Harga Komoditas Turun, Target Ekspor Sulit Tercapai

NERACA

Jakarta – Lantaran beberapa harga komoditas ekspor mengalami penurunan, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Nus Nuzulia menyatakan rasa pesimisnya untuk mencapai target ekspor nasional sebesar US$180 miliar. “Ini agak sulit ya, karena kan ada 8 komoditi yang mengalami penurunan harga seperti CPO kemudian ruber,” ungkap Nus di Jakarta, Selasa (4/11).

Menurut dia, penurunan harga yang cukup tinggi khususnya dengan penurunan harga di kancah perdagangan internasional membuat target ekspor menjadi terganggu. Untuk langkah realistis yang bisa dilakukan untuk mengatasi ini adalah, dengan melakukan koordinasi dengan beberapa kementerian terkait khususnya yang bisa mendongkrak komoditi penting penunjang ekspor. “Seperti tadi arahan dari Pak Menteri, kita harus melakukan koordinasi. Yang kita lihat potensi dari tambak kita yaitu udang,” ujar dia lagi.

Nus juga melihat, udang Indonesia baru mencapai sebesar US$ 1,1 miliar. Karena adanya ilegal fishing yang dilakukan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. “Ikan juga mengalami penurunan cukup tinggi dan maka itu kita koordinasi dengan kementrian KKP supaya ikan ini diperhatikan sehingga ekspor ke negara tujuan membaik,” tandas dia.

Sebelumnya, Mantan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi menyatakan kinerja ekspor nasional aka sulit mencapai target. Hal ini jika berkaca dari laporan Kantor Statistik Federal atau Federal Statistics Office (FSO) yang mengumumkan bahwa ekspor Jerman pada Agustus 2014 terkontraksi hingga 5,8%.

Dia menjelaskan, dalam laporan bulanannya, FSO mencatat data surplus perdagangan Jerman pada Agustus 2014 mengalami penurunan dari bulan sebelumnya yang sebesar € 22,2 miliar menjadi € 17,5 miliar. “Saya rasa itu adalah bagian dari kondisi global market ya, seluruh global market dunia. Pak Menteri telah memberikan sinyal dan kita semua memberikan sinyal bahwa kita akan merevisi target ekspor kita karena situasi itu (surplus perdagangan Jerman turun)," ujarnya.

Kondisi perdagangan Jerman memberikan dampak pada Indonesia lantaran negara tersebut merupakan salah satu pilar ekonomi Eropa dan manjadi negara tujuan ekspor Indonesia yang potensial. “Jerman kan tadi bagian utama dari Eropa. dan Eropa kemarin sudah aagak menggeliat, dan sekarang terpaksa harus turun lagi. Dan kita harus lihat lagi. eropa masih tetap salah satu target ekspor kita yang besar. Kita lihatlah nanti, secara keseluruhan kita melihatnya nanti bagaimana revisi dari target ekspor. minggu depan lah,” jelasnya.

Namun, Bayu menyatakan bahwa pihaknya masih akan menunggu sejauh mana dampak kondisi Jerman tersebut terhadap Indonesia secara keseluruhan, serta bagaimana kinerja ekspor Indonesia kedepannya. “Kalau Jerman sudah kena memang jadi agak lebih berat. Tapi kami masih menghitung bagaimana keseluruhan dampaknya,” lanjut dia.

Bayu juga menyatakan jika koreksi target ekspor nantinya kembali dilakukan, diharapkan juga dapat memberikan ruang bagi pemerintahan baru untuk memperbaiki struktur perdagangan Indonesia. “Jadi kita lihat memang harus dikoreksi, nanti kita akan lihat posisi itu. Minggu depan akan kita umumkan resminya angkanya dan dengan demikian pada minggu berikutnya, pada saat kabinet dilantik itu akan ada kesempatan untuk membuat kebijakan baru,” tandasnya.

Seperti diketahui, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menurunkan target ekspor nonmigas menjadi US$150 miliar-US$152 miliar pada 2014. Sebelumnya, target ekspor nonmigas dibidik US$155 miliar-US$160 miliar. Revisi target ekspor nonmigas disebabkan World Trade Organization (WTO) merevisi target pertumbuhan perdagangan dunia pada 2014 dari 4,7% menjadi 3,1% akibat kondisi ekonomi global di beberapa kawasan yang melemah.

Selain itu, harga komoditi ekspor Indonesia pada Agustus, termasuk komoditi energi dan pertanian, rata-rata menurun 3,2%. Secara keseluruhan target ekspor 2014 dipangkas dari US$190 miliar menjadi US$180,5 miliar.

Related posts