Pembangunan Jaya Ancol Ekspansi Ke Bali

Dongkrak Pendapatan

Selasa, 11/11/2014

NERACA

Jakarta – Seiring dengan pesatnya persaingan industri rekreasi dan terbatasnya lahan, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) berencana mengembangkan ekspansi bisnisnya di luar Jakarta, yaitu di Jimbaran Bali dengan luas lahan 200 hektar. Nantinya, pembangunan rekreasi tersebut akan mix used dengan pembangunan properti.

Kata Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Gatot Setyowaluyo, ekspansi bisnis rekreasi di Bali akan dilakukan pada tahun depan. Saat ini, rencana tersebut masih dalam kajian,”Pengembangan bisnis di Bali akan menggandeng perusahaan swasta, namun belum bisa dibicarakan secara detail karena masih dalam kajian,”ungkapnya di Jakarta, Senin (10/11).

Dirinya menjelaskan, untuk pembangunan rekreasi di Bali akan menggunakan dana internal perseroan dan saat ini tengah menunggu proses izin penggunaan hak paten atau intelektual private untuk memilih wahana yang akan dipakai, apakah Universal Studio atau wahana yang ada di Disneyland Amerika. Sayangnya, Gatot belum mau menyebutkan nilai investasi pengembangan proyek rekreasi dan wisata di Bali.

Tahun depan, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 1,2 triliun. Dimana belanja modal tersebut akan digunakan untuk penambahan wahana baru dan pembiayaan bisnis properti sebesar Rp 400 miliar dan sisanya untuk reklamasi Dufan Ocean. Untuk tahun depan, penjualan ditargetkan sebesar Rp 1,3 triliun dan properti ditargetkan sebesar Rp 400 miliar, “Bisnis properti tahun ini belum bisa dihitung, karena masih tahap pembangunan. Namun baru bisa dimasukkan pada tahun depan,”kata Gatot.

Kemudian ditutupnya wahana Sea World yang tersandung masalah hukum dengan pengelolanya, Gatot menegaskan, tidak akan mempengaruhi terhadap kinerja keuangan yang signifikan pada tahun 2015. Pasalnya, kontribusi wahana tersebut masih kecil terhadap pendapatan perseroan,”Kontribusi wahana Sea World hanya 1% sampai 2% terhadap pendapatan perseroan,”ungkapnya.

Meskipun demikian, kondisi ini diakui mengurangi pilihan pengunjung untuk menikmati wahana yang ada di Dufan. Soal kasus hukum, dirinya menegaskan akan terus melanjutkan. Alasannya, bila pengelolaan Sea World ditangani perseroan akan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan sebesar 10%.

Sementara Direktur Keuangan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Arif Nugroho menuturkan, pihaknya masih mengkaji rencana menaikkan tarif masuk ke Dufan terkait dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi oleh pemerintah,”Kita masih kaji rencana naikkan tarif masuk ke Dufan, karena masih memperhitungkan costnya dan tidak hanya dari sisi BBM, tetapi juga PLN dan upah buruh,”tandasnya.

Namun demikian, dia menyakini, tahun depan target pengunjung sebesar 18 juta orang dan target laba bersih tumbuh 22% serta pendapatan tumbuh 18% bisa tercapai seiring dengan penambahan wahana baru. Asal tahu saja, Pembangunan Jaya Ancol memiliki rencana strategis hingga tahun 2020. Diantaranya bakal mengembangkan sejumlah proyek yaitu apartemen Northland, Jaya Ancol Seafornt, Ocean Breeze dan Coasta Villa.

Diharapkan dengan pengembangan bisnis tersebut, dapat meningkatkan pendapatan perusahaan dengan tumbuh sampai 17% per tahun dengan pertumbuhan laba bersih 27%. Sehingga pada tahun 2020, diharapkan pendapatan perusahaan mencapai Rp 3,7 triliun dengan laba bersih Rp 1 triliun. (bani)