Rekomendasi Konsolidasi Bank BUMN Disiapkan

Rabu, 05/11/2014

NERACA

Jakarta - Ikatan Bankir Indonesia mengaku tengah mempersiapkan rekomendasi rencana konsolidasi perbankan, khususnya bank-bank BUMN, kepada Presiden Joko Widodo.

"Saat ini rekomendasi untuk konsolidasi Bank BUMN sedang kami susun," kata Ketua Umum IBI, Zulkifli Zaini, saat ditemui di sela-sela pembukaan Bankers Career Expo 2014 di Jakarta, Selasa (4/11).

Dia menilai, Indonesia membutuhkan bank dengan modal kuat dan aset memadai, terlebih akan dimulainya Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 mendatang.

Dengan memiliki bank yang besar, lanjut Zulkifli, maka pemerintah juga dapat menyalurkan pembiayaan terutama di bidang infrastruktur sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Batas maksimum pemberian kredit atau BMPK dapat menjadi lebih besar karena bertambahnya permodalan bank. Zulkifli menilai, upaya konsolidasi bank-bank BUMN adalah sebuah keniscayaan untuk menciptakan bank dengan modal besar.

"Kekuatan modal itu tergambar dari jumlah modal yang besar, dengan demikian maka ujung-ujungnya dibutuhkan konsolidasi," kata Zulkifli.

Dia pun menuturkan, jika ingin merealisasikan konsolidasi, pemerintah perlu melihat dan mencermati bank-bank yang memiliki kemiripan dalam fokus bisnis dan target pasarnya, misalnya seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

"Jadi kalau misalnya kita melihat bahwa antara Mandiri dan BNI itu sangat mirip target pasarnya. Ini mungkin yang paling logis dilakukan konsolidasi atau merger kedua bank itu," ujar Zulkifli.

Merger bank-bank BUMN yang memiliki kemiripan dalam segmen pasarnya juga memudahkan sinergi dalam pengelolaan bank pelat merah tersebut nantinya; dia menambahkan upaya konsolidasi juga akan membantu bank BUMN yang memiliki dana terbatas, seperti PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk yang kinerjanya tidak terlalu menggembirakan.

"Merger dengan bank BUMN yang lebih besar, akan membantu keterbatasan dana bank tersebut," terang Zulkifli.

Ketua Umum Perbanas, Sigit Pramono mengatakan, usai bank hasil penggabungan tersebut terwujud langkah selanjutnya adalah mengakuisisi BTN dan menjadikannya sebagai anak perusahaan BNI-Mandiri yang tetap fokus pada pembiayaan perumahan rakyat. Oleh karena itu, semua portofolio kredit perumahan dari BNI maupun Mandiri diserahkan kepada BTN.

"Bank BNI-Mandiri tetap dikembangkan menjadi bank komersial yang kuat dan harus menjadi pemain besar dan tangguh di ASEAN bahkan hingga di luar ASEAN," ujar Sigit. Seiring dengan mega merger tersebut, pemerintah harus menambah modal Bank BNI-Mandiri agar lebih mampu bersaing di pasar ASEAN dengan bank-bank lain ASEAN seperti milik Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Adapun opsi lain untuk memperkuat industri perbankan, lanjut Sigit, yakni dengan menggabungkan Bank Pembangunan Daerah (BPD) milik Pemerintah Provinsi di seluruh Indonesia dengan Bank Pembangunan Infrastruktur (BPI), di mana pemerintah provinsi akan menjadi pemegang saham BPI. [ardi]