Salah Ambil Kebijakan, Rupiah Makin Tergerus

Rabu, 05/11/2014

NERACA

Jakarta - Ekonom Raden Pardede menilai jika pemerintah salah mengambil respon kebijakan dalam mengantisipasi tantangan ekonomi global pada 2015, maka kurs rupiah dapat melemah hingga Rp13 ribu, atau jauh meninggalkan perkiraan pemerintah di APBN 2015 sebesar Rp11.900/dolar.

Pemerintah dan Bank Indonesia perlu menggunakan bauran kebijakan moneter, fiskal, dan juga struktural, agar tantangan global, yakni normalisasi ekonomi Amerika Serikat dan pemulihan negara-negara maju lainnya, tidak membuat rupiah terpuruk.

"Kita cenderung bergantung pada moneter. Harusnya ada stabilisasi dari kebijakan moneter, dan ada campuran kebijakan," ujar Pardede di Jakarta, kemarin.

Saat ini, menurut dia, Indonesia berada dalam fase ekonomi menghadapi tantangan hebat di depan, atau yang dia analogikan sebagai "angin kencang".

Angin ini datang setelah di 2008, Indonesia mendapat "angin sejuk" yang membuat roda perekonomian melaju. Pada 2008, Indonesia mendapat berkah setelah AS menggelontorkan stimulus, dan juga harga komoditas global yang melambung.

Sedangkan pada 2015, kata Pardede, "angin kencang" itu utamanya akan dihembuskan oleh paket normalisasi kebijakan ekonomi AS, yakni penghentian gelontoran stimulus, dan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS.

Ilustrasinya, jika Bank Sentral AS menaikkan suku bunga dari 0,25% sesuai skenario awal hingga 1,375%, maka investor yang menanamkan modalnya di Indonesia akan memindahkannya ke Negeri Paman Sam.

Dengan begitu, imbuh dia, cadangan devisa Indonesia akan terkuras, karena tertekan oleh permintaan dolar AS yang masih dibutuhkan untuk impor.

"Sehingga kurs rupiah akan terus melemah," terang Pardede.

Selain AS, negara-negara maju lainnya, juga mulai menunjukkan pemulihan ekonomi, meskipun belum begitu stabil.

Dia menuturkan, bauran kebijakan diperlukan, agar dari sisi moneter, rupiah dapat terus kuat, dan dalam sisi fiskal serta kebijakan, negara memiliki Anggaran yang kebal, dari tekanan-tekanan.

Salah satu caranya, sumber pembiayaan untuk defisit Anggaran dan program pemerintah misalnya, harus diupayakan berasal dari dalam negeri, dengan diversifikasi pasar keuangan.

"Perlu ada protokol manajemen krisis memang," tambahnya.

Dengan berbagai upaya pemerintah dan otoritas moneter, Pardede masih memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di 2015 berada pada rentang Rp 12.200-Rp 12.700 per dolar AS.

Namun dirinya menyayangkan terlenanya Indonesia ketika gejala positif dari melambungnya harga komoditas pada 2008. Iklim positif itu, tidak ditindaklanjuti dengan upaya penguatan industri manufaktur untuk menguatkan barang bernilai tambah.

"Kita tidak menggenjot ekspor manufaktur, terlena sama 'booming' komoditas. Tapi penyesalan memang selalu datang terlambat," ucapnya.

Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional 2009-2014 ini memaparkan beberapa proyeksi ekonomi makro di 2015, antara lain, pertumbuhan ekonomi berkisar 5,2%-5,5%, setelah subsidi BBM dikurangi.

Sementara, dampak kenaikan harga BBM membuat inflasi berada di level 6,5%-7,5%. Kenaikan harga BBM juga akan mendorong suku bunga acuan Bank Indonesia di level 7,5%-8,5% serta penurunan defisit transaksi berjalan menjadi 2,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB). [ardi]