Manfaatkan Lahan Sempit

Jumat, 07/11/2014

NERACA

Jakarta - Pemerintahanbaru getol ingin mewujudkan swasembada pangan dalam kurun waktu tiga tahun pemerintahannya. Salah satu cara yang akan dilakukan adalah mengelola lahan sempit untuk menggenjot produksi pertanian. Strateginya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perencanaan matang.

Menteri Agraria dan Tata RuangFerry Mursyidan Baldanmenyatakan, sesungguhnya pemerintah telah memiliki teknologi siap pakai bidang pertanian. Penggunaan teknologi untuk pembuatan bibit unggul dan sistem irigasi atau pengairan. "Pokoknya produksi diutamakan bukan seberapa banyak pembukaan lahan baru," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Kamis (6/11).

Namun, dia menegaskan rencana pembukaan lahan baru sesuai janji kampanye Presiden Jokowi akan tetap dijalankan. Akan tetapi, dia mengatakan realisasi pembukaan lahan tidak akan masif dan cepat.

"Tidak bisa asal tunjuk mau buka lahan di sembarang tempat. Butuh studi ketersediaan air dan struktur tanah agar benar-benar bisa terpakai untuk pertanian. Kalau terbengkalai nanti malah jadi ruko," tuturnya.

Seperti diketahui, saat masa kampanye pemilihan presiden 2014 lalu, pasangan Jokowi - JK punya visi dan misi membangun 1 juta hektar lahan pertanian. "Yang kita sampaikan melaksanakan implementasikan visi misi itu, membuat rencana dan wacana. Tapi tidak diimplementasikan tidak segera di putuskan itu problemnya, kalau hanya ingin-ingin akan-akan banyak sekali," katanya.

Joko Widodo menegaskan dengan melihat kegagalan pada program di Papua dan satu juta lahan gambut, yang harus dibangun adalah bendungan terlebih dahulu, bukan mencetak sawahnya dulu.

"Tambahan sawah sangat diperlukan, tetapi kita melihat airnya darimana, ada di Papua sudah dibuka kemudian dibiarkan begitu saja, tidak pernah diperhatikan air, bendungannya, yang paling penting ditentukan dulu ada air atau sungai yang bisa atau tidak, lalu buat irigasi, baru membuat sawah," ucapnya.

Sedangkan beberapa waktu lalu, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman berjanji akan melakukan percepatan target swasembada pangan. Target prioritas swasembada pangan antara lain beras, jagung, kedelai, dan gula. "Doakan, mudah-mudahan kita akan mengakselerasi program ini, dan bisa 3-4 tahun sudah ada swasembada. Padi, jagung, kedelai, gula," kata Amran.

Menurutnya bila swasembada pangan tercapai, maka dampaknya bukan hanya Indonesia mandiri dan berdaulat dalam hal pangan. Namun kesejahteraan petani dalam negeri meningkat. "Otomatis kalau swasembada bergerak, petani miskin dengan sendirinya akan terangkat," ucapnya.

Ia menegaskan, cara untuk mencapai swasembada pangan, selain penyediaan lahan, ia akan fokus pada peningkatan infrastruktur irigasi, penyediaan pupuk dan bibit, memberikan kepastian pasar pasca panen. "Target kita dari swasemba bisa kurangi impor," ujarnya.

Seperti diketahui, produksi kedelai Indonesia per tahunnya 700-800 ribu ton. Sedangkan kebutuhan kedelai Indonesia per tahunnya mencapai 2,2 juta hingga 2,3 juta ton. Sedangkan untuk gula, dari total kebutuhan gula dalam negeri per tahun rata-rata mencapai 5,7 juta ton, produksi dalam negeri per tahun hanya 2,5 juta ton. [agus]