Balitbang KP Ajak Pembudidaya Ikan Hias Aplikasikan Teknologi

Tingkatkan Produktivitas

Jumat, 07/11/2014

NERACA

Depok – Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Achmad Poernomo, mengatakan permintaan pasar baik domestik maupun international untuk ikan hias terus meningkat. Itu sebabnya, Poernomo menghimbau agar para pembudidaya mengaplikasikan teknologi sebagai kunci utama dalam mengejar peningkatan produksi ikan hias.

“Teknologi kunci utama untuk peningkatan produksi perikanan. Untuk itu agar para pembudidaya mampu mengaplikasikan teknologi,” kata Poernomo saat menghadiri acara Rekreasi Edukasi Informasi Komunikasi Konservasi dan Atraksi ikan hias (REIKKA) di Depok, Jawa Barat, Kamis (6/11).

Menurut dia, sambung Poernomo, teknologi untuk ikan hias itu terbilang murah, masyarakat bisa mengembangkan budidaya ikan bisa di mana saja tidak harus menggunakan lahan yang luas. “Bisa di akuarium atau tempat lain tergantung mau main di ikan jenis apa,” ujarnya.

Apalagi menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), permintaan pasar akan ikan hias bakal naik terus, oleh karenanya bisnis ini akan lebih menjanjikan untuk itu diharapkan masyarakat menggambil peluang bisnis ini. Peluang usaha ini, lanjut Achmad, akan lebih baik lagi jika disuntik dengan teknologi sehingga akan mengakatrol daya saing. Karena itu, penerapan teknologi harus berorientasi mempertahankan produktivitas yang dinamis dan berkelanjutan.

Dalam hal ini, Balitbang KP telah menghasilkan paket teknologi dan inovasi bagi para masyarakat perikanan. Inovasi tersebut diantaranya teknologi kelautan, penangkapan dan produksi ikan, teknologi pengolahan dan produk turunannya serta inovasi dalam kelembagaan kelautan dan perikanan. Penerapan teknologi tersebut pun telah disebarluaskan ke masayarakat melalui kegiatan yang disebut IPTEKMAS (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Masyarakat).

“Apalagi seperti arahan dari Ibu Menteri (Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti-red) setidaknya ada tiga hal yang harus terus dipertahankan guna optimalisasi dan peningkatan ikan hias yaitu Pertahankan identitas ikan hias asli Indonesia, pertahankan kelembagaan ikan hias, dan terus kembangkan budidaya ikan hias. Tiga hal ini akan menjadi acuan pengembangan dari produktivitas ikan hias dimasa mendatang,” ucapnya.

Rekor Muri Dunia

Aplikasi teknologi ikan hias nasional, sambung Poernomo, telah mendapatkan apresiasi dari dunia karena saat ini telah mendapatkan rekor muri dunia karena telah mengembangkan ikan hias botia. “Di dunia baru Indonesia yang berhasil mengembangkan ikan jenis botia ini, makanya mendapatkan apresiasi dari muri dunia,” tuturnya.

Adapun sampai dengan saat ini, Balitbang KKP telah menelurkan berbagai paket teknologi yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat luas, antara lain aplikasi pakan berbahan baku tepung wortel yang mampu meningkatkan keuntungan pembudidaya antara Rp 5-10 juta setiap kolamnya. Demikian juga halnya dengan ikan hias botia di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan dan Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah dan Kabupaten Belitung Timur. Dimana Indonesia telah mengekspor perdana 20.000 ekor ikan senilai 80 juta rupiah.

Sementara pangsa pasarnya adalah Thailand, Yordania, Iran, Kuwait, Jerman, India, Aljazair, Italia, dan Rusia serta Eropa. Dan di bulan Desember 2014, untuk kali pertama Indonesia akan mengekspor ikan hias botia ke Singapura, sebanyak 10 ribu ekor atau senilai Rp 40 juta. “Indikator-indikator tersebut menunjukkan bahwa hasil litbang budidaya ikan hias sedikit banyaknya telah banyak berkontribusi dalam meningkatkan ruang ekonomi masyarakat pembudidaya ikan,” sambung Poernomo.

Sebagai informasi tambahan, sejak setahun belakangan ini, kinerja ekspor ikan hias mencatatkan grafik pertumbuhan yang signifkan. Adapun perkembangan nilai ekspor ikan hias periode tahun 1996-2013 mencapai 62,46 persen per tahun. Tingginya permintaan terhadap ikan hias ternyata juga diimbangi dengankondisi budidaya yang sudah cukup bagus. Alhasil, komoditas ikan hias telah mampu bersaing hingga masuk ke pasar Eropa dan Timur Tengah. Misalnya di Timur Tengah, kawasan ini mampu menyerap ikan hias asal Indonesia sebesar 40 persen.

