Industri Pengolahan Beras Perlu Meningkatkan Daya Saing

Jelang Pasar Bebas

Kamis, 06/11/2014

NERACA

Jakarta – Menjelang masuk era pasar bebas ASEAN atau lebih dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, industri pengolahan besar diminta untuk meningkatkan daya saing. Menurut peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Djoko Said Damardjati, hal itu perlu dilakukan karena nantinya beras lokal akan mendapat tantangan besar saat memasuki era pasar bebas nantinya.

Menurut dia, pasar bebas kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang mana pemerintah masih bisa melindungi produk beras dari serbuan impor. “Tapi sebentar lagi kan tidak bisa (dilindungi) karena kita mau masuk pasar bebas. Ini yang harus kita dorong agar bisa berdaya saing. Hal itu bisa dimotori oleh industri besar. Dengan terus meningkatkan pemahaman atas kualitas kepada konsumen, permintaan nanti akan lebih tinggi sehingga produsen bisa terus perbaiki kualitas produknya,” katanya, seperti dikutip Antara, Rabu (5/11).

Maka dari itu, lanjut Djoko, pengembangan industri pengolahan beras memerlukan dukungan karena akan mendorong peningkatan daya saing produk makanan pokok masyarakat Indonesia itu. “Makanya ini mesti didorong supaya pengolahan beras ke depan bisa mencapai standar kualitas yang berani bersaing,” kata Djoko. Ia memaparkan hingga saat ini mayoritas beras Indonesia masih dijual sebagai komoditas. Konsumen sendiri masih banyak yang belum teredukasi tentang mutu beras dan manfaatnya bagi kesehatan.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Beras PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food, Chris Oey mengatakan pihaknya kini mulai melakukan terobosan dengan mengemas beras dalam kemasan premium yang punya kualitas baik. “Tadinya, kami menjual dalam bentuk komoditas. Jadi saat keluar dari pabrik, kami tidak bisa cek kualitasnya apakah nanti dicampur atau mengalami proses lain. Makanya sekarang kami bangun beras bermerk,” katanya.

Menurut Chris, meski menjadi salah satu kebutuhan pangan pokok masyarakat Indonesia, banyak konsumen yang masih asal memilih beras. Sebagai upaya pemasaran, produsen beras dengan merk "Cap Ayam Jago" itu juga terus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait kualitas beras yang baik. “Pangsa pasar beras di Indonesia sangat besar karena angka konsumsi beras per kapita per tahunnya mencapai 110 kilogram hingga 130 kilogram. Dikalikan jumlah penduduknya, bisa sampai 3 juta ton per bulan,” ujarnya.

Perusahaan yang terus menambah kapasitas produksi dengan membangun pabrik beras di Sragen, Jawa Tengah, pertengahan 2014 itu diharapkan bisa terus tumbuh dengan persentase dua hingga tiga digit. “Target kami besar karena sekarang yang besar di pasaran itu jumlahnya yang curah. Mereka juga jadi kompetitor kami walaupun sasaran kami adalah kelas menengah ke atas,” katanya. Hingga saat ini, perusahaan tersebut telah memiliki tiga pabrik beras dengan total kapasitas produksi mencapai 40.000 ton per bulan. Kendati demikian, mayoritas hasil produksinya masih menjadi produk komoditas.

Walaupun tidak punya lahan pertanian sendiri, perusahaan induk usaha itu melakukan kerja sama dengan kelompok tani dan gabungan kelompok tani dengan cara membeli gabah kering panen (GKP) dari petani langsung. Selain membantu petani dengan memfasilitasi sarana produksi pertanian untuk menjaga kualitas produksi, perusahaan juga berkomitmen untuk membantu petani dengan membeli gabah di atas harga pasar.

Kontribusi BUMN

Perusahaan BUMN yaitu PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) juga ikut turut serta berkontribusi untuk mencapai swasembada pangan nasional yaitu dengan cara meluncurkan produk Raja Beras. Selain itu, RNI juga akan membangun industri pengolahan beras. Direktur Utama PT RNI Ismed Hasan Putro menyatakan akan membangun Industri pengolahan beras modern di Sumatera Selatan, Indramayu, Subang dan Malang. Dan hasilnya akan dijual dalam bentuk beras yang diberi nama Raja Beras.

"Kapasitasnya 100 ton setahun, di PG Jatitujuh Indramayu dengan kapasitas 150 ton setahun, di PG Subang Jawa Barat berkapasitas 150 ton setahun, dan di Krebet Baru Malang berkapasitas 100 ton setahun," ujarnya. Dia mengatakan, hal ini menunjukkan bagian dari langkah konkret RNI untuk berkontribusi dalam menuju kemandirian dan berdaulat pangan terutama beras. "Gabah yang dihasilkan oleh petani dibeli oleh RNI dan diolah menjadi beras dengan merek raja beras," jelasnya.

Menurutnya, beras hasil produksi saat ini sudah terjual ke beberapa segmen pasar. "Seperti ke Koperasi BUMN yang ada di Sumatera Selatan dan ke pasar umum maupun langsung ke konsumen. Harga beras dijual Rp10.000 per Kg," tuturnya.

Selain itu, produk-produk pangan RNI ini ditargetkan dapat disebar ke pasar dalam waktu dekat ini. Saat ini perusahaan pelat merah yang bisnis utamanya di bidang agro industri, farmasi & alat kesehatan, perdagangan & distribusi ini, telah memiliki produk-produk turunan seperti raja gula, raja beras, raja air, raja daging, dan raja daging rendang yang telah beredar di pasaran.

“Tidak hanya berhenti pada yang telah ada, ke depan, kami akan luncurkan produk-produk baru lagi, tentu saja produk-produk tersebut adalah produk pangan. Selain itu, properti akan dikembangkan dengan serius sehingga core bisnis RNI nantinya tidak lagi tiga, tapi empat ditambah properti,” paparnya.

Pengembangan bisnis, katanya, membuat RNI terus berinovasi, semangat berinovasi itulah yang menjadi modal bagi RNI untuk bersaing pada MEA 2015. Selain itu, dia juga menyebutkan tujuan RNI mengembangkan di bidang pangan, dalam rangka menjaga stabilitas harga pangan. “RNI saat ini akan terus memperbanyak outlet Waroeng Rajawali dan Rajawali Mart, agar produk pangan RNI dapat lebih mudah diakses. Kalau sudah banyak dan gampang diakses tidak perlu lagi pemerintah melakukan operasi pasar,” ucapnya.

Topik Terkait

produk turunan "beras"