Penjualan SCG Naik 9%

QIII 2014

Sabtu, 08/11/2014

NERACA

SCG mengumumkan kinerja operasional perusahaan yang positif selama kuartal ketiga tahun 2014. SCG mencatatkan peningkatan pendapatan penjualan sebesar 9% y-o-y dari Rp45,409 miliar (US$3,872 juta) berkat penyesuaian harga bahan kimia. Untuk Sembilan bulan pertama di tahun 2014 (9M/2014), pendapatan penjualan tercatat sebesar Rp134,184 miliar (US$11,443 juta), tumbuh 12% y-o-y. Sejalan dengan visinya untuk menjadi pemimpin bisnis berkelanjutan di ASEAN, perusahaan mengumumkan rencana investasi senilai lebih dari Rp1,086 miliar (US$93 juta) untuk bisnis semen dan bahan bangunan dan produk bernilai tambah tinggi (High value added/HVA).

Presiden dan CEO SCG Kan Trakulhoonmengumumkan laporan keuangan konsolidasi (unreviewed) SCG dan anak perusahaan untuk Q3/2014. Keuntungan pada kuartal ini tercatat sejumlah Rp2,867 miliar (US$ 244juta) atau turun 20% akibat keuntungan tidak berulang (non-recurring)senilai Rp622 miliar (US$53 juta) dari penyesuaian nilai investasi pada produk sanitasi, produk keran dan pancuran air, serta penjualan aset kepada TOTO untuk unit bisnis Cement-Building Materials pada Q3/2013. Untuk periode 9M/2014, keuntungan tercatat sebesar Rp8,959 miliar (US$ 764 Million), mengalami penurunan sebesar 13%, yang disebabkan oleh keuntungan tidak berulang pada Q3/2013, meningkatnya bunga minoritas, dan turunnya pendapatan saham dari perusahaan terkait.

Untuk bisnis SCG di ASEAN (Di luar Thailand), pendapatan penjualan pada Q3/2014 tumbuh sebesar 9% y-o-y, senilai Rp4,094 miliar (US$349 juta). Pendapatan penjualan SCG di ASEAN berkontribusi sebesar 9% dari total pendapatan penjualan SCG. Sedangkan, pendapatan penjualan di ASEAN di sembilan bulan pertama 2014 tercatat senilai Rp11,783 miliar (US$1,005 juta), tumbuh 16% y-o-y dan merupakan 9% dari total pendapatan penjualan SCG.

Per 30 September 2014, total aset SCG senilai Rp177,705 miliar (US$14,626 juta), sementara total aset SCG di ASEAN (Di luar Thailand) sebesar Rp29,743 miliar (US$2,448 juta), yang merupakan 17% dari total aset konsolidasi SCG.

Kan mengatakan, SCG yakin bahwa perekonomian ASEAN akan tetap kuat, sehingga perusahaan akan meneruskan investasinya di kawasan ini. Dewan Direksi SCG telah menyetujui investasi senilai total Rp1,086 miliar (US$93 juta) yang terdiri dari Rp1,014 miliar (US$ 87 juta) untuk investasi pabrik mortar (semen instan) HVA berkapasitas 2 juta ton di Thailand, yang diperkirakan mulai beroperasi pada semester pertama tahun 2016. Investasi lainnya adalah bisnis ritel konstruksi di ASEAN dengan investasi senilai Rp72 miliar (US$6 juta) untuk 50% saham di Global House International Company Limited.

“Investasi ini merupakan landasan pertumbuhan SCG untuk gudang ritel konstruksi yang meningkatkan kepemimpinan pasar SCG dan jaringan bisnis di ASEAN. SCG akan terus menindaklanjuti skema investasi yang sebelumnya telah direncanakan bagi ASEAN dengan pabrik semen di Indonesia dan pabrik semen tahap kedua di Kamboja yang diharapkan mulai beroperasi pada tahun 2015. Kompleks petrokimia di Vietnam direncanakan untuk diselesaikan pada perencanaan keuangan awal tahun depan,” tambah Kan.

SCG di Indonesiamencatat kenaikan total aset sebesar 15% menjadi Rp13,766 miliar (US$1,133 juta) di Q3/2014 dibandingkan tahun sebelumnya. Grup mencatat pendapatan penjualan sebesar Rp1,121 miliar (US$96 juta) pada Q3/2014. Untuk sembilan bulan pertama, SCG di Indonesia melaporkan pendapatan penjualan sebesar Rp 3,481 miliar (US$297 juta).