Ekonomi Tumbuh 6%, Pemerintah Harus Bangun Konektivitas

DI Yogyakarta

Senin, 10/11/2014

NERACA

Yogyakarta - PT Bank Central Asia Tbk optimis terhadap Pemerintahan Presiden Joko Widodo yang menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,8% dalam APBN 2015 dapat terlampaui. Komisaris Bank Central Asia, Cyrillius Harinowo menuturkan, agar bisa mencapai target, pemerintah harus membangun konektivitas apalagi Indonesia merupakan Negara Kepulauan, serta mendorong kinerja industri.

"Saya sangat yakin (pertumbuhan ekonomi) 5,8% bisa dilewati. Jika Presiden Jokowi berhasil membangun konektivitas dan memperbaiki kinerja industri, ekonomi tumbuh 6% juga tercapai. Saat ini biaya logistik dari Tanjung Priok ke Sorong, Papua sangat mahal senilai US$2.000 atau melonjak 500%,” ujar Cyrillus di Yogyakarta, Jumat (7/11), pekan lalu.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, Proyek Tol Laut yang dicanangkan Presiden Jokowi sebenarnya sama seperti Konsep Pendulum Nusantara. Tujuannya satu, menurunkan biaya logistik. Dengan begitu, kata Cyrillus, diharapkan harga barang, terutama bahan pokok, akan lebih murah dan berdampak kepada meningkatnya daya konsumsi masyarakat.

“Apabila Tol Laut atau Pendulum Nusantara terealisasi, maka biaya logistik akan turun drastis menjadi US$400 saja. Itu untuk satu kontainer dengan rute Tanjung Priok-Sorong,” tegasnya. Pengembangan konektivitas ini juga tentunya akan meningkatkan kinerja industri, sehingga diharapkan dapat memulihkan kinerja ekspor yang masih negatif.

Gagasan Pendulum dan Tol laut tersebut adalah sama-sama mengandalkan kapal berukuran besar yang akan mendistribusikan barang dari Pelabuhan di Aceh hingga Papua. Pengembangan konektivitas ini, selain membuat biaya logistik lebih murah, diharapkan juga dapat mendorong pemerataan ekonomi Indonesia.

Cyrillus menuturkan, pembangunan Pendulum Nusantara sebenarnya sudah dimulai, dengan pembangunan yang dilakukan di Belawan, Sumatera Utara, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Makassar, Sulawesi Selatan, dan Sorong, Papua.

"Konsep yang jangan dilupakan juga adalah pembangunan jalur kapala besar dan diteruskan dengan jalur kapal kecil," ujarnya. Menurut Cyrillus, pengembangan infrastruktur yang perlu digiatkan pemerintahan Jokowi saat ini adalah pengembangan kapasitas pelabuhan-pelabuhan kecil untuk menjadi lebih besar lagi.

Pelabuhan kecil ini akan menjadi sasaran distribusi barang dari pelabuhan utama yang dilintasi kapal besar sebagai moda utama tol laut. Distribusi barang ke pelabuhan kecil akan menggunakan kapal kecil.

Namun, terdapat juga usulan agar pemerintah tidak hanya membangun pelabuhan saja, tanpa penyediaan jalur perhubungan lain, seperti jalan, rel kereta api serta angkutan umum lain. "Sehingga, nanti bukan hanya oleh kapal kecil, tapi juga diangkut oleh kereta, moda darat, dan lainnya," ujar dia.

Transportasi multimoda

Maka dari itu, menurut Cyrillus Pendulum Nusantara atau pun Tol Laut ini nantinya harus didukung sarana transportasi multimoda. "Itu bisa digabung dengan pengembangan rel kereta api. Pembangunan jalur ganda kereta selatan mulai dipercepat. Tahun 2017 Jakarta ke Surabaya sudah tersambung jalur ganda. Maka setelah itu, akan timbul kawasan-kawasan industri baru d Jawa Tengah dan Yogyakarta," ucapnya.

Di sisi lain, imbuh Cyrillus, meskipun sektor manufaktur masih tampak lesu, pihaknya meyakini kinerja beberapa sektor industri pada 2015 akan mengkilap, di mana hal ini didorong oleh lahirnya berbagai industri penunjang, selain pengembangan infrastruktur dan padatnya investasi.

"Kita dapat mengurangi impor bahan baku secepatnya. Dan sekarang juga perbankan terus giatkan sektor industri untuk substitusi impor," terangnya. Kepercayaan investor terhadap pemerintah juga, ujar dia, akan menggenjot investasi langsung ke sektor rill, sehingga memudahkan pelaku industri untuk ekspansif.

Menurut dia, sektor industri otomotif adalah sektor yang paling prospektif, dengan perkiraan pertumbuhan penjualan mobil dapat mencapai dua hingga tiga juta unit dalam beberapa tahun ke depan. "Saya perkirakan kita akan menjadi raksasa Asia di otomotif," tambah Cyrillus.

Dalam beberapa tahun terakhir, penjualan mobil tercatat di level 1,2 juta unit. Cyrillius memperkirakan, investasi juga akan mendorong kinerja industri strategis seperti industri kedirgantaraan, dan industri untuk teknologi dan informasi. "Kita saat ini sedang siapkan pesawat N 219 dan R 80. Itu akan menjadi kebanggaan kita. Selain itu, Lapan dan Pindad juga mulai mengembangkan industri roket," tukas dia. [retno]