Plt Dirut Pertamina Tidak Percaya

KEPERCAYAAN PUBLIK MENURUN

Selasa, 04/11/2014

Jakarta – Plt Dirut PT Pertamina (Persero) M. Husen menyatakan tidak percaya cadangan minyak Indonesia akan habis dalam 12 tahun lagi, bahkan dia yakin minyak di negeriini masih banyak sekali. Sementara hasil survei bankir asing mengungkapkan keyakinan konsumen Indonesia mulai menurun terkait informasi rencana kenaikan harga BBM.

NERACA

"Saya ini dari Hulu Migas, tugasnya menaikkan produksi. Saya geologis, saya tahu persis cadangan minyak masih banyak di Indonesia, segera lakukan eksplorasi," ujar Husen di depan para pegawainya, di Kantor Pertamina Pusat, seperti disiarkan sebuah media online di Jakarta, Senin (3/11)

Husen menargetkan, Indonesia harus bisa segera swasembada energi seperti dulu ketika produksi minyaknya 1,6 juta barel per hari, dan konsumsinya hanya 800.000 barel per hari.

"Untuk bisa swasembada energi, kita harus menaikkan produksi minyak. Minyak kita masih banyak, kedua kita masif lakukan konversi BBM ke BBG, itu akan mengurangi konsumsi BBM, geothermal kita punya banyak baru 4% yang dimanfaatkan, PLTP Kamojang sudah beroperasi kita punya ilmu, pengalaman, dan teknologi kita harus masif manfaatkan," ujarnya. .

Husen menambahkan, Pertamina saat ini juga melakukan peremajaan kilang-kilang minyaknya, sehingga kapasitas pengolahan minyak menjadi lebih besar.

"Ini akan mengurangi impor BBM, kita juga harus segera bangun kilang minyak. Itu semua PR (pekerjaan rumah) kita semua. Kalau nggak Pertamina ke mana lagi negara ini berharap? Kalau bukan Pertamina siapa lagi? Kita saja perusahaan satu-satunya yang produksi minyaknya tidak turun, yang lain seperti Chevron turun, walaupun nggak naik juga cita-citanya naik 11%, tapi kita tidak boleh berpuas diri," ujarnya.

Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengatakan, sumber minyak Indonesia hanya cukup untuk 12 tahun lagi. Menurut dia, jika negara tidak melakukan tindakan, maka dalam waktu 12 tahun lagi akan krisis minyak bumi di Indonesia. Hal yang bisa dilakukan adalah melakukan penambahan eksplorasi di dalam negeri.

"Sumber minyak kita tinggal untuk 12 tahun. 12 tahun itu juga kalau kita nggak melakukan eksplorasi," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said saat diskusi "Mimpikah Kedaulatan Energi?", Sabtu (1/11).

Meski eksplorasi menjadi solusi untuk menghindari krisis energi, dalam pelaksanaannya menurut Sudirman sulit. Pasalnya sumber minyak tempatnya bergeser ke Indonesia Timur dan itupun berada di laut dalam sampai ke paling dalam.

Direktur Eksekutif Indonesia Resourses Studies (IRESS), Marwan Batubara mengatakan Indonesia tidak kaya minyak lagi, karena cadangan minyaknya hanya 0,2% dari total cadangan minyak dunia. Kilang Indonesia hanya mampu menghasilkan sekitar 825 ribu barel minyak mentah per hari dan hanya menghasilkan 75% Bahan Bakar Minyak (BBM). Oleh karenanya, pernyataan Menteri ESDM bisa dikatakan valid atas ancaman krisis minyak bumi pada 12 tahun mendatang, bahkan diperkirakan cadangan minyak akan habis 11 tahun lagi.

"Maka diperkirakan cadangan minyak akan habis dalam 11 tahun jika tidak ada temuan sumber baru. Oleh karenanya, pemerintah Indonesia harus menemukan cadangan minyak baru," ujarnya kepada Neraca, kemarin.

Marwan menambahkan defisitnya kebutuhan BBM dalam negeri yang sebesar 608 ribu kiloliter membuat Indonesia harus melakukan impor BBM guna memenuhi pasokan dalam negeri. Indonesia diketahui memiliki kapasitas kilang sebesar 1,157 juta kiloliter sementara konsumsi nasional sebanyak 1,257 juta kiloliter per harinya. Ditambah kemampuan produksi dalam negeri hanya mampu sebesar 684 ribu kiloliter.

Wakil Direktur Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menyatakan hal yang sama. Menurut dia, dalam 12 tahun ke depan, Indonesia akan habis cadangan minyak. Hal ini jika pemerintah tidak dapat menemukan cadangan minyak yang baru. Pasalnya, konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia terus meningkat. “Cadangan minyak di Indonesia kian hari menipis akibat konsumsi BBM terus meningkat. Saat ini cadangan minyak kita hanya 3,7 miliar barel dan angka tersebut hanya 0,3% dari cadangan minyak global,” tutur dia.

Simpang Siur Informasi

Secara terpisah, bankir asing menilai keyakinan konsumen Indonesia terhadap situasi ekonomi pada Oktober 2014 turun dibandingkan bulan sebelumnya. Ini tidak lepas dari perkembangan politik yang dinilai kurang kondusif dan rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.

Hasil survei yang dirilis ANZ-Roy Morgan tersebut, menungkapkan pada Oktober 2014, indeks keyakinan konsumen tercatat 158,1. Turun 3,1 poin dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi masih 9,1 poin lebih baik dibandingkan Oktober 2013.

Menurut ANZ Chief Economist South Asia, ASEAN & Pacific Glenn Maguire, manuver-manuver politik yang meresahkan dan kemungkinan kenaikan harga BBM dalam waktu dekat menjadi pikiran konsumen Indonesia.

Selain faktor politik, ANZ-Roy Morgan juga menemukan fakta bahwa keyakinan konsumen menurun akibat rencana kenaikan harga BBM. "Prospek terjadinya kenaikan harga BBM juga mempengaruhi keyakinan. Kenaikan harga ini tentunya akan mempengaruhi secara signifikan," kata Maguire.

Secara historis, tambah Maguire, keyakinan konsumen memang cenderung turun kala ada kenaikan harga BBM. "Kami catat bahwa keyakinan konsumen juga turun cukup tajam pada kurun waktu Juni-Juli 2013, setelah kenaikan harga BBM sebesar 44%. Ini merupakan kenaikan pertama dalam 5 tahun," sebutnya.

Dengan kenaikan harga BBM yang semakin pasti terjadi dalam waktu dekat, demikian Maguire, keyakinan konsumen tentunya akan turun. Ini terlihat dari masyarakat Indonesia yang kurang optimistis mengenai prospek ekonomi secara keseluruhan.

Kesimpangsiuran informasi rencana kenaikan harga BBM bersubsidi memang berasal dari pemerintah. Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan bahwa pemerintah akan segera menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Kalla menegaskan, kenaikan harga BBM akan terjadi pada bulan November ini. "Pokoknya bulan ini," kata Kalla, di Kantor Wakil Presiden, kemarin.

Kalla menjelaskan, pemerintah harus menaikkan harga BBM untuk mengalihkan subsidi ke sektor yang lebih produktif. Ia menuturkan, pemerintah masih akan mencari waktu tepatnya sambil menunggu tersebarnya Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Sebelumnya Menko Perekonomian Sofjan Djalil mengatakan bahwa pemerintah akan menaikkan harga BBM sebelum 1 Januari 2015. agus/bari/mohar