Kinerja Jeblok, Pendapatan Bersih KS Anjlok

Bukukan Rugi Capai US$ 117,47 Juta

Rabu, 05/11/2014

NERACA

Jakarta – Performance kinerja keuangan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) terus anjlok. Pasalnya, sepanjang tahun ini bukannya untung yang didapat malah buntung. Padahal, ekspansi bisnis perseroan terus menggurita dengan banyak membangun pabrik-pabrik baru.

Tengok saja laporan keuangan perseroan masih mengalami kerugian sebesar 11 kali lipat atau setara 1.064,52% menjadi US$ 117,47 juta di kuartal III/2014, dibanding periode yang sama sebelumnya yang hanya mencapai US$ 10,09 juta. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (4/11).

Disebutkan, kerugian yang dialami perseroan dikarenakan pendapatan bersih mengalami penurunan, banyaknya beban dan berkurangnya laba selisih kurs. Pendapatan perseroan mengalami penurunan dari sebesar US$ 1,57 miliar menjadi US$ 1,36 miliar di sembilan bulan pada tahun ini. Adapun, beban pokok pendapatan mengalami penurunan menjadi US$ 1,33 miliar, dari posisi sebelumnya sebesar US$ 1,48 miliar.

Selanjutnya, beban umum dan administrasi naik menjadi US$ 86,88 juta, dari posisi US$ 71,70 juta dan beban lain-lain menjadi US$ 2,48 juta, dari posisi sebesar US$ 1,14 juta di kuartal III/2013. Sementara itu, total aset perseroan di kuartal III/2014 mencapai US$ 2,60 miliar dengan total utang sebesar US$ 1,66 juta. Posisi total aset tahun ini mengalami peningkatan, jika dibanding periode sebelumnya sebesar US$ 2,38 miliar dengan total utang US$ 1,33 juta.

Pada saat penutupan perdagangan Senin (3/11), saham KRAS mengalami penurunan 5 poin (1,05%) menjadi Rp471 per lembar saham. Guna meningkatkan daya saing, Krakatau Steel akan mengoptimalkan pembangunan pabrik Blast Furnace dan pembangkit listrik berteknologi Combined Cycle (Combined Cycle Power Plant/CCPP) berkapasitas 120 MW,”Pabrik Blast Furnace akan mampu menurunkan beban konsumsi listrik hingga 50 persen dibandingkan pola konvensional yang dilakukan sekarang," kata Direktur Utama PT Krakatau Steel, Irvan K Hakim.

Pabrik Blast Furnace tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan 2015, sementara CCPP berkapasitas 120 MW, ditargetkan selesai pada akhir 2014. Menurut Irvan, beroperasinya pabrik Blast Furnance dan CCPP diharapkan beban biaya perusahaan dapat menurun sehingga berimbas pada peningkatan laba.

Dia menjelaskan, pabrik blast furnace mengadopsi teknologi berbasis batubara dengan proses yang lebih efisien, sehingga menurunkan biaya produksi baja cair dan slab, meningkatkan marjin laba, dan menciptakan keseimbangan kapasitas produksi iron making, steel making & rolling mill,”Keberadaan pabrik blast furnace tersebut dapat menurunkan konsumsi energi listrik dalam proses pembuatan baja slab," ujar Irvan.

Berdasarkan perhitungan, setiap 100 kwh/ton penurunan konsumsi listrik akan berimbas pada penurunan beban biaya produksi hingga 10 dolar AS/ton dengan tarif listrik terbaru. Hal tersebut terbukti di beberapa pabrik baja lain yang menggunakan Hot metal di dalam proses Electric Arc Furnace (EAF).

Hingga kuartal III-2014, proses pembangunan fisik pabrik blast furnace sudah mencapai 62,4% dan diharapkan bisa mencapai 100% pada kuartal III-2015,”Upaya meningkatkan daya saing biaya yang dilakukan melalui pembangunan pabrik blast furnace berteknologi batu bara ini diharapkan akan semakin membuat kinerja produksi lebih efisien," kata Irvan. (bani)