Harga Turun, Ekspor Teh Nasional Anjlok

Kamis, 06/11/2014

NERACA

Jakarta – Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian menjabarkan bahwa ekspor teh nasional pada 2013 mengalami penurunan sebesar US$ 9 juta dibandingkan dengan 2011 yang mencapai US$166 juta. Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) Kementerian Pertanian Yusni Emilia Harahap mengatakan, pada 2013 nilai ekspor teh secara nasional sebesar US$157 juta. “Penurunan nilai ekspor tersebut akibat rendahnya harga jual teh sebagai dampak terjadinya kelebihan produksi,” katanya, Rabu (5/11).

Menurut dia, produksi teh secara nasional pada 2013 mencapai 152.674 ton meningkat 1,33 persen dibandingkan tahun sebelumnya dari 123 ribu ha lahan perkebunan teh. Yusni menyatakan, hingga saat ini komoditas teh masih merupakan salah satu penyumbang terbesar dalam perdagangan sektor pertanian di Indonesia.

Namun demikian, lanjutnya, agribisnis teh di tanah air masih menghadapi berbagai persoalan yakni rendahnya harga di pasar akibat kelebihan produksi, serangan hama dan penyakit tanaman, kebijakan dari negara importir, isu-isu lingkungan, rendahnya akses permodalan bagi petani kecil serta masih minimnya promosi untuk meningkatkan pasar yang lebih besar.

Selain itu, menurut dia, saat ini perkebunan teh rakyat masih mendominasi agribisnis teh di tanah air yang mana dari 123 ribu ha area pertanaman teh sekitar 44 persen merupakan kebun rakyat. Sementara itu, tambahnya, 31 persen merupakan perkebunan teh milik perusahaan milik negara (PTPN) dan 25 persen areal yang dikelola perusahaan swasta. "Jumlah petani yang terlibat dalam perkebunan teh sebanyak 20 ribu rumah tangga yang mana 70 persen diantaranya berada di Jawa Barat," katanya.

Terkait rendahnya produktivitas teh di tanah air, Dirjen PPHP menyatakan, hal itu dikarenakan tanaman yang dibudidayakan saat ini merupakan tanaman tua atau yang sudah rusak, sulitnya petani mendapatkan benih yang berkualitas, minimnya perawatan kebun. Selain itu, lanjutnya, juga diakibatkan perubahan iklim, rendahnya kapasitas sumberdaya manusia serta lembaga koperasi yang mewadahi petani. "Untuk itulah Kementerian Pertanian mendukung program revitalisasi perkebunan teh oleh Dewan Teh Nasional untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas teh nasional," katanya.

Pada kesempatan itu Yusni juga mengharapkan, forum internasional yang dihadiri perwakilan dari 19 negara antara lain Sri Lanka, Tiongkok, Jepang, Turki, Amerika, Italia, Jerman itu mampu merumuskan solusi terhadap sejumlah persoalan yang dihadapi agribisnis teh.

Sebelumnya saat memberikan sambutan pembukaan, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan, Jawa Barat merupakan provinsi penghasil teh terbesar dan memiliki perkebunan terluas di Indonesia. Luas perkebunan teh di Jabar, menurut dia, 94.391 ha yang mana sebanyak 48.456 ha merupakan perkebunan rakyat, 25.046 ha milik PTPN VIII dan areal perkebunan swasta 20.889 ha.

Namun demikian, tambahnya, dari sisi produksi perkebunan teh swasta menduduki peringkat pertama yakni dengan produktivitas 1,73 ton/ha diikuti perkebunan negara 1,49 ton/ha sedangkan perkebunan rakyat hanya 1,33 ton/ha. Pada kesempatan itu Gubernur Jabar mengakui sejak lima tahun terakhir keluasan kebun teh baik milik rakyat, swasta maupun negara terus menurun hingga 2.500 ha atau setiap tahun sekitar 500 ha.

"Pengurangan tersebut disebabkan berbagai hal antara lain okupasi dan penjarahan lahan, konversi komoditas maupun penerlantaran kebun yang disebabkan biaya produksi dan pendapatan tidak sebanding," katanya.

Saat ini, lanjutnya, Pemerintah Provinsi Jabar mendapatkan bantuan dana untuk pengembangan kebun teh rakyat sebesar Rp45 miliar dari Kementerian Pertanian. "Dana tersebut disalurkan melalui pembagian tujuh juta bibit teh unggul yang sudah disertifikasi," katanya.

Ia menjelaskan, dana bantuan itu bukan hanya disalurkan melalui bantuan bibit, tetapi diberikan dalam bentuk pupuk, dan pelatihan-pelatihan pengelolaan lahan pertanian. Ahmad Heryawan berharap, 48 ribu hektare kebun teh rakyat atau sekitar 52 persen dari seluruh lahan kebun teh di Jabar akan meningkatkan kualitas dan hasil produksinya. "Sehingga dapat berimbas pada jumlah ekspor teh di Indonesia," katanya.