Ekspor Furnitur dan Rotan Olahan Dipatok US$ 5 Miliar

Kamis, 06/11/2014

NERACA

Jakarta – Menteri Perindustrian Saleh Husin menargetkan ekspor furnitur kayu dan rotan olahan bisa menembus angka US$5 miliar dalam waktu lima tahun mendatang. Ia mengatakan sebelum diterapkan larangan ekspor bahan baku, nilai ekspor furnitur pada rotan tahun 2011 mencapai US$ 150 juta, tahun 2013 terus mengalami peningkatan hingga US$ 200 juta. Sedangkan nilai impor furnitur rotan tahun 2011 mencapai US$ 815 ribu, tahun 2013 turun menjadi US$ 230 ribu.

Hal ini diperlukan, lanjutnya, untuk menghadapi ASEAN Economic Community (AEC). Dengan penerapan dan penyusunan implementasi Standar Nasional Indonesia (SNI). “Serta penerapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sebagai rumusan kerja," ujarnya di Jakarta, Rabu (5/11).

Seperti diketahui, Permendag No.35 Tahun 2011 tentang Ketentuan Ekspor Rotan dan Produk Rotan mengenai ekspor produk jadi rotan membuat peningkatan di sektor tersebut. Di mana sebelumnya diterapkan larangan ekspor bahan baku. Industri furnitur dapat menjadi produk bernilai tingg dan berdaya saing global. Hal ini dengan menggunakan banyak sumber daya yang dimiliki Indonesia.

Menurut dia salah satu tujuan pameran furniture, yakni memperkenalkan industri kerajinan dan mebel untuk dikenal lebih luas dan untuk terus mendorong industri ini cepat berkembang. “Kita ketahui industri ini merupakan padat karya, yang menyerap banyak tenaga kerja yang cukup besar. Tidak dapat dipungkiri bahwa industri ini juga merupakan industri prioritas penghasil devisa negara,” ujarnya.

Dia menjelaskan kelebihan industri furnitur merupakan salah satu industri kayu yang bahan bakunya banyak dimiliki di Tanah Air. Hal inilah yang membuat daya saing furnitur dan kerajinan Indonesia unggul. “Dengan menggunakan komponen-komponen lokal harus kita dukung, untuk mencapai salah satu program Pak presiden,” tandasnya.

Seiring membaiknya permintaan pasar furnitur dunia, Indonesia menargetkan peningkatan ekspor furnitur sebesar 20% tahun ini dari total ekspor furnitur tahun lalu senilai US$1,7 miliar. Partisipasi dalam berbagai pameran berskala internasional diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekspor furnitur ini.

Berdasar data Centre For Industrial Studies (CSIL) yang berbasis di Milan, Italia tahun lalu perdagangan furnitur di dunia mencapai US$ 122 miliar. Dari jumlah tersebut, China cukup mendominasi yaitu sekitar US$ 45 miliar, bahkan Vietnam sudah meraup US$ 4 miliar. Sementara porsi ekspor Indonesia baru US$ 1,7 miliar atau kurang dari 2% total perdagangan furnitur global. "Ini memalukan. Padahal kita punya bahan baku melimpah dan sumber daya manusiayangbesar," ujar Ketua Asosiasi Mebel Kayu dan Rotan Indonesia (AMKRI) Soenoto.

Soenoto mengungkapkan, ekspor furnitur Indonesia diharapkan bisa tumbuh rata-rata 20% per tahun sehingga tahun ini diperkirakan akan mencapai angka US$ 2 miliar dan US$ 2,5 miliar pada 2014. Terkait rencana pemerintah meningkatkan target pertumbuhan ekspor produk mebel dan kerajinan nasional mencapai US$5 miliar pada lima tahun ke depan, kalangan pengusaha optimistis dengan syarat pemerintah memberikan dukungan, baik melalui regulasi yang tepat maupun komponen lain seperti infrastruktur dan memfasilitasi pameran. “Kami optimistis dalam lima tahun ke depan nilai ekspor industri ini bisa menjadi barometer, khususnya di kawasan ASEAN,” katanya.

Menurut Soenoto, industri furnitur harus mendapat perhatian karena mampu menyerap banyak tenaga kerja dan penghasil devisa yang bisa diandalkan. Untuk mengangkat citra furnitur Indonesia di mata internasional, sinergi antarkementerian/lembaga sangat diperlukan, misalnya dalam hal pengembangan sumber daya manusia dan teknologi tepat guna. Dalam waktu dekat, kalangan asosiasi juga akan merampungkan road map dan rencana aksi industri furnitur.

Saat ini produk furnitur asal Indonesia telah diekspor ke sejumlah negara dikawasan Eropa, Amerika, Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Beberapa negara yang terbilang pasar baru bagi ekspor furnitur Indonesia, di antaranya Rusia, India, serta seluruh Amerika Latin, kecuali Argentina yang masih sangat kecil porsinya. Di lain pihak, investasi asing di sektor furnitur atau mebel yang masuk ke Indonesia sejauh ini adalah dari Jerman, Jepang, Finlandia, Taiwan, dan yang terbaru adalah Filipina yang tengah melirik Cirebon sebagai basis industri rotan.

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Benny Wahyudi menambahkan, daya saing furnitur Indonesia terletak pada sumber bahan baku alami yang melimpah dan berkelanjutan, keragaman corak desain yang berciri khas lokal, serta didukung sumber daya manusia yang melimpah. Seiring pergeseran gaya hidup masyarakat global yang cenderung memilih produk ramah lingkungan, momentum ini merupakan kesempatan besar bagi Indonesia.