Laba Bersih Electronic City Turun 2,2%

Kamis, 06/11/2014

NERACA

Jakarta – Pada kuartal tiga tahun ini, PT Electronic City Indonesia Tbk (ECII) membukukan penurunan laba bersih 2,2% atau menjadi Rp 93,5 miliar dibandingkan priode yang sama tahun lalu berhasil membukukan laba bersih Rp 95,6 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (5/11).

Perseroan menjelaskan, penurunan laba bersih disebabkan meningkatnya biaya operasional dari toko-toko yang baru dibuka pada tahun 2013 dan 2014 yang terpengaruh oleh melemahnya kondisi pasar. Meskipun demikian, PT Electronic City Indonesia Tbk masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan 12,07% atau sebesar Rp1,52 miliar, dibanding periode yang sama 2013 sebesar Rp 1,36 miliar.

Kenaikan pendapatan itu ditopang oleh toko-toko yang sudah beroperasi lebih dari 24 bulan. Kemampuan perseroan dalam menumbuhkan angka top-line merupakan manifestasi dari keberhasilannya dalam meraih pangsa pasar, terutama bila dilihat dari latar belakang melemahnya kondisi pasar saat ini. Hal ini dapat dilihat dari penurunan permintaan pasar, tidak termasuk ponsel dan gadget.

Sementara itu, "Same Store Revenue Growth" (SSRG) tercatat sebesar 5,2% per bulan September 2014, atau mengalami perlambatan bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2013. Keadaan itu merupakan refleksi dari kondisi makroekonomi secara general di Indonesia sebagai akibat dari melemahnya nilai tukar mata uang rupiah yang menyebabkan adanya penurunan daya beli konsumen.

Bahkan, adanya penguatan pasar yang diperkirakan sebelumnya yang dikaitkan dengan pemilihan presiden pada tahun pemilu tidak terwujud. Selain itu, perseroan juga mencatatkan laba kotor sebesar Rp293,7 miliar dengan margin laba kotor yang bertahan 19,3%. Hal ini mengindikasikan kemampuan perseroan dalam memaksimalkan trading terms dari supplier.

Per tanggal 30 September 2014, Electronic City sudah mengoperasikan 66 toko, termasuk dua toko terbaru di Lombok dan Palembang. Toko Electronic City tersebar di empat pulau besar (Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi), berada di 15 dari 34 provinsi dan 22 kota di Indonesia. Target perseroan sampai akhir tahun 2014 adalah membuka 11 toko baru, termasuk satu stand-alone.

Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelaporan, manajemen inventori dan laporan keuangan serta untuk mengarahkan efisiensi pelaksanaan yang fokus pada peningkatan kepuasan pelanggan (sistem CRM) pada tahun ini Electronic City melakukan investasi dalam sistem Enterprise Resources Planning (ERP), yaitu System Application and Product (SAP).

Untuk hal itu, mulai 1 November 2014 sampai beberapa bulan ke depan, sistem IT perseroan akan melakukan migrasi secara bertahap ke SAP. Electronic City akan terus memberikan kualitas produk dan pelayanan terbaik yang sejalan dengan komitmen perusahaan untuk mendorong efisiensi inventarisasi manajemen di seluruh jaringan toko.

Dengan harapan yang muncul dari pemerintahan baru, perseroan berkomitmen untuk memperluas jaringan toko untuk menembus potensi pasar yang belum dimanfaatkan pada tahun 2015 dan tahun-tahun ke depan. Electronic City Indonesia merupakan peritel elektronik di Indonesia yang berdiri sejak tahun 2001.

Saat ini, perseroan memiliki toko yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, seperti Jabodetabek, Bali, Medan, Lampung, Serang, Cilegon, Solo, Purwakarta, Jatinangor, Cimahi, Cianjur, Balikpapan, Pontianak, Pekalongan, Batam, Kendari, Ponorogo, Yogyakarta, Magelang, Palembang, dan Lombok. Electronic City menyediakan berbagai produk yang tersedia dalam empat kategori utama, antara lain Audio-video, Home appliance, Mobile devices & gadgets, serta IT & office equipment. (ant/bani)