannya, pihak PT Bursa Efek Indonesia terus melakukan edukasi kepada investor maupun calon investor,”Kita terus mengedukasi masyarakat lewat seminar maupun sekolah pasar modal sebagai langkah preventif terhadap investasi bodong yang banyak terjadi," kata Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Frederica Widyasari di Jakarta, Senin (10/11).

Menurutnya, edukasi ini menjadi penting untuk bekal masyarakat dalam memilih dan memilah produk investasi yang saat ini berkembang pesat. Apalagi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengindentifikasi ada 262 penawaran investasi bodong karena di luar pengawasan OJK.

Kata Frederica, masyarakat perlu berhati-hati dan tidak gampang tergiur oleh investasi bodong yang kerap menawarkan imbal hasil (return) tidak masuk akal. Selain itu, para pelaku biasanya bergerilya mendekati calon investor dengan pembawaan yang meyakinkan,”Saya punya cerita, waktu kami sosialiasi di Batam, mereka (pelaku investasi bodong) sudah ada di antara para peserta, menarik minat calon investor agar berinvestasi dengan imbal hasil yang tidak masuk akal bahkan mengatasnamakan BEI,"ujarnya.

Saat dikonfirmasi, para pelaku mengelak dengan mengatakan BEI yang mereka maksudkan adalah Bursa Efek Inggris. Sementara Presiden Direktur PT Astronacci International, Gema Goeryadi menambahkan, maraknya investasi bodong belakangan ini akibat kurangnya pengawasan otoritas kepada anggota pialang berjangka resmi dalam menerapkan strategi marketingnya.

Mereka seringkali hanya menawarkan keuntungan-keuntungan tidak wajar dengan risiko yang kecil,”Banyak anggota pialang berjangka resmi tidak menggunakan strategi marketing berbasis human spirit (Marketing 3.0),"ungkapnya.

Dia menjelaskan, mereka seringkali hanya menawarkan keuntungan-keuntungan besar tanpa mengedukasi secara lengkap tentang risiko industri berjangka yang memiliki mekanisme perdagangan dengan leverage margin tinggi. "Investor dibuai dengan iming-iming keuntungan besar tanpa diedukasi dengan benar," kata dia.

Mereka kata Gema, seringkali bermain dalam ranah greed dan fear dari pelaku pasar yang masih awam sehingga hal ini berujung pada kerugian masif. Di satu sisi, kata dia, pialang resmi tersebut harus belajar sekaligus menuai hasil akibat penerapan marketing yang tidak beres dimana hanya fokus untuk mendapatkan komisi tanpa berpikir bagaimana nasib investornya.

Harus Bijaksana

Gema juga mengungkapkan, OJK harus lebih bijaksana sehingga tidak membuat peperangan antara regulator resmi pemerintah yakni Badan Pengawas Perdagangan Berjangka dan Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemdag) menyusul lebih dari delapan perusahaan berjangka resmi ikut masuk dalam daftar tersebut.

Selain itu, perusahaan informasi teknologi (IT) seperti Talk Fusion yang menjual software conference online secara multi level marketing (MLM) ikut masuk dalam daftar hitam OJK tersebut. "Kami melihat sebuah kejanggalan dimana adanya indikasi peperangan antara 2 regulator raksasa di Indonesia dan apabila di tarik lebih jauh nampaknya peperangan antara oknum 2 kementrian penting (Keuangan dan Perdagangan)," kata Gema.

Bagaimana mungkin perusahaan pialang berjangka yang mendapat izin resmi dari Bappebti masuk dalam daftar investasi bodong bersanding dengan koperasi-koperasi ilegal dan money game yang memang melakukan praktik bodong. "Hal ini membuat investor bingung dan semakin resah mengingat dua regulator resmi saling tuduh dan kontradiktif," kata dia.

OJK mencatat ada 262 investasi bodong yang kebanyakan ditawarkan melalui website. Investasi ini terdiri atas berbagai jenis, seperti investasi uang, saham, penanaman modal, hingga investasi pulsa. Dari 262 investasi, terdapat 218 penawaran yang tidak memiliki kejelasan izin usaha dari otoritas berwenang. Bahkan 44 penawaran investasi yang izinnya telah dikeluarkan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka dan Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemdag) dan Kementerian Koperasi dan UMKM serta Kementerian Hukum dan HAM. Mereka di antaranya aucklandfarm.com, bma21.com, gainscope, CV Anugerah Tekstil dan CV Cahaya Mulya. (bani)

Related posts