Permata Tak Batasi Pembiayaan Fesyen

Produk KTA Bisnis

Rabu, 05/11/2014

NERACA

Jakarta - PT Bank Permata Tbk menargetkan pembiayaan untuk industri fesyen dapat tumbuh lebih dari 300% pada 2015, melalui produk Kredit Tanpa Agunan Bisnis.

Head Program Development Business Installment Loan Bank Permata, Aditya Cipta Harsono di Jakarta, Selasa (4/11), mengatakan peluang pembiayaan industri kreatif, terutama untuk industri fesyen, pada tahun depan sangat terbuka lebar, karena lebih dari 50% pengusaha fesyen belum memiliki akses pembiayaan dari bank.

"Tidak hanya dua kali lipat, tapi bisa saja jadi tiga kali lipat. Kami tidak akan batasi pembiayaan ini," ujar Aditya.

Ada pun pembiayaan yang telah dikucurkan oleh Permata sepanjang 2014 untuk industri fesyen masih berkisar Rp52 miliar.

Aditya mengungkapkan rata-rata pembiayaan yang dikucurkan untuk debitur dari industri fesyen berkisar Rp600-Rp900 juta. KTA Bisnis Permata memfasilitasi pinjaman mulai Rp100 juta-Rp1,5 milliar, dan diklaim waktu pencairan pinjaman paling lama lima hari.

"Dua hari juga bisa selesai, jika syarat-syaratnya telah terpenuhi," ujarnya, seraya menambahkan, tenor pinjamannya mencapai tiga tahun.

Relatif kecil Menurut dia, meskipun sudah beberapa tahun berjalan, kontribusi pembiayaan fesyen ke KTA Bisnis masih relatif kecil, berkisar di empat sampai enam persen. Namun, jika dibandingkan secara tahunan, Aditya mengatakan pertumbuhannya cukup baik dan di atas lini pinjaman kredit lainnya.

Sementara Head of Business Installment Loan Bank Permata Hasan menambahkan, meskipun bergerak di sektor Usaha Kecil dan Menengah, rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) masih aman dan terkendali.

Hasan enggan menyebut berapa besaran NPL untuk pembiayaan industri fesyen. Dia lantas hanya mengatakan mitigasi risiko untuk pembiayaan industri fesyen telah dilakukan seketat mungkin.

Bank Permata menetapkan syarat pengusaha bidang fesyen jika ingin mendapat KTA bisnis, harus memiliki usaha yang telah berjalan minimal tiga tahun. Kemudian, omzet usaha minimal Rp90 juta per bulan.

"Para pengusaha juga tentunya harus punya pengalaman di perbankan," tandas Hasan. [ardi]