Investor Asing Siap Menyerap IPO BUMN

Pilihan Investasi Pasar Modal

Selasa, 04/11/2014

NERACA

Jakarta – Kehadarian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih menjadi daya tarik bagi pelaku industri pasar modal, termasuk investor asing. Pasalnya, sepanjang tahun ini belum banyak BUMN yang mencatatkan sahamnya di pasar modal melalui mekanisme penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).

Menurut seorang investor dari Quvat Capital, Thomas Lembong, investor akan masuk lewat skema tercepat yaitu malalui pasar modal. Tom mengakui, banyak investor yang begitu berminat menyerap saham-saham BUMN,”Peluang besar buat pemerintah kalau mau IPO-kan lagi atau rights issue besar dari BUMN. Jadi itu banyak investor yang minat,”ujarnya di Jakarta, Senin (3/10).

Dia menjelaskan, tingginya minat ini karena investasi melalui pasar modal dianggap sebagai cara paling cepat untuk menyalurkan dana investasi lantaran langsung diterima oleh pelaku pembangunan dalam hal ini BUMN. Sehingga, lanjut dia, bila perusahaan-perusahaan pelat merah tersebut dapat melantai di bursa saham maka akan lebih mudah bagi investor untuk mengarahkan dananya,”Kalau tunggu membangun infrastruktur butuh waktu, membangun pabrik butuh waktu. Tapi kalau BUMN bisa IPO atau rights issue, investor nafsunya cukup besar dan dapat diserap dengan cepat. Cepat dieksekusi,”tandasnya.

Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan pernah bilang, banyak perusahaan BUMN yang sebenarnya potensial masuk bursa lewat mekanisme IPO pada tahun ini. Namun, karena ketatnya birokrasi, tahun ini IPO BUMN cuma terjadi sekali, yakni terakhir kali pada Wika Beton. Itupun cuma sekelas anak usaha BUMN,”Ya seperti kita tahu untuk IPO di Indonesia harus lewat DPR. Itu yang menentukan apakah BUMN harus IPO atau tidak,” katanya.

Sementara itu, pada tahun depan, IPO BUMN bisa marak kembali, namun melihat siapa Menteri BUMN-nya nanti. MenurutHariyajid, paling tidak saat ini ada 30 BUMN yang benar-benar potensial untuk IPO. Setidaknya ada beberapa BUMN yang gagal IPO tahun ini, yakni PT Garuda Maintenance Facilities, PT PLN Batam, dan PT Perkebunan Nusantara VII. Kendati demikian, tidak lantas membuat rencana tersebut benar-benar terhenti. Ketiga BUMN ini kemungkinan besar berpotensi melakukan IPO pada 2015 ditambah beberapa BUMN yang rencanakan IPO tahun depan seperti PT Phapros Tbk dan Jiwasraya.

Kata Haryajid, Indonesia harus melihat negara China dengan bursa Shanghai. Disana perusahaan BUMN harus ngantri untuk bisa mencatatkan saham di bursa Shanghai. Bahkan, tahun depan ada sebanyak 300 BUMN yang waiting list atau masuk daftar tunggu untuk masuk bursa. “Di 2015 ada 500 perusahaan yang waiting list masuk bursa Shanghai. 300 di antaranya merupakan BUMN,” jelasnya.

Seperti diketahui, total emiten di Bursa Shanghai saat ini telah mencapai 900-an. Jumlah ini tentu jauh dari bursa Indonesia yang cuma terdapat 500-an emiten. Dengan banyaknya BUMN yang masuk pasar modal, Haryajid berharap jumlah emiten di BEI akan bertambah banyak, sehingga semakin banyak pula pilihan investasi di bursa. (bani)