Bank Besar Masih Bergulat dengan Stress Test

Kurang Tenaga Terampil

Sabtu, 15/11/2014

Stress testing merupakan kewajiban bagi semua bank, hal ini juga termasuk dalam peraturan dan syarat tekanan untuk kepatuhan. Namun hanya satu dari empat bank yang mengatakan mereka sangat matang dalam hal itu.

NERACA

Dalam studi terbaru oleh Long itude Research dan pemimpin business analytics SAS, sekitar empat dari 10 bank mengakui telah cukup lama berkutat pada tahap awal pengembangan.

Dengan hal ini Stress testing yang belum matang dapat menyebabkan pengawasan peraturan pada akurasi dan proses. Bank juga mengalami kerugian atas kesempatan yang hilang dan sumber daya terbuang sekaligus melelahkan, operasi manual yang gagal menuai data untuk ini siatif bisnis lainnya.

Pada survei yang lebih dalam lagi terhadap lebih dari 100 pejabat perbankan senior di Eropa dan Amerika Serikat, mereka menilai efek dari stress testing dalam organisasi .Hasilnya hanya 24 persen yang mengakui bahwa mereka membuat perubahan pada keputusan strategis sebagai akibat dari stress testing, walaupun demikian terdapat 33 persen yang telah menyesuaikan risiko lembaga mereka untuk membuat pilihan bisnis yang lebih baik.

Responden mencatat sejumlah masalah data (35 persen) dan kekurangan tenaga keterampilan (32 persen) sebagai tantangan terbesar bagi bank pada saat ini. Mereka menyalahkan kuantitas dan kualitas data pada permasalahan mereka dengan manajemen data, terutama agregasi data dan konsolidasi.

"Stress testing merupakan hal nyata yang dihadapi banyak bank. Walaupun demikian, sebagian kecil dari bank besar telah matang pada kemampuan untuk mengatasi tes ini, namun juga ada sejumlah besar bank lainnya yang masih memiliki pekerjaan rumah untuk mengatasinya, "kata James Watson, Editorial Director di Longitude Research.

James mengatakan, hal ini juga berlaku ketika dihadapkan pada langkah berikutnya, stress testing dapat digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan bisnis yang lebih luas bagi manajemen.

Menurutnya untuk memperkuat kerangka stress-testing, 47 persen bankir menyebutkan perlunya sumberdaya berdedikasi, staff internal khusus, konsultan eksternal dan infrastruktur TI.Prioritas utama lainnya adalah memperkuat kemampuan modeling dan meningkatkan kualitas data. Meskipun 41 persen bank mengatakan hasil dari stress test tidak berpengaruh langsung terhadap bisnis, dan lebih dari setengah percaya bahwa dalam dua tahun stress test akan membantu mendorong keputusan strategis.

Tingkat Kematangan Stress-testing

Untuk menilai tingkat kematangan stres-testing, bank dapat menggunakan SAS Stress Test Bench mark terbaru, yang dikembangkan bekerja sama dengan Longitude Research.

Hanya dalam waktu lima menit, perusahaan dapat mengukur tingkat resourcing, prioritas yang saling berhubungan, keterlibatan kepemimpinan dan investasi. Dan mereka dapat membandingkan respon mereka kepada lebih dari 100 senior risiko dan eksekutif keuangan di bank-bank Eropa dan Amerika Utara.

"Stress testing seharusnya tidak hanya dilihat sebagai latihan kepatuhan," kata Brooke Upton, Global Product Marketing Manager untuk Solusi Manajemen Risiko di SAS.

Menurut brooke sudah waktunya untuk menggantikan stress testing dari proses manual yang ditakuti menjadi peluang bisnis yang lebih otomatis, di mana analisis berkinerja tinggi dari data juga dapat digunakan untuk membuat keputusan risiko yang lebih baik.