Ekonomi Melambat, Reksa Dana Stagnan

Senin, 10/11/2014

NERACA

Jakarta - Pasar reksa dana di Indonesia diprediksi stagnan tahun depan. Hal itu lantaran tantangan ekonomi domestik dan global makin besar,”Tahun depan ada cukup banyak tantangan mulai dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), realisasi pembangunan infrastruktur, kenaikan inflasi, hingga kenaikan suku bunga the Fed," kata Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Denny R Thaher di Jakarta, kemarin.

Namun, dia berharap regulasi terkait perusahaan Manajer Investasi (MI) yang tengah digodok Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat segera berlaku. Pasalnya, hal itu mengakselerasi target pertumbuhan dana kelolaan sebesar Rp 1.000 triliun pada 2017. Meskipun secara total nilai unit penyertaan (UP) masih relatif rendah di bawah dua persen, tapi total dana kelolaan reksa dana tercatat tumbuh 10,3% menjadi Rp 212,27 triliun pada awal November 2014 dari Rp 192,39 pada awal Januari 2014.

Denny mengajak investor untuk tidak ragu dalam berinvestasi secara rutin di reksa dana. Kuncinya, pilih perusahaan MI resmi dan terpercaya."Apapun yang terjadi dengan kondisi domestik dan global, investor yang baik adalah melihat tujuan jangka panjang, berinvestasi secara teratur dan menyesuaikan pilihan investasi sesuai kebutuhan dan kondisi keuangan," ujarnya.

Merespon soal regulasi Manajer Investasi, OJK, kata Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK M Noor Rachman, tengah merampungkan enam regulasi baru terkait perusahaan MI,”Kami membuat peraturan yang memudahkan dan melancarkan serta menciptakan investasi dengan nyaman dan gembira, karena regulasi menjadi satu hal penting dalam pertumbuhan pasar modal Indonesia,”ungkapnya.

Adapun enam peraturan baru tersebut berupa empat regulasi baru OJK terkait laporan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA), EBA berbentuk surat partisipasi, reksa dana berbasis efek luar negeri, pemasaran produk reksa dana asing.

Selain itu, satu surat edaran terkait penyelesaian kesalahan penghitungan nilai aktiva bersih reksa dana (pricing error) dan satu kajian terhadap peraturan hedge fund (dana proteksi) dan KPD di bawah Rp 10 miliar."Mudah-mudahan tahun ini rampung, kami juga terus mensosialisasi berbagai perkembangan regulasi termasuk dengan lembaga ekonomi," katanya.

Selain menerbitkan aturan baru terkait perusahaan MI, OJK juga merevisi lima peraturan, yakni terkait kontrak investasi kolektif reksa dana penyertaan terbatas, wakil manajer investasi, fungi-fungsi manajer investasi, perilaku yang dilarang bagi manajer investasi, serta pendaftaran dan perilaku Agen Penjualan Efek Reksa Dana (APERD). Kemudian OJK juga mendorong para investor untuk berinvestasi di pasar modal, salah satunya reksa dana. Upaya ini dilakukan regulator agar masyarakat semakin melek dengan investasi. (bani)