Ekspor Diperkirakan Bantu Neraca Perdagangan

Rabu, 05/11/2014

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia memperkirakan perbaikan kinerja neraca perdagangan ke depan akan didukung oleh peningkatan aktivitas ekspor seiring dengan perbaikan ekonomi global, meskipun defisit neraca migas diperkirakan masih berlanjut.

Direktur Komunikasi Bank Indonesia, Peter Jacobs di Jakarta, Selasa (4/11) mengatakan, pemulihan keseimbangan eksternal Indonesia terus berlanjut. Hal ini tercermin dari kinerja neraca perdagangan yang membaik dari defisit 0,31 miliar dolar AS pada Agustus, berkurang menjadi 0,27 miliar dolar pada September 2014.

"Bank Indonesia memandang perkembangan neraca perdagangan sampai dengan September 2014 ini akan berkontribusi positif dalam mendukung perbaikan kinerja transaksi berjalan triwulan III 2014 dan keseluruhan tahun ini," ujar Peter.

Neraca perdagangan nonmigas sendiri mencatat surplus yang lebih besar daripada bulan sebelumnya. Surplus neraca perdagangan nonmigas pada September 2014 tercatat sebesar 0,76 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan surplus pada Agustus 2014 sebesar 0,49 miliar dolar AS dan September 2013 sebesar 0,5 miliar dolar AS.

Kenaikan surplus neraca nonmigas terutama didukung oleh kenaikan ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, karet dan barang dari karet, serta produk manufaktur berupa mesin/peralatan listrik dan mesin/pesawat mekanik.

Menurut negara tujuan, peningkatan ekspor nonmigas September 2014 terutama terjadi untuk tujuan developed countries seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, Jerman, dan Perancis, serta beberapa negara emerging seperti Tiongkok, Singapura, dan Korea Selatan.

Perbaikan defisit neraca perdagangan tersebut juga tercermin pada keseluruhan triwulan III 2014 yang mengalami defisit 0,53 miliar dolar AS, turun tajam dibandingkan defisit 2,21 miliar dolar AS pada triwulan II 2014.

Di sisi lain, defisit neraca migas di triwulan ketiga mengalami peningkatan menjadi sebesar 3,5 miliar dolar AS dari 2,99 miliar dolar AS di triwulan II 2014.

"Bank Indonesia akan terus mencermati risiko global dan domestik yang dapat mempengaruhi prospek defisit transaksi berjalan dan ketahanan eksternal," tukas Peter. [ardi]