Kemendag: Ekspor Non Migas Indonesia Terus Tumbuh

Rabu, 05/11/2014

NERACA

Jakarta - Kinerja ekspor bulan September 2014 mengalami penguatan signifikan,. Pasalnya ekspor mengalami peningkatan sebesar 5,5% atau mencapai US$ 15,3 miliar dibanding bulan sebelumnya (MoM). Hal ini didorong oleh peningkatan ekspor nonmigas yang mencapai US$ 12,7 miliar atau naik 6,5% (MoM).

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengatakan bahwa penguatan kinerja ekspor nonmigas bulan September diperkirakan akan terus berlanjut mengarah ke pertumbuhan positif di akhir tahun ini. “Pertumbuhan ekspor nonmigas menguat dibanding bulan lalu yang hanya naik 2,1%. Hal ini menunjukkan optimisme perbaikan ekspor di akhir tahun,” katanya di Jakarta, Selasa (4/11).

Secara kumulatif, neraca perdagangan nonmigas September 2014 mengalami surplus mencapai US$ 758,8 juta, meningkat dari bulan sebelumnya sebesar US$ 489,6 juta. Peningkatan ekspor juga diikuti oleh peningkatan impor, terutama impor migas yang tumbuh 7,4% meski defisit sebesar US$ 1,0 miliar, sehingga neraca perdagangan nasional di bulan September 2014 mengalami defisit sebesar US$ 270,2 juta.

Nilai ekspor nonmigas mencapai US$ 12,7 miliar atau naik 6,5% (MoM) dan 2,9% (YoY), sementara ekspor migas mencapai US$ 2,6 miliar atau naik 0,9% (MoM) dan 8,6% (YoY). Beberapa komoditas ekspor nonmigas yang mengalami peningkatan, antara lain bijih, kerak, dan abu logam; perhiasan/permata; dan kayu dan barang dari kayu dengan kenaikan masing-masing sebesar 57,8%; 25,8%; dan 21,1% (MoM). Produk manufaktur yang juga mengalami peningkatan ekspor adalah mesin-mesin/pesawat mekanik yang naik 11,1%; barang-barang rajutan 16,5%; dan pakaian jadi bukan rajutan yang tumbuh 14,2%.

Ekspor ke emerging market meningkat signifikan di bulan September 2014, yaitu Australia (49,0% MoM dan 32,1% YoY), Pakistan (19,7% MoM dan 126,8% YoY), Arab Saudi (4,7% MoM dan 31,9% YoY), dan Uni Emirat Arab (4,4% MoM dan 40,1% YoY). Selama Januari-September 2014, nilai ekspor mencapai US$ 132,7 miliar, mengalami penurunan sebesar 0,9% (YoY), terdiri dari ekspor migas sebesar US$ 23,4 miliar (turun 1,4%) dan ekspor nonmigas US$ 109,3 miliar (turun 0,8%).

Pada September 2014, total impor mengalami peningkatan 5,1% (MoM) dan 0,2% (YoY) menjadi USD 15,5 miliar. Peningkatan impor tersebut dipicu oleh naiknya impor migas sebesar 7,4% MoM meskipun turun 1,7% YoY; sedangkan impor nonmigas hanya naik sebesar 4,4% MoM dan 0,8% YoY.

Impor di bulan September masih didominasi oleh bahan baku/penolong dan barang modal yang masing-masing memiliki pangsa 75,6% dan 16,9%. Seluruh impor jenis barang meningkat dibanding bulan lalu, dimana impor bahan baku/penolong dan barang modal mengalami peningkatan masing- masing sebesar 5,6% dan 4,9% di bulan September 2014. Sementara impor barang konsumsi hanya naik 0,3% dibanding bulan sebelumnya (MoM).

Komoditas impor yang naik signifikan di bulan September 2014 antara lain gandum-ganduman yang tumbuh 39,0% MoM dan 58,1% YoY; bubur kayu/pulp naik 59,1% MoM dan 10,5% YoY yang merupakan bahan baku penolong; serta susu, mentega, dan telur naik 26,6% MoM dan 15,0% YoY yang merupakan barang konsumsi. Secara kumulatif, impor Januari-September 2014 mencapai US$ 134,4 miliar, atau turun sebesar 4,3% YoY, terdiri dari impor migas sebesar USD 33,0 miliar (turun 1,8%) dan impor nonmigas USD 101,4 miliar (turun 5,0%).

Sementara itu, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Nus Nuzulia Ishak mengatakan, ada beberapa komoditi seperti CPO, chemical dan lainnya dapat mendorong ekspor. “Melihat ada beberapa komoditi yang cukup bagus, sebagai contoh adalah CPO kemudian Chemicel, food dan perhiasan. Ini akan mendorong ekspor kita untuk ke depannya," ujarnya.

Nus mengungkapkan, ada delapan komoditi yang akan menjadi andalan Indonesia dalam peningkatan ekspor ini. Mengingat Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin menyampaikan bahwa ekspor Indonesia mengalami peningkatan. “Maksud saya, delapan komoditi ini saya percaya bisa membuat defisit kita tidak jelek, lebih melandai lagi hingga akhir tahun paling tidak,” ujar dia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor non migas Indonesia pada periode Januari-September 2014 mengalami penurunan sebesar 0,81% menjadi US$ 109,3 miliar dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 110,2 miliar.

Penurunan nilai ekspor non-migas tersebut disebabkan oleh berkurangnya jumlah ekspor tiga jenis golongan barang dari total 10 golongan barang yang di survey BPS, yaitu karet dan barang dari karet yang turun sebesar 21,51%, bahan bakar mineral 12,97%, serta mesin/peralatan listrik yang turun 7,23%. “Sepanjang Januari-September 2014, Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$ 12.581,2 juta diikuti Amerika Serikat sebesar US$ 11.869 juta, dan Jepang sebesar US$ 10.714,2 juta," ujar Kepala BPS, Suryamin.