Dirjen PB: Tiga Strategi Genjot Produksi Ikan Hias

Perikanan Budidaya

Selasa, 11/11/2014

NERACA

Depok – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (Dirjen PB), Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, menyebut, Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam ikan hias yang cukup besar. Pemanfaatan potensi ikan hias ini sampai sekarang belum dilakukan secara optimal. Hal ini dapat dilihat dari ekspor ikan hias Indonesia yang masih harus bersaing dengan negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Singapura.

“Infrastruktur pengembangan produksi ikan hias harus terus ditingkatkan. Khususnya yang terkait dengan distribusi, transportasi dan juga logistik. Untuk dapat berbicara di era Pasar Bebas ASEAN, kita harus melakukan sinergi seluruh kekuatan dan stake holder yang terkait dengan ikan hias sehingga mampu memperkuat mata rantai produksi ikan hias dari hulu sampai hilir. Dengan begitu kita akan mampu bersaing dengan negara lain bahkan mampu menguasai pasar ikan hias secara global,” kata Slamet pada saat membuka kongres Perhimpunan Ikan Hias Indonesia (PIHI) di Depok, Jawa Barat, belum lama ini.

Slamet mengatakan bahwa pada tahun 2013, Indonesia berada di urutan ketiga negara pengekspor ikan hias dunia setelah Spanyol dan Jepang. “Nilai ekspor ikan hias Indonesia saat ini adalah Rp 1,7 triliun yang didominasi oleh ikan hias air tawar. Potensi ikan hias air laut perlu lebih digali secara optimal untuk meningkatkan volume dan nilai ekspor ikan hias Indonesia. Berdasarkan data statistik perikanan budidaya, volume produksi ikan hias selama periode 2010 – 2013 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 18,9% pertahun yaitu 605 juta ekor pada tahun 2010 dan mencapai 1,137 miliar ekor pada tahun 2013,” kata Slamet.

Untuk meningkatkan produksi ikan hias Indonesia dan menjadikan menjadikan Indonesia sebagai pengekspor ikan hias terbesar di dunia, Slamet menguraikan beberapa strategi. “Strategi pertama adalah penguatan produksi dengan cara menyediakan induk-induk unggul ikan hias. Induk unggul dapat di produksi melalui penerapan teknologi sehingga ikan tahan terhadap serangan penyakit dan ikan menjadi lebih menarik. Karena keunggulan yang ditawarkan oleh ikan hias adalah keindahan dan keunikannya. Tugas dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) salah satunya adalah menghasilkan induk unggul ikan hias ini,” papar Slamet.

Slamet mengungkapkan strategi berikutnya yaitu meningkatkan permodalan. “Permodalan sangat dibutuhkan untuk memajukan dan membesarkan suatu usaha budidaya. Peran perbankan diperlukan untuk memberikan suntikan modal kepada para pembudidaya ikan hias. Kita akan terus mendorong perbankan untuk menyentuh pembudidaya ikan hias, karena usaha ini juga memiliki prospek yang cukup bagus,” ungkap Slamet.

Strategi ketiga adalah hillirisasi industri ikan hias. “Kita juga harus perhatikan aspek pemasaran dari produk ikan hias. Tanpa memperhatikan pasar ikan hias, maka produksi yang sudah meningkat dengan kualitas yang bagus akan terhambat karena terkendala dengan pasar dan pemasaran. Jika sektor hulu hingga hillirinya bisa dikuasasi otomatis untuk mencapai target menjadi pengekspor ikan hias terbesar dunia bukan suatu hal yang mustahi,” papar Slamet.

Untuk mendukung penerapan strategi tersebut, Ditjen Perikanan Budidaya (DJPB) melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) melakukan penyediaan induk dan benih unggul antara lain BBPBAT Sukabumi (koi, maskoki, arwana, cupang, manfish, sumatra, balasark dan coridoras), BBPBL Lampung (kuda laut dan clown fish), BBAT Jambi (arwana, botia, belida, benih jelawat dan benih kapiat), BBAP Situbondo (benih kerapu tikus), BBL Ambon (angel piyama, banggai cardinal, blue devil, mandarin fish dan clown fish), BBAT Mandiangin (koi, komet, arwana dan belida) dan BBAT Tatelu, Sulawesi Utara (siklid, komet, maskoki, dan koi).

Sedangkan untuk mendorong partisipasi perbankan, DJPB juga membentuk kawasan minapolitan ikan hias di Kabupaten Blitar, Jawa Timur sehingga melalui pengembangan suatu kawasan yang terintegrasi, pihak perbankan akan lebih mudah dalam memberi akses permodalan. Hal ini juga terkait dengan terintegrasinya sistem produksi ikan hias dan pemasaran sehingga para pembudidaya tidak kesulitan untuk memasarkan produk ikan hias mereka.

“Sinergi juga kita lakukan dengan Perhimpunan Ikan Hias Indonesia (PIHI), yang merupakan wadah bagi para pemangku kepentingan yang bergerak di sector ikan hias. Dengan sinergi ini kita harapkan tujuan bersama kita yaitu menjadi produsen ikan hias terbesar dan menguasai pasar dunia akan lebih mudah tercapai,” lanjut Slamet.

Sakah satu contoh pembudidaya yang sukses berbudidaya ikan hias adalah Pak Ma’mun, pembudidaya sekaligus Ketua Kelompok Budidaya Ikan Hias (POKDAKAN) Curug Jaya 2, yang berlokasi di Kel. Curug, Kec. Bojongsari, Kota Depok. Menurut Pak Ma’mun, dari usaha budidaya dua jenis ikan hias yaitu Cardinal dan Neon Tetra, omzet yang didapat bisa mencapai Rp. 5 – 10 juta sebulan. “Dari seratus akuarium dengan tebar 1000 ekor per akuarium ukuran S, saya bisa dapatkan 50.000 ekor ikan hias cardinal ataupun tetra. Dengan harga jual Rp. 100 – 200 per ekor, saya bisa dapat untung Rp. 3 – 7 juta sebulan. Lumayan sebagai penghasilan dan mampu mempekerjakan remaja di sekitar rumah,” kata Ma’mun.

Saat ini di wilayah Kelurahan Curug, Kec. Bojong Sari Depok dalam satu bulan bisa menghasilkan 10.000.000 ekor dari 200 pembudidaya yang terbagi dalam enam kelompok, Jika di jual dengan harga Rp 200,- /ekor, omset penjualan ikan hias di kawasan tersebut mencapai Rp 2 miliar per bulan.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014, pembudidaya ikan hias menempati urutan pertama rumah tangga usaha perikanan dengan pendapatan tertinggi sebesar Rp. 50 juta per tahun. “Ini menjadikan usaha budidaya khususnya ikan hias menjadi usaha yang menjanjikan dan dapat diandalkan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus menyerap tenaga kerja,” pungkas Slamet.