Kemenperin Sosialisasikan Teknologi Pengolah Pangan ke IKM

Sambut Pasar Bebas ASEAN

Selasa, 04/11/2014

NERACA

Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus meningkatkan inovasi teknologi, khususnya pada Industri Kecil dan Menengah (IKM) dalam rangka menyambut Pasar Bebas ASEAN (ASEAN Economic Community) yang bakal mulai aktif berlaku mulai 2015 mendatang. Itu sebabnya, Kemenperin melakukan sosialisasi hasil inovasi teknologi berupa mesin pengolah pangan Retort.

“Strategi memasuki pasar ASEAN adalah menguatkan kemampuan inovasi teknologi kepada IKM. Karena itu kegiatan sosialisasi inovasi teknologi diperlukan bagi peningkatan kemampuan IKM pangan termasuk mesin pengolah pangan Retort,” kata Direktur Industri Kecil dan Menengah Wilayah II Roy Sianipar kepada Neraca pada acara Sosialisasi Inovasi Teknologi Mesin Pengolah Pangan Retort, Senin (3/11).

Roy menjelaskan, mesin pengolah pangan Retort adalah mesin yang memiliki teknologi "Retort Pouch" yang memungkinkan disimpannya makanan hasil pemrosesan pada temperatur ruang. Mesin Retort sudah diperdagangkan lebih dari 40 tahun yang lalu. Berbagai jenis makanan Retort sudah dikenal di Jepang. Seiring dengan perkembangan teknologi memasak dan mesin memasak, teknologi Retort Pouch telah diterapkan pada hampir semua makanan yang dimasak.

“Menghadapi pasar Eropa dan Pasar Tunggal ASEAN telah membuat cemas lKM kita khususnya yang produksinya menjadi andalan ekspor negara anggota pasar tunggal. Langkah yang terpenting adalah meningkatkan daya saing dan produktivitas lokal serta meningkatkan kemamapuan inovasi teknologi,” lanjut Roy.

Apakah mesin pengolah Retort dapat diterapkan di Indonesia khususnya bagi IKM? Roy menjelaskan, IKM Pangan di Indonesia jumlahnya hampir satu Juta unit usaha yang tersebar di seluruh tanah air. Sebagian besar IKM tinggal di daerah pedesaan. Karena teknologi Retort Pouch dapat membuat makanan yang dimasak keberbagai daerah yang lebih luas, dan karena tidak memerlukan penyimpanan yang dingin, maka teknologi ini berpotensi digunakan sebagai langkah untuk mendapatkan penghasilan bagi IKM di pedesaan dengan mengemas dan menjual makanan setempat. Oleh karena itu, menurut dia, teknologi retort tampaknya akan sangat cocok dengan kondisi IKIM di tanah air.

“Sebagai langkah pertama untuk memanfaatkan teknologi Retort Pouch, tambah Roy, perlu dilakukan penilaian apakan makanan konvensional Indonesia cocok untuk Retort Pouch, dan apakah makanan di Retort Pouch dapat diterima oleh masyarakat Indonesia,” ungkap Roy.

Roy menjelaskan, manfaat teknologi Retort adalah, pertama, IKM yang ada di perkotaan dapat menikmati berbagai makanan pilihan, termasuk makanan tradisional Indonesia. Kedua, makanan retort efisien karena menghemat energi dan mengurangi limbah makanan di daerah perkotaan. Ketiga, makanan Retort yang dapat disimpan pada temperatur ruang sehingga dapat mencegah terjadinya keracunan makanan.

Hibah dari Jepang

Lebih jauh Roy mengatakan, mesin pengolahan berteknologi Retort adalah Hibah dari Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) yang bekerjasama dengan Samson. Co, Ltd. Hibah ini berdasarkan Perjanijian kerjasama antara JICA dengan Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Memengah (DJ-IKM) Kementerian Perindustrian dan juga Samson Co.Ltd tertanggal 18 Desember 2013.