Sedangkan, untuk wilayah Eropa, dimana benua biru ini mampu menyerap sekitar 10-20 persen, sementara sisanya yakni wilayah Amerika, Asia, Hawai dan Australia. Adapun jenis ikan hias yang sudah merambah pasar luar negeri antara lain terumbu karang, Clownfish, kepe, butterflyfish. Sedangkan tren ikan hias dunia masih dipegang jenis ikan hias tetra sekitar 60 persen dan ikan hias siklit 30 persen serta sisanya adalah tanaman hias air dan ikan hias laut. Kini harga di pasar luar negeri untuk ikan hias menyentuh harga US$ 0,7 sampai US$ 100 per ekor, tergantung jenisnya.

Di dunia bisnis ikan hias, produk Indonesia dikenal memiliki ragam spesies, baik dari jenis ikan hias air tawar maupun ikan hias laut. Tak tanggung-tanggung dari 1.100 spesies ikan hias air tawar yang ada di dunia, 400 spesies di antaranya berasal dari Indonesia. Indonesia juga memiliki 650 spesies ikan laut dan diduga masih banyak lagi spesies ikan hias laut yang belum ditemukan, dengan demikian sebenarnya Indonesia dikenal sebagai produsen ikan hias terbesar di dunia.

Diperkirakan stok ikan hias laut di Perairan Indonesia mencapai 3 miliar ekor, dengan potensi lestari sekitar 1,5 miliar. Selain itu, dari 9 wilayah pengelolaan, 5 wilayah diantaranya memiliki potensi lebih dari 200 juta ekor. Kelima wilayah itu meliputi, Laut Cina Selatan, Samudera Hindia, Laut Makasar & Laut Flores, Teluk Tomini & Laut Halmahera serta Laut Banda.

Sentra Ikan Hias

Lebih jauh Achmad Poernomo mengatakan, KKP kian menggiatkan komersialisasi sektor kelautan dan perikanan, tak terkecuali bagi industri ikan hias nasional. Penguatan pasar domestik pun menjadi sasaran utama KKP, demi meningkatkan daya saing produk UKM (usaha Kecil Menengah). Caranya yakni, dengan membentuk sentra-sentra ikan hias nasional di berbagai daerah yang berbasis potensi ikan hias.

Karena itu, penerapan teknologi harus berorientasi mempertahankan produktivitas yang dinamis dan berkelanjutan. Ikan hias yang hampir punah pun dapat dibudidayakan dan diproduksi massal. Contohnya, budidaya ikan pelangi. Dimana ikan hias asli Indonesia ini berhasil dikembangkan dengan konsep budidaya yang ramah lingkungan. Melalui perjalanan panjang sejak tahun 2000 oleh Tim peneliti Balitbangdias bekerjasama dengan Politeknik Sorong dan IRD, kini ikan yang memiliki nama latin Melanotaenia ini telah diproduksi secara massal hingga 126.000 ekor/tahun. Pengembangan budidaya lewat peran teknologi ini dilakukan secara insitu maupu eksitu.

Secara ekonomi kegiatan usaha tersebut sangat menguntungkan. Jika dikalkulasikan dengan harga pasar lokal ikan sebesar Rp.1000/ekor, maka pembudidaya ikan pelangi akan mendapatkan penghasilan sekitar Rp. 92 juta/tahun.

Belum lagi, di pasar luar negeri harga indukan umur 5-6 bulan bisa mencapai 7-14 dollar AS/ekor. Tak pelak, hasil sensus pertanian pun menunjukkan pendapatan terbesar sektor perikanan berasal dari pembudidaya ikan hias sebesar Rp. 50 juta/tahun. “Data itu menunjukkan bahwa ikan hias ini, tidak hanya mempunyai prospek yang bagus untuk meningkatkan taraf hidup akan tetapi dapat menjadi catatan yang penting bagi kita sebagai negara besar yaitu ikan pelangi ini sebagai identitas Bangsa Indoenesia di mata dunia,” ungkap Achmad.

Perlu diketahui, di dunia ikan pelangi, dapat ditemukan di Madagaskar, Australia dan Papua Nugini, dan Indonesia yaitu di Provinsi Papua Barat dan Sulawesi. Dari 76 jenis ikan pelangi yang ditemukan di dunia, ikan pelangi asal papua yaitu kurumoi (Melanotaenia parva) memiliki warna yang sangat indah. Jenis ikan pelangi tersebut sangat populer dan telah diperjualbelikan hingga ke mancanegara, sebagian besar pemenuhan pasar masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam.