Industri Keramik Yakin Pertumbuhan Sentuh 10%

Pembangunan Properti Meningkat

Jumat, 07/11/2014

NERACA

Jakarta – Ditengah meningkatnya pembangunan properti, industri keramik yang tergabung dalam Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) memperkirakan bahwa pertumbuhan industri keramik nasional pada 2015 akan menyentuh angka 10%. Hal itu seperti diutarakan oleh Ketua Asaki Elisa Sinaga di Jakarta, Kamis (6/11).

“Jumlah volume yang keluar dari gudang pada awal kuartal IV tahun ini menunjukkan pertumbuhan, dan diharapkan terus berlangsung hingga akhir tahun. Tahun depan, semoga konsumsinya sudah menyentuh 500 juta meter persegi dan angka tersebut bisa diraih jika target tahun ini juga tercapai,” katanya, di Jakarta, Kamis (6/11).

Kapasitas terpasang industri keramik saat ini, menurut Elisa, berada pada kisaran 85% hingga 88%, penambahan kapasitas produksi baru akan terealisasi jika pertumbuhan kinerja di atas 10% per tahunnya. “Dengan pertumbuhan sebesar itu pabrik akan memainkan mesin produksi pada tingkat tertinggi dan harus segera meningkatkan kapasitas produksi ataupun membangun pabrik baru,” paparnya.

Elisa menambahkan, peningkatan kinerja tidak terlepas dari inovasi produk yang harus dilakukan oleh kalangan industri. Saat ini nilai impor keramik lebih besar dibandingkan dengan nilai ekspor keramik. “Tingginya impor bukan karena lemahnya daya saing di sisi kualitas produknya, akan tetapi lebih kepada pilihan desain keramik,” ujarnya.

Namun begitu, Elisa menyatakan untuk mengejar target produksi pada tahun ini cukup sulit. “Katakanlah kami merencanakan target produksi 450 juta meter persegi tahun ini, tapi kelihatannya agak berat. Paling banter produksi kami hanya 420 juta meter persegi sampai 430 juta meter persegi,” kata Elisa. Dikatakannya, realisasi produksi keramik nasional pada akhir 2013 lalu mencapai lebih dari 420 juta meter persegi, dengan nilai Rp31 triliun.

Elisa menjelaskan, ada tiga hal yang membuat pertumbuhan properti melambat. Pertama, adanya aturan uang muka minimal pembelian properti oleh Bank Indonesia (BI). Kedua, kondisi politik karena Pemilihan umum membuat pengembang menahan diri berekspansi. Ketiga, depresiasi rupiah yang membuat konsumen wait and see.

Elisa menambahkan, hingga kuartal III-2014, telah terjadi kenaikan harga keramik dua kali, yaitu pada Januari dan Juni. Sehingga, dengan target produksi semula 450 juta meter persegi, asosiasi berharap penjualan bisa mencapai angka Rp36 triliun.

“Tren stagnasi mulai terasa pada masa-masa Pemilu kemarin. Pada tiga bulan yang lalu (penjualan) agak tertahan karena proyek banyak berkurang. Uang masyarakat beralih ke pembelanjaan Pemilu. Tapi sekarang sudah mulai membaik. Kami harap enam bulan dari sekarang akan tumbuh lagi,” tutur Elisa.

Sementara itu, menurut Dewan Pembina Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Wijaya, ada dua indikator yang menunjukkan pesatnya pertumbuhan permintaan keramik domestik pada tahun ini. Pertama, persediaan keramik di sentra produksi saat ini terserap habis kurang dari sebulan, lebih cepat dibandingkan biasanya sekitar 2,5 bulan.

Kedua, pertumbuhan sektor properti sangat pesat, terutama pembangunan gedung dan rumah vertikal. “Asumsinya, satu gedung atau rumah susun berlantai 18 membutuhkan sekitar 25.000 meter persegi keramik. Tinggal kalikan saja dengan jumlah proyek gedung dan rusun yang sedang dibangun," ujarnya.

Dia mengatakan pertumbuhan industri keramik biasanya dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi nasional. Melihat tren permintaan yang terus meningkat, dia yakin pertumbuhan industri itu lebih tinggi. “Kalau tahun ini pertumbuhan ekonomi 6,8%, [industri keramik] bisa tumbuh dua kali lipatnya. Tahun lalu saja omzetnya mencapai Rp17 triliun dengan rata-rata produksi 330 juta m2," tuturnya.

Kendati demikian, lanjut Achmad, pelaku industri keramik di dalam negeri masih dihadapkan pada kendala pasok dan tingginya harga gas yang merupakan bahan bakar utama produksi keramik. Akibatnya, produsen keramik relatif sulit untuk mengembangkan usaha atau membangun pabrik baru untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat. “Termasuk untuk penanaman modal asing, tidak ada yang baru. Mau bangun pabrik bagaimana, kalau gasnya tidak ada,” ujarnya.