Sepi Transaksi, IHSG Kembali Terkoreksi

Selasa, 11/11/2014

NERACA

Jakarta – Belum adanya kepastian pemerintah soal kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menjadi hambatan terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang seharian berada di zona merah. Belum adanya sentiment positif, memaksa IHSG Senin awal pekan ditutup terkoreksi 22,037 poin (0,44%) ke level 4.965,387. Sementara Indeks LQ45 ditutup turun 3,748 poin (0,44%) ke level 843,538.

Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada mengatakan bahwa laju bursa saham global yang mayoritas bergerak positif tidak mampu memberikan imbas ke indeks BEI, ditambah sentimen di dalam negeri juga belum cukup menopang laju IHSG,”Positifnya mayoritas laju bursa saham Eropa dan Asia tampaknya tidak banyak berimbas pada laju IHSG," katanya di Jakarta, Senin (10/11).

Kendati demikian, lanjut dia, nilai tukar rupiah yang pada awal pekan ini (Senin, 10/11) terapresiasi menahan tekanan indeks BEI lebih dalam. Di sisi lain, investor asing kembali masuk ke pasar saham domestik dengan mencatatkan beli bersih (foreign nett buy) sebesar Rp176,9 miliar.

Sementara analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan bahwa walaupun IHSG BEI tertekan, sebagian pelaku pasar mulai akan mengambil langkah akumulasi saham secara selektif di beberapa saham berkapitalisasi besar dan lapis dua,”Aksi itu merupakan antisipasi terjadinya kenaikan harga BBM yang dikabarkan terjadi sebelum Desember tahun ini,”ungkapnya.

Berikut indeks BEI diproyeksikan masih akan bergerak tertekan. Dirinya merekomendasikan beberapa saham yang dapat diakumulasi, di antaranya Telekomunikasi Indonesia (TLKM), Wijaya Karya (WIKA), Adaro Energy (ADRO), Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Diperkirakan indeks bergerak di kisaran 4.840--5.075 poin.

Pada perdagangan kemarin, akhirnya hanya satu sektor yang bertahan di zona hijau, yaitu sektor konstruksi. Saham-saham lapis dua terkena koreksi cukup dalam. Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 182.04 kali dengan volume 4,568 miliar lembar saham senilai Rp 3,958 triliun. Sebanyak 121 saham naik, 173 turun, dan 79 saham stagnan.

Rata-rata bursa di Asia berhasil ditutup positif pada penutupan perdagangan awal pekan ini. Bursa saham Jepang menemani Indonesia di teritori negatif karena sama-sama terkena tekanan jual. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 450 ke Rp 9.500, Mayora (MYOR) naik Rp 300 ke Rp 26.200, Mayapada (MAYA) naik Rp 250 ke Rp 2.200, dan Unilever (UNVR) naik Rp 125 ke Rp 29.925.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Maskapai Reasuransi (MREI) turun Rp 650 ke Rp 4.450, Multi Bintang (MLBI) turun Rp 550 ke Rp 11.250, Gudang Garam (GGMR) turun Rp 500 ke Rp 60.800, dan Indocement (INTP) turun Rp 350 ke Rp 22.525.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup melemah tipis 6,463 poin (0,13%) ke level 4.980,961. Sementara Indeks LQ45 naik tipis 0,064 poin (0,01%) ke level 847,350. Aksi jual investor asing terjadi di saham-saham lapis dua. Saham-saham unggulan masih diburu oleh investor dalam negeri.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 99.359 kali dengan volume 2,416 miliar lembar saham senilai Rp 1,834 triliun. Sebanyak 122 saham naik, 130 turun, dan 77 saham stagnan. Bursa-bursa regional rata-rata masih bertahan di zona hijau hingga siang. Hanya pasar saham Jepang yang terkena aksi ambil untung karena sudah naik tinggi sepanjang pekan lalu.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.000 ke Rp 62.300, Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 625 ke Rp 9.675, Unilever (UNVR) naik Rp 300 ke Rp 30.100, dan Tower Bersama (TBIG) naik Rp 225 ke Rp 9.275. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Maskapai Reasuransi (MREI) turun Rp 650 ke Rp 4.450, Multi Bintang (MLBI) turun Rp 650 ke Rp 11.150, Indocement (INTP) turun Rp 325 ke Rp 22.550, dan Blue Bird (BIRD) turun Rp 250 ke Rp 7.275.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka naik 9,87 poin atau 0,20% menjadi 4.997,30, sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak menguat 2,48 poin (0,29%) menjadi 849,76,”IHSG BEI bergerak menguat meski masih terbatas di tengah antisipasi penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi," kata Analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya.

Di sisi lain, dia menambahkan bahwa pasar juga sedang menantikan kebijakan Bank Indonesia terkait dengan tingkat suku bunga acuan (BI rate) menjelang penaikan harga BBM bersubsidi. Secara teknikal, lanjut dia, IHSG BEI masih berada dalam pola pergerakan yang mendatar, fase konsolidasi diperkirakan lebih lama jika belum ada kepastian realisasi BBM.

Namun, kondisi pergerakan indeks BEI dalam jangka panjang masih dalam area tren kenaikan. Sementara Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah menambahkan bahwa sentimen BBM akan mendominasi pergerakan indeks BEI pada pekan ini,”Pelaku pasar akan menantikan besaran dari kenaikan BBM bersubsidi karena hal itu berpengaruh terhadap inflasi ke depan dan pergerakan nilai tukar rupiah,”ujarnya.

Sementara itu, bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka menguat 411,22 poin (1,75%) ke level 23.961,46, indeks Nikkei turun 125,07 poin (0,74%) ke level 16.749,18 dan Straits Times menguat 24,45 poin (0,74%) ke posisi 3.310,53.