Defisit Listrik Hambat Pertumbuhan Ekonomi

NERACA

Jakarta - Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menilai kekurangan pasokan listrik menjadi salah satu pengganjal pertumbuhan ekonomi di Indonesia. "Sekarang kita rasakan listrik menghambat pertumbuhan," kata di Jakarta, Kamis (6/11)

Meski tak mudah, lanjut dia, pemerintah akan bekerja keras untuk mengatas persoalan kekurangan pasokan listrik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. "Sekarang kita kerja keras, kerja tidak ringan tapi punya tantangan ke sana," tuturnya.

Karena apa, Indonesia bisa mengalami krisislistrikdalam dua tahun jika pemerintah tidak membuat terobosan dalam membangun pembangkitlistrik. Menurut Sudirman, setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen diperlukan peningkatan suplailistrik1,5 persen. "Memang semakin nyata bahwa kalau tak ada langkah terobosan, maka dalam dua tahun dari sekarang akan terjadi krisis. Listrik itu butuh kalau pertumbuhan ekonomi 1 persen, kita harus growth (tumbuh) 1,5 persen untuk cadangan segala macam. Jadi kalau kita mau pertumbuhan 6 persen, makalistrikharus tumbuh 9 persen," ucapnya.

Atas dasar perhitungan itu, menurut Sudirman, pemerintah harus membangun 7.000 megawattlistriksetiap tahunnya. Saat ini, kemampuan nasional baru sebatas membangun 2.000 megawatt per tahun.

Menteri Koordinator Bidang Maritim Hendroyono Susilo mengungkapkan, berdasarkan data PLN saat ini kemampuan untuk melistriki Pulau Jawa mencapai 23 ribu megawatt (MW). Sedangkan rata-rata pertumbuhan mencapai 8 persen, berarti membutuhkan 1.800 MW per tahun. " Jawa saja kemampuan kita 23 ribu MW," ungkapnya.

Jika hal tersebut tidak diantisipasi, maka Jawa akan mengalami krisis listrik seperti wilayah lain. Karena itu, pemerintah telah memutuskan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 5 ribu MW dalam kurun waktu 7 tahun ke depan. "Membangun 5.000 MW. Di Cilacap Jawa Tengah. Lokasinya tidak jauh dari 7.000 MW yang sudah operasi," tuturnya.

Sedangkan menurut Menko Perekonomian Sofyan Djalil Pemerintah telah menyusun rencana jangka menengah untuk pembangunan pembangkit listrik. Dalam 5 tahun ke depan, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) berencana membangun 35 ribu Mega Watt (MW). "Pemerintah berencana membangun 35 ribu MW listrik," ungkapnya.

Ini dilakukan untuk mengejar kebutuhan listrik di Indonesia. Sekarang kapasitas listrik yang terpasang baru mencapai 40 ribu MW. Dibandingkan Tiongkok, lanjut Sofyan, listrik di Indonesia masih jauh sekali. Ini diketahuinya setelah berbincang dengan Duta Besar Tiongkok kemarin. "Tiongkok listriknya 1,2 juta MW," ujar Sofyan

Ketersediaan listrik, tambah Sofyan, menjadi salah satu daya tarik investor untuk menanamkan modal di sebuah negara. Karena untuk pembangunan pabrik, pasti membutuhkan sumber energi seperti listrik. "Kalau listrik tersedia, maka akan lebih mudah mengundang investor," katanya.

Sofyan mengakui pembangunan pembangkit listrik tidaklah mudah. Hal pertama yang harus diperbaiki adalah perizinan. "Jadi perizinan di-streamline, terus bagaimanadealdengan PLN. Kan untukdealdengan PLN saja sekarang butuh 2 tahun," tukasnya. [agus]

Related posts