Perjanjian kerjasama ini ditandatangani oleh Mr. Sasaki Atsushi, kepala perwakilan JICA Indonesia Office, Mr Tadashi Komamatsu, The Tokyo Office Sub Manager East-Japan Sales Departmen Business Headquarters Samson, Co.Ltd. serta Euis Saedah Direktur Jendaral Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian.

“Mesin Retort Hibah ini dihibahkan kepada Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Kementerian Perindustrian. Saat ini Mesin penngolah pangan Teknologi Retort sudah ada di Indonesia dan ditempatkan di Unit Pelayanan Teknis(UPT) industri kerajinan di Jakarta. Saat ini mesin Retort tersebut menjadi Pilot Project Pengoperasian pada IKM pangan di Provinsi DKI Jakarta. Mesin Retort tersebut telah selesai dipasang dan siap untuk dioperasikan,” jelas Roy.

Adapun jenis mesin pengolah pangan Retort adalah dua jacket steamcooker EK.70/12 SJ, kapasitas kurang lebih 125 Liter, Vacuum Pressure Inclined shaft kneader GNP-6SVt' kapasitas kurang Ibih 50 Liter, Inclined shaft kneader GN70/20S kapasitas kurang lebih 200 Liter' Vacuum cooler(pendingin) SVC-50RS, kapasitas 50 Kg/batch(untuk beras). Hal lainnya adalah tentang suku cadang mesin retort. Suku cadang akan disediakan melalui dealer di Indonesia. Harga sebuah mesin pengolah pangan Teknologi Retort bias kurang lebih 5sd 6Milyard rupiah per unit.

Mesin manufaktur makanan Retort terdiri dari mesin sterilisasi untuk memasak air panas Jetsream, yang memasak dan mensterilisasi jumlah besar sekaligus steam cooker (pemasak dengan uap), vacuum pressure cooker (pemasak hampa udara), pengaduk dan pendingin. Mesin retort ini dapat memasak makanan konvensional menjadi makanan retort yang dapat disimpan pada temperatur normal.

Di mata Roy, kegiatan sosialisasi ini dimaksudkan sebagai penyebarluasan mesin retort kepada IKM diharapkan melalui sosialisasi ini akan dapat meningkatkan kemampuan IKM di bidang pengolahan pangan berbasis teknologi retort. Adapun kegiatan lainnya adalah uji coba mesin teknologi Retort dan pemilihan makanan yang akan di retort pack, uji coba makanan Retort dan penegasan atas kebutuhan mengenai makanan retort dan manufakturnya, publisitas dan promosi serta mengnalisis atas keluaran (hasil, output) dan perencanaan bisnis.

“Mau tidak mau, suka tidak suka kita hams menyongsong pasar bebas. Bila ingin unggul dalam era ini maka peningkatan kemampuan inovasi dan penguasaan teknologi merupakan kuncinya. Inovasi teknologi artinya meningkatkan temuan-temuan dan ide-ide teknologi yang kreatif, yang telah melalui uji coba dan dapat diterima pasar internasional termasuk teknologi Retort. Dan melalui hibah ini pula kita harapkan kerjasama dan perhabatan antara Jepang/JICA dan Indonesia akan semakin harmonis dan saling menguntungkan,” papar Roy.

Dia juga mengatakan, memasuki abad ke-21, inovasi teknologi berkembang dengan pesat. Bangsa yang ingin tetap eksis di dunia harus memiliki kemampuan inovasi teknologi dan mengikuti perkembangan tersebut seperti yang dikatakan oleh michael Porter dalam bukunya Globalitation and Competitiveness bahwa untuk menguasai dunia harus memiliki kemampuan inovasi teknologi dan informasi.

“Demikian pula dengan bangsa Indonesia, khususnya kondisi IKM. Untuk itu perlu langkah-langkah agar IKM mampu' meningkatkan inovasi teknologi agar mampu mensejajarkan diri dengan yang lainnya,” beber Roy.