Delta Dunia Beli Alat Berat US$ 32,8 Juta

Selasa, 11/11/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun industri batu bara saat ini belum ada pemulihan harga, namun tidak menyurutkan niat ekspansi bisnis perusahaan jasa pertambangan batu bara PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) untuk menambah alat berat baru. Tahun ini, perseroan berencana membeli alat-alat berat senilai US$ 32,8 juta tahun ini. Dana pembelian telah dicadangkan dalam belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2014.

Direkur dan Sekretaris Perusahaan Delta Dunia Makmur, Errinto Pardede mengatakan, perseroan melalui anak usahanya, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), telah menandatangani pembelian alat-alat berat dengan distributor pada akhir tahun lalu dan September tahun ini,”Seluruh sisa dana belanja modal tahun ini akan terserap untuk pembelian alat berat. Pembelian alat berat senilai US$ 2,8 juta dan US$ 30 juta,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Hingga kuartal III-2014, perseroan telah memanfaatkan belanja modal hingga US$ 10 juta. Penambahan alat berat juga akan dilanjutkan tahun depan dan telah dituangkan dalam anggaran belanja modal sebesar US$ 50 juta pada 2015. Penambahan alat berat bertujuan untuk mengantisipasi penambahan kontrak baru pertambangan batu bara. Adaun sumber dana capex berasal dari kas internal.

Tahun depan, menurut dia, perseroan akan gencar mencari kontrak-kontrak baru penambangan batu bara. Menurut Errinto, meskipun pasar batu bara saat ini tengah mengalami kelesuan, tetapi potensi pasar komoditas tersebut masih cukup besar ke depannya.

Permintaan batu bara pada tahun-tahun mendatang diyakini masih cukup besar, terlebih pemerintahan baru sudah mencanangkan pembangunan pembangkit listrik baru hingga 35.000 mega watt (MW). “Bahan bakar yang akan digunakan untuk pembangkit listrik kemungkinan besar masih batubara,” jelas Errinto.

Pada kuartal III-2014, Delta Dunia berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 17 juta, meningkat cukup signifikan dibndingkan dengan rugi bersih pada periode sama tahun lalu senilai US$ 13,3 juta. Sementara itu, pendapatan perseroan tercatat sebesar US$ 458,9 juta, turun dibandingkan dengan periode sama tahun lalu sebesar US$ 540,5 juta.

Tercapainya peningkatan laba bersih perseroan yang cukup signifikan, merupakan hasil dari kinerja yang secara konsisten fokus pada efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas. “Dengan pengawasan yang ketat terhadap belanja modal dan modal kerja, kami juga telah membukukan arus kas positif yang digunakan untuk melakukan pembayaran pokok utang sebesar US$ 149 juta tahun ini,” jelas Errinto.

Dengan posisi kas sebesar US$ 155 juta, net debt tercatat turun menjadi US$ 585 juta pada akhir September 2014. Secara operasional, perseroan mencatat produksi pengupasan tanah sebesar 210 juta bcm dan produksi batubara sebesar 23 juta ton. Pencapaian ini sejalan dengan rencana perseroan

Asal tahu saja, tahun depan perseroan menyiapkan belanja modal sebesar US$ 50 juta atau setara Rp 600 miliar. Perusahaan pertambangan itu akan menggunakan dana tersebut untuk meningkatkan kinerja tahun depan. (bani)