Isu Kenaikan BBM Masih Hantui Laju IHSG

NERACA

Jakarta – Perdagangan saham akhir pekan terus menekan laju pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga anjlok di bawah 5.000. Minimnya sentiment positif dan belum adanya kepastian kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menjadi pemicunya, sehingga investor lebih memilih aksi jual.

Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah mengatakan, sentimen positif dari bursa saham AS tereliminir oleh sentimen dalam negeri menyusul belum adanya kepastian penaikan harga BBM bersubsidi sehingga IHSG melemah,”Sentimen internal lebih memberikan dampak yang lebih besar ketimbang sentimen yang muncul dari eksternal," katanya di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan bahwa dalam ketidakpastian itu, pemodal cenderung mengambil langkah pelepasan aset karena ketidakpastian kenaikan BBM dapat mempercepat inflasi yang dapat menimbulkan kecemasan pelaku pasar.

Sementara analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan, pelaku pasar saham yang tidak sabar menunggu penaikan BBM bersubsidi itu melakukan aksi jual saham,”Di tengah minimnya sentimen positif, ketidakpastian menjadi sentimen negatif walaupun pergerakan bursa saham eksternal relatif positif," katanya.

Kendati demikian, lanjut dia, pelaku pasar direkomendasikan untuk tetap melakukan akumulasi saham secara selektif. Berikutnya, indeks BEI Senin awal pekan diproyeksikan masih akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah.

Perdagangan saham akhir pekan, IHSG ditutup melemah 46,807 poin (0,93%) ke level 4.987,424. Sementara Indeks LQ45 anjlok 10,330 poin (1,20%) ke level 847,286. Hanya satu indeks sektoral yang mampu menguat, yaitu sektor pertambangan. Hampir semua sektor merah gara-gara aksi jual.

Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 181,531 miliar. Sedangkan di pasar reguler saja net sell sebesar Rp 338,486. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 190.827 kali dengan volume 4,961 miliar lembar saham senilai Rp 4,572 triliun. Sebanyak 95 saham naik, 195 turun, dan 84 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia pun terkena tekanan jual dan rata-rata menutup perdagangan akhir pekan di zona merah. Hanya bursa saham Jepang yang bertahan di zona hijau. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah SMART (SMAR) naik Rp 350 ke Rp 8.000, Tower Bersama (TBIG) naik Rp 325 ke Rp 9.050, Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 300 ke Rp 9.050, dan Golden Energy (GEMS) naik Rp 290 ke Rp 1.995.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 675 ke Rp 22.875, Pioneerindo (PTSP) turun Rp 350 ke Rp 5.500, Maskapai Reasuransi (MREI) turun Rp 300 ke Rp 5.100, dan Unilever (UNVR) turun Rp 300 ke Rp 29.800.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup terkoreksi 24,939 poin (0,50%) ke level 5.009,292. Sementara Indeks LQ45 melemah 5,493 poin (0,64%) ke level 852,123. Tak satu pun indeks sektoral yang mampu menguat, semua merah gara-gara aksi jual. Saham-saham unggulan yang diawal naik, pada siang langsung kena koreksi.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 101.469 kali dengan volume 2,864 miliar lembar saham senilai Rp 2,097 triliun. Sebanyak 97 saham naik, 147 turun, dan 78 saham stagnan. Bursa-bursa regional kompak menguat hingga siang. Sentimen positif datang dari Wall Street yang berhasil cetak rekor baru.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Tower Bersama (TBIG) naik Rp 400 ke Rp 9.125, Indofood CBP (ICBP) naik Rp 250 ke Rp 11.050, First Media (KBLV) naik Rp 205 ke Rp 2.900, dan Multi Prima (LPIN) naik Rp 175 ke Rp 6.375. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indofood (INDF) turun Rp 425 ke Rp 23.125, Pioneerindo (PTSP) turun Rp 350 ke Rp 5.500, Lippo Cikarang (LPCK) turun Rp 225 ke Rp 8.575, dan BCA (BBCA) turun Rp 200 ke Rp 12.775.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah tipis 0,86 poin atau 0,02% menjadi 5.033,36, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,21 poin (0,03%) ke level 857,39,”Tekanan yang terjadi pada indeks BEI merupakan pergerakan normal dalam fase konsolidasi, di sisi lain pergerakan bursa saham di kawasan Asia bergerak bervariasi," kata Analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya.

Menurut dia, pelaku pasar sedang menantikan realisasi penaikan harga BBM bersubsidi, diharapkan neraca transaksi berjalan Indonesia mengalami perbaikan ke depannya. Kendati demikian, lanjut dia, koreksi IHSG BEI itu cenderung tertahan oleh dana investor asing yang masih ke pasar modal domestik sehingga potensi kenaikan masih terlihat.

Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah menambahkan, pergerakan IHSG BEI masih dibayangi tekanan akibat belum adanya ketidakpastian atas langkah pemerintah terkait penaikan harga BBM."Berlarutnya ketidakpastian itu akan membuat inflasi meningkat karena sejumlah harga barang sudah mengalami kenaikan, kondisi itu dapat menimbulkan kecemaskan pelaku pasar terhadap perekonomian Indonesia yang sedang melambat," katanya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 153,06 poin (0,65%) ke 23.496,25, indeks Nikkei naik 96,91 poin (0,58%) ke 16.889,39, dan Straits Times menguat 3,68 poin (0,11%) ke posisi 3.294,64. (bani)

Related posts