Asahimas Kaji Naikan Harga Jual Kaca

Imbas Kenaikan Harga BBM

Senin, 10/11/2014

NERACA

Jakarta – Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menjadi pertimbangan bagi produsen kaca PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG) untuk menaikkan harga jual kaca lembaran di pasaran. Namun perseroan belum bisa menyebutkan berapa nilai kenaikan harga jual karena masih di kaji dan menunggu keputusan resmi pemerintah soal kenaikan BBM.

Direktur Asahimas Flat Glass, M. Amien mengatakan, kenaikan BBM akan mengerek harga kaca lembaran di pasaran meskipun komposisi BBM pada cost produksi tidak besar, “Kenaikan BBM akan memberikan dampak pada kenaikan harga jual kaca, khususnya untuk distribusi barang. Soal berapa kenaikannya belum bisa disebutkan,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dirinya mengungkapkan, sepanjang tahun ini perseroan sudah menaikkan harga jual kaca lembaran sebesar 7% hingga 10% dari harga jual sebagai dampak kenaikan tarif dasar listrik sebesar 38,9%. Meskipun demikian, lanjutnya, perseron tetap optimis kenaikan BBM tidak mempengaruhi kapasitas produksi yang diprediksi sebesar 600 ribu ton seiring mulai beroperasinya pabrik baru di Cikampek.

Hal senada juga disampaikan Direktur AMFG, Rusli Pranadi, dirinya optimistis kinerja perseroan tahun depan tetap positif. Manajemen memiliki target pertumbuhan penjualannya antara 5% hingga 6%. Sementara, laba kotornya ditargetkan tumbuh antara 20% hingga 25%. "Secara spesifik, kami akan memanfaatkan pergerakan pasar otomotif,”ungkapnya.

Sebagai catatan, tahun lalu AMFG meraup penjualan bersih senilai Rp 3,22 triliun dengan posisi laba kotor Rp 727,91 triliun. Dengan target pertumbuhan tersebut, maka proyeksi penjualan laba kotor perseroan tahun depan masing-masing Rp 3,38 triliun-Rp 3,41 triliun dan Rp 873,49 miliar-Rp 909,89 miliar.

Sejatinya, Gaikindo memproyeksikan pertumbuhan otomotif dalam negeri tahun depan masih melambat. Manajemen juga mengakui adanya potensi perlambatan ini. Tapi, pertumbuhan di dalam negeri yang melambat bukan berarti produksi otomotif akan berkurang drastis. Produksi otomotif akan tetap berjalan semestinya, hanya saja target pasarnya yang berubah. Jika permintaan otomotif dalam negeri melambat, maka produksi otomotif akan dialihkan untuk pasar ekspor.

Contoh, seperti Toyota yang telah berjanji untuk memperbesar ekspor tahun depan. Hal ini pada dasarnya merupakan sinyal akan terus bertambahnya permintaan otomotif. Nah, hal inilah yang menjadi tumpuan perseroan untuk menjaga kinerja keuangannya tahun depan. Sepanjang tahun ini, 30% penjualan perseroan didapat dari pasar ekspor. "Tahun depan, penjualan ekspor kami bisa meningkat jadi sekitar 35%," pungkas Rusli.

Tahun ini, PT Asahimas Flat Glass Tbk menyiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) US$ 21 juta. Untuk tahun depan, capex produsen kaca ini bakal meningkat empat kali lipat,”Kebutuhan capex kami untuk tahun depan sekitar US$ 89 juta," kata Rusli Pranadi.

Dia menuturkan, kenaikan ini seiring dengan rencana perseroan untuk membangun pabrik kaca lembaran di kawasan Cikampek. Nilai investasi untuk pembangunan pabrik barunya tersebut mencapai US$ 154,94 juta.